1

166 5 0
                                        

Dalam kalender Luna mungkin semua tanggalnya hitam semua. Seperti Sabtu kali ini dia sudah bersiap-siap untuk berangkat. Dia melirik jam dipergelangan tangannya.

"Haduuuhh telaaat.. Telaaattt niiih!!!"ucapnya sambil memakai sepatunya geradak geruduk kesana kemari bukannya sambil duduk.

Dia lalu memesan ojek via aplikasi. Dilihatnya posisi driver dari map aplikasi itu. Lokasinya cukup jauh. Tapi daripada dibatalin terus cari lagi bisa-bisa malah dapat lebih jauh lagi.

"Makanya tidur jangan kaya kebo! "ledek Rumi sahabatnya.

Semalam Luna menginap di rumahnya, karena orang tua Rumi sedang ke luar kota.

" Sialan! Diem kek, bawel! "sungut Luna.

"Naik apa lo?" tanya Rumi.

"Kuda!" jawab Luna asal.

"Ini masih hari Sabtu, naik kuda tu pada hari Minggu."Rumi makin menjadi menggoda sahabatnya.

Plok.

Sepatu Luna dengan mulus mendarat di jidat Rumi.

"Lunaaaaa!!!! Sepatu lo bau!" Rumi marah-marah sambil mengusap-usap jidatnya yang merah kena timpuk sepatu.

"Rasain lo!" Luna berjalan mendekati Rumi untuk mengambil sepatunya lagi.

"Dah ah, gue udah hampir telat banget ni, gue jalan dulu ya, jaga rumah baek-baek ya bik, jangan lupa bersihin semuanya. "ucap Luna sambil ngeloyor keluar rumah.

" Bangke! Lo kira gue pembokat! "sekarang gantian Rumi yang ngomel-ngomel.

Tawa Luna masih terdengar walau dia sudah melenggang keluar pagar.

Luna melirik jamnya lagi. Duh, mana sih ini ojeknya, batinnya.

Kemudian mata Luna memandang ke beberapa meter di sebelahnya.

"Ya elah bang, ditungguin dari tadi juga, malah nongkrong disini,telpon kek! "Luna ngomel-ngomel pada seseorang, mungkin si ojek online.

"Eh, siapa lo? Datang-datang ngomel-ngomel!" tanya orang itu.

"Udah ayo jalan bang, udah telat nih saya!"Luna tak menggubris omongan orang itu, malah langsung membonceng motornya.

"Apaan sih, woy! Gue bukan tukang ojek! Turun lo!"bentak orang itu.

Luna terkejut, lalu memperhatikan jaket yang dikenakan orang itu. Hijau, batin Luna. Tapi kok gak ada tulisannya, batin Luna lagi.

"Turun! "bentak orang itu lagi.

" E.. E.. Iy.. Iya ini turun. "jawab Luna kaget.

Tiba-tiba ponsel Luna berdering. Nomor tak dikenal.

Luna :" Hallo. "
+62 :" mbak Luna ya? Saya sudah di depan mbak"
Luna :"abangnya ojek? "
+62 :" iya mbak
Luna :"oh oke bang, saya kesana"

Luna meringis menatap orang yang dia kira ojek. "Hehe, maaf ya, saya kira tukang ojek tadi, habis jaketnya ijo, he."

Orang itu menatap Luna tajam. Seperti hendak menelannya bulat-bulat. Tapi orang itu kemudian seperti mengingat wajah Luna yang tampak tak asing baginya.

Luna yang dilihatin begitu, mengkeret takut dibentak lagi. Namun dia memberanikan diri membalas tatapan orang itu. Seorang cowok dengan sorot mata tajam. Luna juga seperti mengenalinya tapi karena cowok itu menggunakan helm full face jadi tidak begitu kelihatan. Namun Luna seperti ingat pernah melihat motor itu.

"Mbak jadi naik gak? "tanya tukang ojek yang tiba-tiba sudah di belakang motor cowok itu.

" Eh iya bang. "jawab Luna lalu naik ke motor ojek itu.

Luna mengangguk sambil nyengir ke arah cowok itu. Cowok itu tak melepas tatapannya pada Luna, membuat Luna menciut.

Setelah kepergian Luna, cowok itu lalu ikut berlalu.

My Bad Angel Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang