Bi Ijah menggoyang-goyangkan tubuh Rere yang sedang tidur."Neng, bangun sekolah."
Hening,tidak ada jawaban dari Rere. Ia masih menikmati tidurnya dan menikmati mimpi.
"Neng bangun sekolah." Bi Ijah berusaha membangukan Rere. Tapi nihil, ia tetap tidur.
Kini Bi Ijah lelah. Ia sudah membangukan Rere tapi tidak bangun-bangun. Ia kemudian keluar dari kamar Rere. Kemudian memulai berkutik di dapur.
Sinar matahari menyinari kamar Rere, sinarnya mengenai wajah Rere yang membuatnya terbangun.
Ia melirik jam hp nya dan ternyata menunjukan pukul 06.40 pagi.
"MAMAH!!"Teriak Rere menggelegar keseluruh ruangan.
Bi Ijah dan pelayan pribadinya Rere langsung berlarian menuju kamar Rere.
"Kenapa neng teriak-teriak?"Tanya Bi Ijah.
"Bibi kok nggak bangunin Rere sih."
"Maaf neng, tadi udah bibi bangunin. Tapi neng nggak bangun"
Rere mendengus kesal. Memang ini kesalahan dirinya sendiri yang begadang. "Ya udah Bi Ijah dan pelayan lainnya kembali bekerja."
Setelah semuanya keluar,Rere langsung pergi mandi dan memakai seragam sekolah. Didepan cermin Rere berdandan,memoleskan sedikit Liptint dan bedak.
Ia bergegas turun kebawah,sedikit berjalan cepat menuruni tangga.
"Bi, mamah sama ayah mana?"
"Tuan dan nyonya pergi Meeting neng."teriak Bi Ijah dari dapur.
"Neng dianterin sama mang Udin."Lanjut Bi Ijah.
Rere langsung berlari keluar dan masuk kedalam mobilnya yang sudah ada Mang Udin.
"Mang Udin ngebut?!"
"Iya neng."Mang Udin mencepatkan laju mobil.
Rere turun dari mobil.ia sudah sampai didepan pintu gerbang sekolah yang masih terbuka.
"Mang nanti jemput Rere."Mang Udin menangguk dan melajukan mobil.
"Selamat pagi, Pak."Sapa Rere.
"Selamat pagi masa depanku,"ucap seorang lelaki dibelakang Rere.
Rere menoleh kebelakang untuk mengecek siapa orang yang ngomong kayak gitu. Ia sangat kesal, saat sudah tau orangnya. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju kelas.
Ia berjalan melewati koridor-koridor kelas. Ekspresi wajahnya sedikit ditekuk.
"Pagi pareku,"ucap lelaki tadi.
Rere diam,menunjukan muka dinginya tanpa berkata apa-apa.mengeluarkan satu kata juga ogah.
"Oh nggak mau dipanggil pare yah, maunya dipanggil sayang."Suara Devan sedikit ditinggikan.
What the fuck!!! Apa-apaan ini,"sayang" iuh jijik dengernya. Ia melototkan matanya tajam."Devan stop!?"
"Hah apa!! Pengin digandeng. Oke oke kalo gitu."Devan langsung menggandengkan tangannya ke Rere.
Memberontak!! Pasti,Rere memberontak agar bisa lepas dari gandengan Devan. Tapi hasilnya nihil. Karena, tenaga Devan lebih kuat darinya.
Ingin marah, pasti. Tapi ia sedikit takut. Ia hanya bisa pasrah, mengikuti arah jalan Devan. Mau dibawa kemana seterah dia.
Pasang mata dipenjuru sekolah,menatap Rere tidak suka termasuk kakak kelas Rere.
Jari tangannya mengeras membentuk bakso."Oh jadi mau bermain dengan gue,"ucap seseorang yang tidak suka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Hate And Love
Teen Fiction[Cerita ini murni pikiranku dan tanganku. Jika ada kesamaan dengan yang lain itu tidak sengaja] Bagaimana jika seorang gadis manja sekelas dengan lelaki tegas,jail dan Seorang gadis itu pindah ke Sma Galaksi, sekolah terfavorit dikalangan remaja. Ia...
