Vote dulu yuks
Typo bertebaran
.
.
Wendy memandang sendu pada tetangga apartmennya, ada rasa sakit yang juga ikut ia rasakan ketika mendengar orang yang mulai disayanginya ini menangis.
Ia benci melihat buliran air mata itu namun juga tak cukup memiliki kuasa untuk mencegahnya agar tak menganak sungai.
Masih teringat dengan jelas olehnya malam itu, sekeluarnya dari lift ia melihat seorang gadis tengah menangis tersedu di sebrang pintu kamarnya. Lama ia terdiam memerhatikan gadis itu, semakin lama tangisan itu semakin menusuk hatinya, ia lihat gadis itu mulai memukul-mukul dadanya sendiri dan sesekali terlihat mencari oksigen disekitarnya.
Tersadar ia tak bisa tinggal diam, ia segera berlari kecil menghampiri gadis itu. Ikut mendudukkan dirinya lalu memeluknya, coba memberi ketenangan. Ia tau tangis jenis ini, tangis tanpa suara, tangis yang merupakan puncak dari segala kesakitan yang entah kenapa ia juga seketika dapat merasakan kesakitan itu. Bahkan ia sendiri tak mengerti kenapa ia harus peduli pada gadis asing ini.
Wendy terus memeluknya sampai gadis itu merasa tenang dan meronta kecil agar pelukannya dilepas. Wendy yang menyadari itu segera melepas pelukannya, lalu ia menatap gadis itu dengan pandangan lekatnya.
"Terima kasih atas pelukannya." Suaranya yang kecil nan serak membuat Wendy menajamkan pendengarannya.
"Apa? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Wendy memastikan, yang dibalas gelengan kepala oleh orang di depannya itu.
Gadis itu coba membenarkan suaranya dengan berdehem pelan, lalu mengulang apa yang telah ia katakan tadi, "Aku bilang, terima kasih pelukannya." Dengan senyuman lemah yang gadis itu berikan diakhir perkataanya.
"Aku bisa memberikannya padamu kapan saja jika kau membutuhkannya."
Tak mendapati tanggapan lagi, karna gadis di depannya itu mencoba untuk berdiri yang terlihat sangat dipaksakan agar mampu berdiri kokoh.
Wendy melakukan hal yang sama, ikut berdiri namun dengan cepat ia menangkap tubuh gadis tadi ketika akan jatuh.
"Kemarikanlah kartu kamarmu." Dengan cepat ia menerima sebuah benda persegi kecil ditangannya, Wendy sedikit heran kenapa gadis itu dengan mudahnya memberikan benda seperti ini, namun dengan cepat ia tepis ketika mendengar lenguhan lemah dari sampingnya itu.
Buru-buru ia menempelkannya dan bergegas masuk, menopang tubuh yang yang benar-benar telah kehilangan tenaganya ini.
"Warna hitam." Meski terdengar seperti bisikan, Wendy masih sangat mampu mengartikan maksudnya, maka dengan langkah yang sedikit cepat ia membuka pintu berwarna hitam yang tertutup rapat.
Setelah masuk ia langsung membaringkannya, dengan jelas sekarang ia lihat bahwa mata, hidung serta pipi gadis itu memerah. Ia dengan mudah menebak jika gadis itu sakit.
Maka malam itu Wendy mengurus tetangga apartmennya yang tidak ia kenal. Tidak ada percakapan serius setelahnya karna gadis itu sendiri langsung terlelap dan wendy memutuskan untuk menginap malam itu takut terjadi sesuatu yang lebih parah.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Wendy untuk mengetahui keseluruhan cerita hidup gadis yang bernama Kim Chaeyoung tersebut, Chaeyoung dengan lancarnya bercerita tanpa hambatan dan alasan kenapa waktu itu ia percaya saja padanya, ia sudah siap mati bahkan akan sangat berterimakasih jikalau Wendy adalah orang jahat yang berpura-pura menolongnya.
Semakin lama, Wendy semakin mengerti kesakitan yang diderita Chaeyoung- yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri- ia tak pernah lagi memberi komentar ketika didapatinya Chaeyoung menangis, justru ia akan menyuruhnya agar mengeluarkan semua kesakitan yang menggumpal didadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serene
Fanfiction4 bersaudara Ngga usah berekspektasi apa-apa. Ngga usah baca jikalau tidak mau ngevote. Oke? Oke. Ngga. Becanda.
