Hidup Luna porak poranda, setelah beruntun kesialan terjadi padanya, akibat pertemuan tak sengajanya dengan cowok aneh, jutek, galak tak tau diri.
" Hahahaha, apa gue bilang, lo sih liat cowok cakep dikit langsung terpesona. Dia itu setan berwajah...
Sudah 3 hari ibu dirawat di rumah sakit. Luna ijin dari pekerjaannya karena harus bergantian dengan tante Anita yang sudah bersedia menjaga ibunya ketika Luna sekolah.
Fabian mulai melunak. Tak lagi sering membentak Luna. Mungkin Fabian tahu diri,Luna sedang mengalami masa sulit.
Kasak kusuk masih saja terdengar. Bahkan ada beberapa kakak kelas yang mencemoohnya. Luna hanya diam saja. Dia tak ingin terbawa emosi. Yang penting orang-orang terdekatnya tahu dia tidak seperti itu.
"Nanti gue gak bisa ke rs Lun, mama suruh anter ke rumah sodara. "ucap Rumi.
" Iya gak papa, lagian kan lo udah tiap hari jengukin ibu. Makasih ya. "balas Luna.
"Kak Bian kayanya udah luluh tuh." goda Rumi.
"Palingan juga tar ketus lagi. "ucap Luna.
"Tapi hubungan kalian makin deket kan? Kak Bian juga tiap hari sama lo pulang pergi, malah ikut nungguin ibu di rs." lanjut Rumi.
"Gak tau gue. Dibilang pacar, belum ada kata-kata yang menegaskan kalo kita pacaran. Dibilang gak pacaran, tapi Kak Bian kaya gitu sama gue. Bingung ah. "Sungut Luna.
" Lo sih, gak mau nanya." Omel Rumi.
"Dih, tar kalo gak sesuai pikiran gue, dikira gue ke ge eran lagi. "gerutu Luna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Emang lo maunya apa? " tiba-tiba Fabian sudah ada di samping mereka.
" uhuk.. Uhuk..! "Luna tersedak kuah bakso karena kaget.
Sedangkan Rumi terkikik geli melihat wajah Luna yang udah merah mirip kepiting rebus.
" Gue ke toilet dulu. "pamit Luna, langsung ngacir karena malu setengah mati.
Sepeninggal Luna, Rumi memberanikan diri bicara pada Fabian.
"Kak, jangan dimainin ya, kasian, dia anak baik." ucap Rumi yang membuat Fabian terdiam. Rumi orang ketiga yang bilang seperti itu padanya.
"Iya. "jawab Fabian singkat lalu beranjak dari meja Rumi dan bergabung dengan Umar dan Arga.
" Gue denger tante Rania sakit ya Bi?" Tanya Umar.
"Iya. "lagi-lagi Fabian irit bicara.
"trus nasib percintaan lo gimana sama Luna?" Arga tak mau ketinggalan bertanya.
Fabian hanya mengedikkan bahu tanpa berminat menjawab pertanyaan Arga.
"Hh.. Ngomong ama tembok dah gue." sungut Arga jengkel.
"Hahaha.. Elo sih, kepo banget jadi cowok. "Umar malah menertawakan Arga.
"Alah, lo juga pengen tau kan jawabannya?tuduh Arga.
"Tapi gue gak kepo kaya lo! Lo mah udah mirip emak-emak, doyan berita hangat buat gibah." Umar semakin getol meledek Arga.
"Rese lo! "Arga menggerutu sambil melemparkan kulit kacang ke arah Umar.
Fabian beranjak dari kursinya. Lalu melenggang santai meninggalkan 2 sohibnya.
" Mau kemana lo? "tanya Umar.
" Tidur. "jawab Fabian cuek, tetap berlalu tanpa menghiraukan mereka.