Medianya diplay ya
Happy reading
Jangan lupa vote dan jika berkenan silahkan tinggalkan komentarnya juga yareobun
.
.
Suasana di Rumah Sakit begitu menenganggkan. Corak rumah sakit yang berwarna putih sekarang tampak berwarna gelap, sehingga begitu menyesakkan dan menyiksa siapa saja yang berada disana.
Lisa terlihat paling berntakan disekitaran lorong panjang yang sepi nan dingin itu, baju serta badannya ditempeli oleh bercak darah Chaeyoung.
Tubung tingginya tengah berdiri mengahdap tembok dengan kepalanya yang bersandar disana, sesekali ia mengantukkanya pada beton putih pucat tersebut, berharap pikiran buruknya dapat menghilang.
Jennie keadaannya tidak berbeda jauh dengan Lisa. Sama kacaunya, hanya saja Jennie terlihat lebih bisa mengontrol dirinya, duduk pada bangku yang tersedia, menggiti kukunya dengan cemas.
Jantungnya berdetak tak karuan menunggu para Dokter keluar dari ruangan keramat itu. Jennie benar-benar dilanda kecemasan yang luar biasa, ia bahkan lupa bagaimana cara bernafas dengan normal, sedari tadi ia hanya bisa menghela nafas panjang dan berat.
Berbeda halnya dengan Jisoo, air matanya telah kering dan menyisakan jejak disana.
Jisoo sendiri lebih memilih duduk di lantai yang tak terlalu jauh dari ruangan tempat Chaeyoung berada. Ia menatap kosong pada tembok di hadapannya.
Pikirannya berantakan, ia tidak tau apakah sebenarnya ia sedang berada di alam mimpi atau nyata sekarang, jika bermimpi hatinya tidak mungkin merasakan sakit luar biasa karna hatinya terasa seperti diiris tipis-tipis dengan alat yang bernama penyesalan sekarang.
Panggilan dengan Papanya yang ia kira dapat meringankan bebannya ternyata justru malah menanmbah keterkejutannya serta lukanya.
Orang yang selama ini ia kagumi ternyata tak sehebat yang ia kira. Benih kebencian mulai tumbuh dihatinya. Andai, andai ia percaya maka kejadian ini tak akan terjadi.
.
.
.
Jika saja Kim tidak dibutakan oleh ambisinya maka sekarang ia tak seharusnya berada dijurang penyesalan. Chaeyoung kecil begitu menggemaskan. Pipinya yang berisi akan menenggelamkan matanya ketika ia tersenyum maupun saat tertawa, sayangnya itu tidak berpengaruh pada orang tuanya karna ia memiliki tubuh yang mudah sakit dan merepotkan.
Hingga pada titik takdir dimana Chaeyoung membuat pilihan pada orang tuanya yang tengah naik daun dimata pembisnis.
Tak rela sebenarnya ketika orang tuanya memilih untuk memprioritaskan namun demi menjaga citranya yang tengah naik, Kim harus merelakan kesempatan yang datang padanya.
Berdampak pada orang tua Kim sendiri yang marah besar. Kehilangan waktu serta partner yang dapat membuat bisnisnya semakin maju, termasuk juga saingan bisnisnya yang tak ingin kehilangan kesempatan untuk mencuri start. Yang terjadi selanjutnya ia membenci anaknya sendiri karna ambsinya yang sempat gagal dan juga tekanan dari luar.
Mata lelaki yang tak lagi berusia muda itu memerah, menahan semua perasaan yang tak dapat ia jabarkan entah seperti apa saat ini.
.
.
Lorong yang tadinya sepi kini dipenuhi oleh suara tangisan yang perih saling bersahutan. Suara yang membuat siapa saja akan iba bila mendengarnya.
"JANGAN BERCANDA DOKTER! KEMBALILAH MASUK DAN SELAMATKAN KEMBARANKU." Lisa berteriak sampai ia merasa tenggorokannya sakit. Namun yang Lisa dapat hanyalah sebuah gelengan lemah dari orang yang berjubah dihadapannya ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serene
Fanfic4 bersaudara Ngga usah berekspektasi apa-apa. Ngga usah baca jikalau tidak mau ngevote. Oke? Oke. Ngga. Becanda.
