Hidup Luna porak poranda, setelah beruntun kesialan terjadi padanya, akibat pertemuan tak sengajanya dengan cowok aneh, jutek, galak tak tau diri.
" Hahahaha, apa gue bilang, lo sih liat cowok cakep dikit langsung terpesona. Dia itu setan berwajah...
Luna bersiap ke sekolah. Tasnya selalu menggembung, karena di dalamnya ada seragam Kopi Malini, juga celana panjang untuk bekerja.
"Berangkat sendiri apa bareng ibu Lun? "tanya ibu ketika sarapan bersama.
" Sendiri aja, bareng ibu telat mulu. "jawab Luna sambil menikmati nasi goreng telur mata sapi buatan ibu.
"Atau jangan-jangan udah janjian di jemput ya."goda ibu.
"Mulai deh." dengus Luna.
Luna dan ibu sangat dekat. Lebih mirip kakak adik. Karena ibu masih terlihat muda di usianya yang telah menginjak 36 tahun.
Mereka bisa berbagi hal apapun seperti layaknya sahabat. Tapi kadang bikin jengkel juga kalau masalah sensitif jadi bahan ledekan begini.
Luna mencuci piringnya di wastafel lalu meraih tasnya.
"Luna berangkat ya bu, Assalamualaikum. "pamitnya pada ibu sambil mencium tangan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Wa'allaikumsalam, ati-ati, jangan pulang kemalaman Lun, kasian badannya." ucap ibu mengelus puncak kepala Luna.
"Siap boss! "jawab Luna dengan gaya seperti hormat pada komandan pleton.
Luna membuka pintu dan mengambil ponselnya hendak memesan ojek online. Namun dia membeku di tempatnya berdiri. Melongo seperti melihat setan.
Dan ternyata memang beneran ada setan. Setan berwujud malaikat seperti yang pernah Luna bilang.
"Lo lama banget sih!" nah kan setannya lagi ngomong ke Luna eh lebih tepatnya bentak Luna.
"Kak Bian?! Ngapain? "tanya Luna masih merasa belum sadar.
"Lo pikir ngapain gue?! Pake nanya lagi, buruan naik!" seperti biasa Fabian marah-marah tak jelas. Atau sebenarnya Fabian menutupi rasa gugupnya.
"Tapi kan."ucap Luna terputus.
"Udah gak pake tapi, buruan tar telat! "lanjut Fabian.
" Siapa Lun? "ibu tiba-tiba sudah ada di belakang Luna karena mendengar sedikit ribut-ribut.
" O.. Pantes gak mau bareng ibu, gak taunya udah janjian sama kakak kelas ganteng. "ibu malah menggoda Luna.
Wajah Luna memerah karena malu. Kak Bian pasti mendengar yang ibu bilang barusan.
"Pagi tante." sapa Fabian yang masih duduk diatas motor diluar pagar rumah Luna.
"pagi, mau jemput Luna ya? Kenapa gak masuk aja tadi, kan biar sekalian sarapan. "ucap ibu.
Aduh, ibu kenapa malah baik-baikkin Kak Bian sih,batin Luna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Makasih tante, mungkin lain kali. "jawab Fabian penuh kelembutan. Tidak ketus seperti ketika bicara dengan Luna. Dan Fabian senyum. Rekor saudara-saudara!
Luna tak berkedip dan hampir tak bisa berkata-kata melihat senyum Fabian.
" Lun, kok bengong? Tuh buruan!" ucap ibu mengagetkan Luna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"I.. Iya bu, pamit ya, tapi ini gak seperti ibu pikir kok, Luna gak jan.. "ucap Luna yang langsung dipotong ibu.
" Iya ngerti, udah sana, tar telat kalian. "lanjut ibu senyum-senyum.
" Mari tante. "pamit Fabian sambil mengangguk ketika Luna sudah berada di boncengannya.
"Ati-ati ya." jawab Ibu antusias.
Luna sangat tidak mengerti. Maksud Fabian apa berbuat seperti ini. Luna sih dengan senang hati diantar jemput begini. Yang pasti jadi hemat ongkos.
Tapi sekali lagi, maksudnya apa? Selama ini mereka kalau bertemu seperti Tom and Jerry.
Luna tak berani bertanya pada Fabian. Bisa-bisa dibentak lagi. Apalagi sedang di jalan seperti ini.
Akhirnya Luna memilih diam hingga mereka sampai di sekolah.
Fabian menghentikan motornya di depan warkop Nyak Babeh.
Umar dan Arga yang berada disitu langsung saling pandang melihat kedatangan Fabian memboncengkan seorang cewek.
"Lo turun disini aja. "ucap Fabian.
Luna menurut dan menyerahkan helmnya ke Fabian.
"Weits ada berita hangat ni. Sejak kapan?" tanya Arga usil.
"Udah sana masuk! "Fabian mengusir Luna agar teman-temannya tidak punya kesempatan bertanya pada Luna.
" Lo gak di apa-apain Fabian kan Lun? "tanya Umar.
" Eh kak Umar. Enggak kok. "jawab Luna.
Fabian menatap Luna tajam. Seolah-olah menyuruh Luna untuk segera masuk ke dalam sekolah.
Luna yang tahu ditatap begitu langsung berpamitan pada yang lain.
" Aku masuk dulu ya kak. Makasih kak. "pamitnya pada Umar dan Arga lalu tak lupa mengucapkan terimakasih pada Fabian yang dibalas Fabian dengan anggukkan tipis.
" Lo jadian sama dia? "tanya Umar.
Fabian diam saja. Dia malah mencomot bakwan di nampan.
" Bi? "panggil Umar lagi, karena Fabian tak menjawab pertanyaannya.
" Kalo iya kenapa? "tanya Fabian balik pada Umar dengan ekspresi santai tak bersalah.
" Kalo buat main-main sebaikknya jangan Bi, kasian, dia cewek baik-baik, gue kenal dia dari kecil. Walau gak gitu dekat tapi gue tahu dia gimana. "jelas Umar.
Sebenarnya ada apa dengan Luna?kata-kata Umar mirip dengan yang diucapkan Babeh tempo hari.
" Atau lo cuma peralat dia, biar lo gak dikejar-kejar Cintya dan para fans lo? "tebak Arga.
Fabian hanya menatap Arga sekilas.
" Tebakan gue mesti bener kan? Tuh lo diem aja gak bisa jawab. "lanjut Arga lagi.
"Pada berisik sih lo! Urusan gue mau sama siapa. Emang ada tulisannya, gue dilarang pacaran sama Luna?" Fabian menjawab masih dengan gaya santainya.
"Ya bukan gitu Bi, kasian anak orang. "ucap Umar.
" Ya taulah anak orang, masa anak monyet gue pacarin, ya kali si Arga semua doyan. "ucap Fabian malah meledek Arga.
" Bangke lo! Emang gue tarzan! "omel Arga.
Umar dan Fabian tertawa melihat Arga ngomel-ngomel.
" Bi, gue serius soal Luna. "Umar kembali menegaskan pada Fabian.