1 | Get Scolded

749 107 13
                                        

Setelah berhasil meyakinkan diri dengan cara cek ulang dengan testpack dan pergi ke dokter kandungan buat periksa kehamilannya, Seola sama Seungwoo mutusin buat kasih tahu orang tua mereka.

Tapi nggak lewat perantara kayak telepon atau chat karena menurut mereka itu nggak sopan.

Toh, rumah kedua orang tua dari masing masing deket dari tempat tinggal mereka sekarang.

Kediaman yang pertama didatangi itu kediaman orang tua Seungwoo. Dan sesuai ekspektasi, kedua orang tua Seungwoo kaget nggak percaya tapi seneng. Bahkan Seungwoo dipelukin terus sama Papanya. Terus Seola juga diciumin sama Mamanya Seungwoo.

Pokoknya kedua orang tua Seungwoo sangat menyambut kabar gembira dari Seungwoo sama Seola itu.

Tapi.... beda cerita pas mereka dateng ke rumah Seola.

Udah hampir 15 menit ayah Seola terus diem semenjak Seola kasih tahu kalau dia hamil. Ibunda Seola sempet tepuk tangan kegirangan tapi disuruh diem sama Ayah Seola.

Bukan, bukan karena pernikahan keduanya nggak direstui, bukan karena mereka benci Seungwoo atau calon cucu mereka tapi.... masalahnya sebelum nikah mereka udah sempet bikin kesepakatan kalau Seola sama Seungwoo harus selesein kuliah mereka dulu baru punya momongan.

Ya emang sih, Seungwoo udah bisa nafkahin Seola, tapi orang tua Seola, terutama ayahnya, tetep mau mereka berdua kelarin pendidikannya dulu.

Lagian, salah satu faktor yang bikin mereka dibolehin nikah muda ya karena kesepakatan itu.

Seola genggam erat tangan Seungwoo, Seungwoo juga. Ayah Seola mendelik liat tangan anak sama menantunya yang bertautan itu.

Makin kesel.

Dalem hati sebenernya seneng karena bakal punya cucu. Tapi masih jengkel karena dia merasa dibohongi dan dikhianati sama anak dan menantunya itu.

Sebagai orang yang cukup strict dan berpegang teguh sama janji jelas ini melanggar prinsipnya.

"Terus gimana?" tanya Ayah Seola mulai buka suara lagi.

Seungwoo sempet kaget, tapi buru-buru dia stabilin ekspresi wajahnya.

"Kami mau tetep besarin anak kami, Yah-"

"Oh ya harus!! Kalian emang harus bertanggung jawab sama buah hati kalian. Jangan sekali-kali kalian mikir mau hilangin cucu saya itu!" potong Ayah Seola bikin nyali Seungwoo makin menciut.

Ayah mertuanya galak banget coy.

"Maksud ayah itu, gimana sama kuliah kalian?!"

Seungwoo nelen salivanya. Seola juga. Dia tahu ayahnya paling nggak suka kalau hal yang udah dijanjiin ke beliau dilanggar, makanya meskipun udah hampir 20 tahun hidup sama ayahnya, Seola tetep takut kalau ayahnya lagi marah.

"Rencananya saya bakal tetep kuliah sambil kerja seperti biasa, Lala juga, tapi nanti begitu kandungan Lala makin membesar, kita bakal ambil cuti buat Lala," Seungwoo coba jelasin apa yang emang udah dia dan Seola rencanain.

Rencananya semester 4 ini bakal dia habisin, terus begitu masuk ke semester 5 dia bakal ambil cuti. Sengaja ambil cuti lebih cepet biar lebih banyak di rumah dan bisa persiapin segala macam hal buat kelahiran anak pertama mereka nanti. Bahkan Seola juga berencana mau ikutan senam ibu hamil.

Ayah Seola anggukin kepalanya waktu denger penjelasan Seungwoo. Urat yang tadi ada di wajahnya mulai hilang, Seungwoo agak sedikit lega. Tapi dia nggak bisa hela napas di depan mertuanya. Takut kena omel lagi.

"Lala, sana kamu masuk kamar. Ayah masih mau ngomong lagi sama suami kamu."

Nggak jadi lega.

Seungwoo mendadak gugup lagi.

Seungwoo coba nahan Seola dengan pegang tangannya makin erat alias nggak mau dilepasin, tapi Seola mendelik terus nabok lengan Seungwoo pelan.

Begitu bisa lepas, Seola langsung pamit sama ayahnya buat masuk ke kamar. Mau kasih space buat dua laki-laki yang paling dia sayang itu buat ngobrol.

Dan ya rencananya emang malem ini mereka bakal nginep di rumah Seola.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
〰〰〰
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

"Diomelin apa aja sama ayah?" tanya Seola begitu Seungwoo masuk ke kamarnya dan langsung jatohin diri di kasur. Tangannya langsung dia lingkarin ke perut Seola. Wajahnya dia sembunyiin di ketek Seola.

"Ya kayak yang udah kita tebak sebelumnya, La," jawab Seungwoo masih dengan wajah dia umpetin di balik ketek Seola.

Seola tuh wanginya enak. Makanya Seungwoo suka cuddling begitu.

Seola ketawa terus dia usap kepala Seungwoo. Kasian juga dia sebenernya sama Seungwoo karena harus ngadepin ayahnya yang galak itu. Tapi ya Seola juga seneng karena Seungwoo bisa ngadepin ayahnya karena itu salah satu bukti kalau Seungwoo serius sama dia.

Minta izin buat nikahnya dulu aja susah banget.

"Kamu sih keluarinnya di dalem!" omel Seola setengah becanda sambil mukul bahu Seungwoo.

Seungwoo ngangkat kepalanya buat lihat wajah Seola.

"Waktu itu mau ngeluarin tanggung, La, lagi enak," sahut Seungwoo nyoba cari pembelaan buat dirinya sendiri.

Seola mukul lengan Seungwoo lagi. "Ya itu akibatnya kalau kamu mikir tanggung, kebobolan kan akunya!"

Waktu itu kebetulan mereka nggak pake pengaman karena kehabisan, mau beli dulu kepalang tanggung.

"Kebobolan.... kamu kira gawang apa???" sahut Seungwoo lagi sambil ngumpetin wajahnya di ketek Seola.

Seola ketawa sama kerecehan Seungwoo, terus dia lingkarin tangannya ke kepala Seungwoo.

"Yang sabar ya suami akuuu," katanya sambil cium puncak kepala Seungwoo, Seola tahu banget pasti tadi suaminya itu keringet dingin pas ngadepin ayahnya.

"Kamu wangi banget sih, La," balas Seungwoo nggak nyambung, tangannya yang tadi di sekitaran pinggang Seola mulai naik ke atas perlahan.

"Woo! Inget kita lagi di rumah orang tua aku! Bukan rumah kita sendiri!" ucap Seola yang paham sama tindakan Seungwoo.

"Nggak apa-apa, nanti aku pelan-pelan, La."

"Seungwoo ih!"

cookies; swoo seolaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang