Benar

842 61 1
                                        

"Bunda." Panggilku pada Ratu Paxley, ibu Gusion.

"Ah, Lesley sayang, kemana saja kau?" Tanyanya mengelus pipiku.

Sedih rasanya, apakah elusan ini palsu?

"Aku izin, akan pergi ke desa Onmyouji untuk membantu Kagura. Ia sedang ada masalah serius dan aku tidak bisa membiarkan sahabatku tertimpa masalah besar." Kataku dengan penuh harap.

Ratu hanya menatapku dalam. Aku melihat ketulusannya, tapi aku tidak mempercayai itu. Hipnotis mungkin.

"Bagaimana?" Tanyaku lagi. "Itu terlalu berbahaya. Saat ini aku tidak bisa mengirimkan prajurit untuk bertarung bersamamu." Katanya.

Tch, iya. Tidak bisa mengirimkan prajurit karena siap tempur dan mengambil alih Vance?

"Tidak masalah, aku akan kesana sendiri." Kataku.

"Aku tau permasalahan di desa Onmyouji, akan bahaya bagimu." Kata Ratu Paxley.

"Bunda, aku ini sudah besar. Bisa menjaga diri kok." Kataku tersenyum.

"Mungkin kau pergi bersama Gusion, sebentar kupanggilkan." Katanya lagi.

Aku menggenggam tangannya. "Aku tau ia sedang sibuk. Aku bisa sendiri. Terima kasih atas perhatiannya." Kataku dengan senyum. Aku sedih, tak bisa dipungkiri. Aku akan rindu hal ini.

Aku memeluk Ratu Paxley penuh harap. Aku berharap semua ini mimpi, aku berharap banyak. Tapi itu adalah hal mustahil, aku tahu.

"Bagaimana Harley?" Tanya Ratu pada akhirnya. "Kumohon, jaga dia." Kataku. Akupun pergi dari tempat itu.

Jika kuperhatikan lagi, ratu bahkan tidak menolak sama sekali. Apakah artinya ia memang ingin aku pergi menjauh.

Semua barang siap. Teriris sebenarnya hatiku. Jika ingin memilih, aku lebih baik tidak mengetahui kenyataan ini.

"Kau mau kemana?" Seseorang bertanya dari balik pintu. Ia membuka pintu perlahan. "Les?" Katanya seperti tidak percaya.

"Um.. hai." Jawabku agak gelagapan. "Kau mau pergi kemana?" Katanya tetap pada pertanyaannya. "Bukan urusanmu." Jawabku berusaha lebih dingin. Aku sudah muak dengannya.

Sejujurnya, aku memang benci, tapi tak bisa dipungkiri aku masih mencintainya.

"Apa maksudmu?" Mata Gusion mulai memperlihatkan kekhawatiran. "Jangan bilang kau.." katanya berhenti. "Benar-benar akan meninggalkan aku. Kau sebenarnya selama ini selalu bersama Granger kan?" Hardik Gusion.

Aku menyipitkan mataku. Tidak percaya dengan tuduhannya. "Granger?" Tanyaku.

"Aku lihat kau dengan Granger berdua waktu itu. Lantas saja kau pergi di tengah acara Guinevere, untuk menemui Granger!?" Kata Gusion dengan nada yang lebih tinggi. Aku teringat saat aku sedih di reruntuhan Istana Vance. Tapi aku tidak percaya ia bisa menuduhku seperti ini.

"Apa maksudmu!? Disaat aku membutuhkanmu, kau entah dimana." Kataku menyalahkan Gusion lagi.

"Mengertilah sedikit, aku ada pekerjaan. Tapi di sela waktuku yang sibuk, kenapa kamu dengan Granger?"

"Aku tidak selingkuh. Dan lagi, sekarang kita bukan kekasih."

"Apa maksudmu, Lesley?"

"Detik ini, kau bukan pacarku lagi. Dan, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Granger."

"Les.."

Aku pergi meninggalkan Gusion membawa barangku. "Lesley, tunggu!!" Teriaknya. Aku takkan menghiraukan.

Aku pergi dari istana dan beranjak menemui Kagura di rumahnya.

Tadinya aku ingin berangkat besok, tapi ada kejadian tak diduga seperti tadi, terpaksa.

2 hari lalu aku mengetahui fakta menyakitkan, bertemu dengan Hanabi dan setelah seharian berfikir, akhirnya aku menjalankan rencana ini.

"Lesley." Kagura membuka pintu. "Kau berangkat ke desa Onmyouji besok kan?" Tanyaku. Kagura mengangguk dengan senyuman kecilnya.

"Kau tau kan kalau itu berbahaya dan bisa terjadi perang?" Kataku. Kagura menatap kebawah dengan kosong. "Tak masalah. Ini takdirku." Kata Kagura pada akhirnya.

"Aku akan membantumu." Kataku. Kagura seketika terperanjat. "Maksudmu?" Tanyanya. "Aku akan ikut kamu ke Desa Onmyouji dan membantumu bila perang terjadi." Kataku lagi dengan senyuman.

Aku senang, seenggaknya aku bisa membantu Kagura walaupun tujuan utamaku bukanlah membantunya. Tapi setidaknya kita memiliki hubungan mutualisme.

"Benarkah?" Tanyanya terlihat senang. Aku tersenyum pasti dan memeluk tubuh mungilnya. "Untuk apa aku bercanda." Jawabku.

"Tapi aku menginap semalam sampai besok, oke?" Kataku. Kagura mengangguk antusias. "Kapanpun!" Jawabnya.

Aku duduk di sofa tempat yang biasanya aku duduki. Tiba-tiba aku teringat Harley. Rindu rasanya. Ia berangkat ke Leon Akademi dan sepulang sekolah, tidak ada aku yang menyambutnya.

Dan beberapa hari kemudian akan mendapat kabar bahwa aku mati di peperangan.

Ku harap Harley memaafkanku.

Tunggu.

Bagaimana bila aku benar-benar mati?

Ah.. Aku akan berusaha yang terbaik.

"Tunggu Les, bukankah besok ada battle?" Tanya Kagura.

Sial. Aku melupakan battle itu. Aku berfikir keras. "Baiklah. Aku akan menyelesaikan battle dengan cepat dan langsung pergi bersamamu." Kataku.

Kagura tersenyum masam. "Kau butuh istirahat.." katanya. Aku menggeleng mantap. "Serahkan padaku."

....

Hari battle pun datang. Aku bersiap bersama teman timku. Disana, ada Guinevere tentunya. Aku memperhatikan dia dalam. "Beruntungnya dia." Batinku. Aku menoleh ke arah lain dan tersenyum masam.

"Semangat Lesley. Paxley akan menyesal!" Kataku menyemangati diriku sendiri.

-BERSAMBUNG-

Maap kalo ada typo ehe.

Gusion x Lesley (GusLey)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang