Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
siang ini, dina ketiga dalam seminggu. nampak wajar bagi seluruh penghuni loka. ibarat dina lain, cukup banyak siswa yang berkelana. tepatnya lapangan dan kantin, yang jadi destinasi utama.
lain hal dengan ketiga gadis yang tengah giat berkutat pada ragam buku di sudut kiri perpustakaan sekolah. yang entah sejak bila, tempat ini menjadi bising tak sama seperti yang lalu. seakan lupa tata tertib yang masih juga berlaku.
"kok tumben ya rame? biasanya sepi 'kan?" tanya gadis yang tengah membaca.
"lagi gabut mungkin mereka, wi-fi di sini juga lumayan bagus." sahut yustika yiren.
gadis yang kerap disapa nadia seoyeon itu mengangguk dengan kerutan di dahi. "iya juga sih. eh si riri ini, kenapa murung? tumbenan. kenapa lo?" sahutnya.
"ehm? ngga kok, siapa yang murung? cuma lagi laper aja hehe." riri yeonhee tertawa. yang lain melihat tawa itu, tawa yang entah asli atau tidak.
sesaat kemudian, hadir seorang pemuda yang tampak tergesa. mencipta raut nanar dari ketiga gadis ini.
"kenapa buru-buru, suf? cari siapa? itu buat siapa?"
yechan yusuf mendekat. "ada yang ninggalin ini di atas meja, buat lo kayanya." diletakkan sekotak susu rasa karamel dihadapan salah satu dari ketiga gadis itu.
"diminum, jangan dikasih ke orang lagi. hargai yang beli." pesannya sebelum mengayuh langkah besar keluar ruangan.
yustika yiren dan nadia seoyeon bertukar pandang. "oh, dari pengagum rahasia ya, ri? asik banget."
keresahan mulai menghias durja sayu milik gadis dengan bingkai mata itu. entah atas dasar apa, tetapi ia rasa resah. dengan helaan nafas panjang yang menambah bukti keresahan.
"pengagum rahasia apaan? paling juga dari mama." gadis itu mulai meminum susu kotak yang disampaikan oleh yechan yusuf tadi, perlahan.
rabu membiru, mengusik kalbu yang menggebu dalam sendu, dibalik mega kelabu.
⸙
seorang gadis dengan sepasang kenari legam bernama adelia somi itu tengah menatap tajam kearah pemuda disampingnya. "pinjem bentar gitarnya." sahutnya.
"ngga boleh, gua duluan."
"keras kepala banget, bentar aja ngga sampe dua jam." gadis itu sedikit memaksa, berharap pemuda itu akan mengalah.
tetapi nihil, pemuda itu tetap memeluk gitar akustik milik ferdy junseo. sifatnya yang keras kepala sekaligus jahil membuatnya bertahan di posisi tersebut.
pemuda bernama ryan hyunbin itu terkekeh. "nih, ambil. buat mbak adel apa yang ngga?" adelia somi sesegera mungkin menjauhi pemuda yang terkenal sebagai raja gombal kelas itu. "najis. jauh-jauh lo dari gue!"
tak lama setelahnya, seorang gadis menghampiri kedua remaja yang sedari tadi sibuk meributkan perihal gitar yang sebenarnya bukanlah hak mereka. dengan senyum cerah yang terukir pada iras gadis tersebut.
gadis itu duduk di sisi kiri adelia somi. "gue mau nyanyi dong, del." sahutnya.
"tapi gue cuma bisa lagu anugerah terindah, lo mau nyanyi?" adelia somi mulai memetik string nilon gitar tersebut.
"maunya nyanyi lagu ku tunggu kau putus." tiara chaeyeon tersenyum dan menatap nyalang entah kemana.
adelia somi menatapnya nanar, seakan ada yang aneh dari gadis yang tengah tersenyum sendiri itu. "kenapa lo senyum-senyum? lagi baper ya?"
yang ditanya mengangguk, bahkan dengan penuh rasa antusias dan lengkung bibir yang kian melebar.
"baper sama yang yang itu tuh del, hehe." ujaran itu membuat keduanya tertawa, entah apa yang terdengar lucu hingga menarik derai tawa keduanya.
kesannya tabu, tutur kata jadi candu, biar afeksi diri melambung tanpa hanya membisu. menjamu lara rindu.
⸙⸙
disisi lain, pemuda berhoodie abu-abu menenggelamkan kepalanya dilipatan kedua tangannya, di atas meja di barisan ke tiga. sekilas berusaha melanjutkan tidurnya yang sempat terusik tadi.
namun angan-angan tersebut kian sirna setelah seseorang menepuk pundaknya tiga kali. sekiranya, begitu. hingga membuat pemuda itu menegakkan tubuhnya enggan.
"apaan?"
gadis di depannya mendelik sembari menyodorkan sebuah buku bersampul coklat padanya. "nih, mau balikin buku bahasa indonesia yusuf yang gue pinjem tadi pagi."
"gua udah absurd, tapi ternyata ada juga yang lebih absurd dari gua." sahut mulia jungmo, yang entah apa maksudnya.
putri yuri tak menghiraukan, kemudian ia berbalik meninggalkan pemuda yang sedari tadi hanya menatapnya datar itu. memang seperti itu. sudah biasa.
"makasih ya? atau sama-sama nih?"
gadis bersuara tinggi itu menoleh ketika merasa bahwa pemuda itu bermaksud untuk menyindirnya atau apalah itu. lengkung netra tercipta kala gadis itu membalikkan badannya ke arah tempatnya berdiri tadi.
"sama-sama ya, mulia." sahutnya. mengundang gelak tawa milik mulia jungmo. "ternyata bener ya, lo aneh banget orangnya, put."
putri yuri menggeleng samar. "oh ya? jangan menilai orang secara sekilas, lo ngga kenal gue yang sebenarnya. lo bukan dilan, jangan sok ngeramal. dasar aneh."
kemudian hening, hingga gadis itu kembali mengayuh langkah menjauhi tempat dimana pemuda absurd itu duduk. tempat pemuda itu tertidur di sudut dinding kiri kelas.
"kata-katanya, kritis banget gila." mulia jungmo terkekeh. "tapi agak kontras sama sifatnya, tapi bener juga sih. gua bukan dilan dan dia bukan milea."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ayo dukung dilan-mileakw ala ran_toyouu! jangan lupa untuk terus dukung cerita halu ini hehehe.