Sudah sebulan.
Sudah sebulan lebih Seungwoo terus membelikan Americano dan meletakkannya di atas meja Seola.
Seola bosan. Dia jengah. Sudah berulang kali ia meminta Seungwoo untuk berhenti melakukan itu. Namun, bukannya berhenti, Seungwoo justru melipatgandakan frekuensi memberikan Seola kopi menjadi tiap pagi dan siang menjelang sore.
Meski tak mengatakan secara langsung, Seola tahu Seungwoo sedang berusaha mendekatinya.
Krystal pernah iseng bertanya pada Seungwoo, apa alasannya menyukai teman dekatnya tersebut.
Katanya, "dia anaknya asyik diajak ngobrol."
Mendengar hal itu dari Krystal membuat Seola memutar bola matanya malas.
Mereka hanya sekali berbicara. Sebulan yang lalu, di pesta yang diadakan Sehun.
'Dasar player!' begitu ucap Seola sebagai balasan atas informasi yang diberi tahu oleh Krystal.
Seungwoo terus-terusan mengejar Seola. Membuat Seola terus-terusan berusaha lari.
Kalau sebelumnya Seola akan berusaha mencoba menerima lelaki yang mendekatinya. Tidak kali ini. Seungwoo baik, bahkan terlalu baik.
Seungwoo pernah membantu Seola mengerjakan pekerjaannya, ia juga pernah memasang badan ketika atasan mereka hendak memarahi Seola dan melimpahkan kesalahan Seola pada dirinya sendiri. Seungwoo memang baik. Terlebih pada dirinya, bohong kalau hati Seola tak tergerak.
Hatinya tergerak.
Tergerak untuk marah karena Seungwoo masih berusaha merebut hatinya, namun tersentuh di saat yang bersamaan.
Kutukan membuatnya harus membunuh setiap laki-laki yang ia cintai. Sedangkan karakteristik dari perbintangannya membuat Seola menjadi pribadi sensitif yang mudah jatuh cinta.
Ya, hal yang bagi sebagian orang indah tersebut membuat Seola tersiksa.
Dan saat ini Seola yang tengah berdiri di depan pintu masuk kantor, menatap lurus ke arah Seungwoo yang tengah berdiri di depan lift. Seola tak ingin berada di satu ruangan yang sama hanya berdua dengan Seungwoo, namun dirinya juga tak mau terlambat melakukan absensi hanya karena dia mau menunggu lift lainnya.
"La!"
Seola langsung memalingkan wajah, tatkala Seungwoo menoleh dan melihat ke arah Seola lalu menyapa dirinya.
Seungwoo tersenyum kecil. Itu sudah biasa baginya.
Mengorbankan gengsinya, Seola akhirnya memilih untuk berjalan ke arah lift.
'Okay, kali ini aja,' batin Seola.
"Ayo bareng, La." Seungwoo kembali mencoba mengajak Seola berbicara. Nada bicara yang sangat ramah bisa terdengar darinya.
Seola menelan salivanya, berusaha terlihat tak peduli meski sebenarnya Ia cukup senang karena Seungwoo menyapanya. Ia memutuskan terus berjalan tanpa mau memandang ke arah depan di mana Seungwoo berasa.
Hal itu membuatnya...
"LA AWAS!!"
BRUK!
DUG!
DUG!
DUG!
DUG!
DUG!
DUG!
Seola membelalakan matanya. Jantungnya berdegup makin cepat.
Bukan, bukan karena ia terkejut dengan keadaan Seungwoo yang saat ini ada di hadapannya dengan punggung yang terluka karena terkena goresan lemari besi yang dibawa oleh beberapa petugas -entah siapa, yang baru saja jatuh dan hampir menimpa dirinya.
Bukan itu.
Seola terkejut.
Karena kejadian tiba-tiba seperti barusan sudah sering terjadi padanya. Dan itu adalah salah satu tanda bahwa hatinya mulai terbuka karena Seungwoo.
Hingga akhirnya membuat Seungwoo akan menjadi sasaran dari kutukan yang ada padanya.
Seola sudah hapal benar, hal seperti ini bukan suatu kebetulan belaka.
"La? Lo nggak apa-apa?" tanya Seungwoo khawatir.
Dengan mata berkaca-kaca, Seola menoleh ke arah Seungwoo secara perlahan. Bisa ia lihat raut khawatir Seungwoo melihat keadaan dirinya saat ini.
Seola buru- buru melepaskan tangan Seungwoo dari bahunya. Kemudian langsung berlari meninggalkan Seungwoo dan orang-orang kantor yang mendatangi mereka karena khawatir dengan kejadian barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
cookies; swoo seola
FanficBuku khusus cerita pendek Seungwoo Seola ❤ pic (on cover) credit to owner
