"Akan ada saatnya seseorang lelah dengan hidup yang dijalani. Begitupun denganku. Sangat susah menghidar bagiku."
"Dan terkadang juga berpura-pura gila bisa menjadi jalan keluar. Tapi aku masih pengin waras. Hahah."
~Revalina Putri Quensa~
"Jangan membuat singa terbangun, pasti akan mendapat serangan maut. Seperti halnya kau telah membangunkan ku dari tidurku. Aku hanya meminta satu permintaan nggak lebih."
~Agnes~
"Jika kau butuh sandaran bersandarlah dipundakku. Jika kau butuh aku panggilah, jangan pernah sungkan. Dan aku akan terus menjaili mu karena itu membuat mu marah dan melupakan masalahmu."
~Devano Reiyadam Cryatine~
🎶
🎶
🎶
🎶
🎶
Cusss lanjoot baca guys💃🎶
Bel berbunyi sangat lantang, tandanya jam pulang sekolah. Siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas berlarian ke gerbang keluar. Termasuk Rere dan teman-temannya. Tapi tidak dengan ketiga wanita yang masih diam diatas menatap kepergian Rere.
"Shit!! Dia sudah pulang."
"Lo cupu harus ngejalankan tugas lo,"ucap Agnes kanan si cupu.
"Dan kita berdua akan menjebak dia. Dan lo cupu, soal masalah ini lo nggak usah ikut campur. Sana pulang,"ucap Agnes.
Lalu gadis cupu yang dimaksud menurut mereka, pergi pulang meninggalkan mereka berdua. Entah apa yang direncanakannya yang jelas ia bakal melakukan hal-hal keji.
Padahal Agnes tahu kalo Neena sama-sama suka Devan. Tapi dia tidak peduli, dia juga bakal kalah toh.
Rere pulang menaiki sepdanya. Hari ini ia sangat lelah dan pusing. Setelah kejadian tadi di sekolahnta. Ia mengayuh sepedanya lesu, sedikit melamun.
Titt...
Suara klakson motor mengagetkan Rere. Ia mengerem sepedanya lalu menoleh kepengendara motor.
"Apa?"
"Ih si onyon, lo ngancurin semuanya tadi oon. Kalo lo nggak nolong dia, gue bakal nonjok dia ampe pingsan. Dan gara-gara lo dia bisa kabur dari gue,"ucap Devan dengan nada ditinggikan.
Rere memutar bola matanya malas. "Terus?"
Kesal dengan respons Rere, Devan mengepalkan jari-jarinya keras. Seperti siap untuk menonjok Rere. Sedangkan Rere hanya menatap Devan sedikit malas dan takut.
"Mau nonjok gue? Silakan nih, mumpung gue lagi males hidup,"ujar Rere menujuk pipinya yang mulus.
Bukannya menonjok Rere, Devan malah menonjok pipinya untuk membayar rasa emosinya. Ia tidak tega jika menojok seorang wanita karena dia juga masih mempunyai seorang ibu.
"ARGH!!"teriak Rere diisaki tangisan yang membuat Devan melihatnya kebingungan. Takut disangka di apa-apain sama dirinya.
Rere menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia meluapkan tangisannya sebanyak mungkin. Tidak melihat ada orang atau tidak disekitarnya. Devan turun dari motornya dan mendekati Rere. Ia menarik-narik tangan Rere.
"Lo kenapa sih, Pare?"tanya Devan bingung.
Sesegera mungkin Rere menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya.
"Nggak kenapa-kenapa. Anggep aja tadi orang gila teriak,"ucap Rere.
"Lah ngaku gila juga lo."
"Terserah." lalu Rere mengayuh sepedanya meninggalkan Devan sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Hate And Love
Teen Fiction[Cerita ini murni pikiranku dan tanganku. Jika ada kesamaan dengan yang lain itu tidak sengaja] Bagaimana jika seorang gadis manja sekelas dengan lelaki tegas,jail dan Seorang gadis itu pindah ke Sma Galaksi, sekolah terfavorit dikalangan remaja. Ia...
