bahana milik pemuda kelahiran bulan ke dua belas itu menyita fokus pemudi bersurai hitam legam setara bahu, yang tengah menatap pantulan layar ponsel yang memancarkan binar.
oh, ayolah. semesta ini punya banyak hal menarik untuk dibahas, lalu kenapa harus jingga yang menjadi topik pembicaraan di siang yang cukup terik dan biru seperti ini?
kenapa bukan tentang langit yang bercorak putih karena gumpalan awan yang berarak perlahan? padahal hari tengah merona biru muda.
adelia somi menampakkan alisnya yang kini bertaut sembari menumpu hasta pada meja. "maksudnya? yang bener aja deh habib, jingga kan emang warna yang identik buat senja 'kan?"
"iya, del. tapi maksud gua bukan itu," habib jisung memijat pelipisnya bertahap, guna mereda denyut di bagian belakang kepala.
"maksud gua tuh, kenapa orang-orang selalu nyebut langit jingga pas senja? kenapa bukan lembayung senja? 'kan lebih keren," ujarnya lagi.
"mana gue tau. mending lo tanya ke anak sastra atau riri sama riska aja sana. jangan tanya gue," adelia somi beranjak dari tempatnya, mengayuh langkah menjauh.
"nyesel gua nanya ke lo," sungut habib jisung.
"nyesel juga gue, membuang tenaga untuk mikirin langit senja. padahal langit biru muda."
bahkan gadis bersurai hitam legam itu sejenak melambaikan kedua hasta miliknya, tanda ia menyerah.
"mending gua tidur atau ngga nge-game sih, dari pada gua harus ngulang pertanyaan yang sama lagi," habib jisung pun mendengus seraya mencari sosok sahabat karibnya, ferdy junseo yang belum juga menampakkan diri.
"ferdy kemana lagi njir?" ujarnya, entah kepada siapa. "woy, ferdy!!"
derai tawa mengiringi ayuhan tungkai milik kedua insan yang kini bertolak arah, yang asalnya dari seorang pemuda yang tengah menutup sepasang kenarinya di sudut kiri ruang.
"habib sama adel, kalau di gabung pasti begitu. ribut sendiri, ujungnya cari-cari orang lagi," gumamnya disela derai tawa.
ada kalanya lesung berbinar, ada kalanya lesung meredup. laksana bunga yang berkembang, pada akhirnya kian gugur pula. itulah perkara lika-liku masa remaja.