Tempat ini begitu sunyi, sejauh matanya memandang ia hanya melihat beberapa orang yang keluar masuk area ini dan tak ada yang selama dirinya. Ia juga hanya diam sedari tadi menatap batu nisan yang berdiri kokoh dengan nama yang begitu dia sayangi dan dijaga sepenuh hatinya selama ini.
Matahari tak cukup terik sehingga ia masih betah berlama-lama disana, tak ada air mata yang keluar karna ia sudah lelah menangisi yang tak mungkin kembali lagi dihidupnya.
Semenjak hari itu seluruh hidupnya telah berubah.
"Aku tau kau pasti membenciku setelah hari itu," Ia menghela nafas, sakit di dadanya tiba-tiba menelusup membuat ia merasakan sesak itu kembali.
Berteriak memaki waktu yang begitu kejam terhadapnya.
"Aku tau seharusnya aku tak melakukan hal bodoh seperti ini. Tapi aku tidak bisa untuk tidak membecinya, karna seharusnya sampai detik ini kau masih bergelayut manja denganku, harusnya dia yang bersemayam di sini, bukan kau." Matanya menyiratkan kemarahan serta kebencian yang besar.
"Melihatnya.. selalu mengingatkanku dengan hari sialan itu, kau tau sejak kematianmu keluarga kita juga berubah. Mereka terlalu merasa kehilangan sampai melupakan masih ada aku yang membutuhkan bimbingan mereka. Hasilnya mereka menjadi orang yang lebih bekerja keras, selalu pulang larut malam dan pergi terlalu pagi." Ia merasakan denyutan itu semakin sakit menghantamnya. Namun ia tak ingin berhenti karna ia juga lelah memendam ini semua.
Ia hanya ingin berbagi meski ia tau hanya desiran angin yang akan menyauti.
"Mereka mengabaikanku.. tapi kau tenang saja tak mungkin aku menyalahkanmu akan hal ini. Tentu saja yang patut disalahkan ini adalah Tuan Kim, ayah dari temanmu itu. Kau tau bahkan orang yang kau selamatkan adalah orang yang ingin dibuang orang tuanya, ... tak seharusnya kau mengorbankan dirimu, karna dia sendiri tidak diinginkan kehadirannya. Kau pasti terkejutkan Yeri-ya? Keluarga mereka memang gila sampai-sampai kasus tabrak lari ini pun bisa mereka bisa tutup dengan mudah."
Wanita itu masih bergeming ditempatnya, memandang sayu rumah terkahir adiknya itu.
"Aku sadar kalau aku sangat jahat, karna nyatanya yang paling tersakiti disini adalah temanmu itu. Tapi aku memiliki alasan, hanya melalui dia aku bisa menyalurkan sakit hati dan kemarahanku atas semua ini. Melihat saudaranya terluka dan tersika emosinya karna ia selalu diam, entah kenapa aku merasakan kepuasan, melihat anak kesayangannya yang hancur pasti orang tuanya akan merasa lebih hancur juga bukan? Tunggulah sampai mereka merasakan sakitnya kehilangan."
"Kumohon jangan membenciku."
.
.
Chaeyoung sudah duduk tenang di belakang Lisa, hari ini mereka bersiap berkunjung ke makam Yeri teman Chaeyoung yang menyelematkannya waktu itu.
Baik Lisa dan Chaeyoung tidak banyak berbicara selama diperjalanan dikarenakan mereka yang menggunakan motor kesayangan Lisa, pasti suara berisik kendaraan akan berlomba-lomba dengan suara mereka untuk siapa yang menang memasuki indra pendengaran. Sehingga selama diperjalanan mereka lebih banyak membisu.
Makam ini terlihat sepi pengunjung, terlihat dari sedikitnya kendaraan yang terpakir. Lisa melepaskan helm miliknya terlebih dahulu lalu berbalik membukakan helm Chaeyoung.
Saudaranya itu sunggu payah dalam hal membuka sesuatu seperti helm dan tutup botol minuman.
"Nah sudah." Ucap Lisa sembari merapikan rambut saudaranya itu yang sedikit berantakan.
"Heum. Kau yakin akan menunggu disini?" Tanya Chaeyoung untuk memastikan sekalali lagi.
"Tentu, sudah sana. Ia pasti senang kau datang." Usir Lisa mendorong pelan tubuh ramping Chaeyoung.
"Baiklah, aku tidak akan lama." Chaeyoung mengeratkan buket bunga yang ia pegang untuk diletakkan disana nanti.
Setelah mendapti anggukan dari Lisa, Chaeyoung berjalan dimana letak peristirahatan terakhir temannya itu yang tak terlalu jauh dari tempat gerbang masuk.
Nafas Chaeyoung tiba-tiba merasa berat ketika dilihatnya kakak kelas yang paling ia hindari itu tengah memandanginya tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Semakin mendekat, Chaeyoung hanya mampu mengeratkan genggamannya pada bunga yang ia bawa, kepalanya menunduk tatkala kakak kelasnya tersebut berhenti tepat disampingnya.
"Terimakasih sudah mau menjenguk, tapi kau tau kan hal itu tidak berkurang sedikitpun." Lutut Chaeyoung terasa lemas, dadanya juga terasa sesak, ingin menangis saat itu juga. Meski pada akhirnya ia memilih untuk lebih tegar, ia tak ingin menunjukkan kesedihannya ketika mengunjungi temannya itu.
.
.
Lisa tak mengira bahwa ia akan bertemu dengan teman Seulgi yaitu Irene yang juga merupakan kakak kelasnya di sekolah, karna seulgi yang cukup dekat dengannnya ia menjadi kakak kelasnya ini, beberapa kali ia dan Seulgi mengobrol bersama.
Dalam hati Lisa sendiri bertanya-tanya makam siapa yang tengah dikunjungi kakak kelasnya tersebut karena yang ia tau Irene lumayan tertutup.
"Menemani Chaeyoung ya?" Tanyanya ketika mereka hanya berjarak beberapa langkah.
"Iya kak." Balas Lisa dengan senyuman khasnya, jujur saja ia ingin bertanya namun takut dianggap kurang sopan karna bertanya hal privasi seperti ini. Meskipun beberapa kali mereka mengobrol namun mereka tidak sedekat itu.
"Kenapa tidak ikut menemaninya?"
"Aku hanya tak mau ia memendam apa yang ingin dia sampaikan karna ada aku kak, aku tau pasti sangat banyak yang ingin dia utarakan." Jawab Lisa, sebenarnya Chaeyoung sudah menyuruhnya untuk menemaninya juga namun Lisa menolak.
"Kau sungguh perhatian Lisa, sampai kau memahami dia sangat baik, ku harap Chaeyoung juga memahami bahwa kau ada untuknya dan lebih terbuka dengannya karna itulah gunanya saudara bukan?" Lisa terdiam, seperti tertampar oleh sesuatu dengan perkataan barusan.
Melihat Lisa yang terdiam, Irene mendekat menepuk pundak adik kelasnya tersebut, ia sedikit banyak tau karna Lisa beberapa kali curhat ketika ia bersama Seulgi, "Tidak usah terlalu dipikirkan, jangan lengah untuk menjaga Chaeyoung, Lisa-ya"
"Selalu kak." Meski tak terlalu paham, Lisa menjawab dengan keyakinan penuh.
Setelahnya Irene pamit untuk pulang dengan senyum yang merekah diwajahnya sedangkan Lisa kembali bergelayut dengan pikirannya atas ucapan kakak kelasnya tersebut.
"Kenapa kau harus setertutup ini Chaeyoungie, apa kau tak percaya padaku?" Lisa mengacak rambutnya, tersulut dengan perkataan Irene tadi.
.
.
Feel free to ask and comment 😡
KAMU SEDANG MEMBACA
Serene
Fiksi Penggemar4 bersaudara Ngga usah berekspektasi apa-apa. Ngga usah baca jikalau tidak mau ngevote. Oke? Oke. Ngga. Becanda.
