Aku paling suka main bola, sejak kecil bola adalah duniaku. Menurutku bola bukanlah sekedar benda bulet yang bisanya dimainkan, tapi lewat bola-lah aku bisa melampiaskan emosiku. Dalam berlari menggiring bola aku bawa emosiku disana, menerjangi lawan satu demi satu untuk tercapainya bolaku ini ke induknya, yaitu gawang.
Ayahku memang seorang yang tegas dan keras, ia membimbingku menjadi laki-laki yang kuat dan bisa berdiri diatas perihnya kehidupan. Layaknya bola, aku butuh digiring oleh seorang yang menghendaki ku kearah kebaikan hingga aku menemukan jati diriku sendiri masuk ke alam gawang bertemu dengan impian.
Setiap kali aku bertanding bola, entah lomba agustusan di kompleks, entah ekstra di sekolah, aku selalu menjadi kebangaan timku. Setiap aku melihat kearah bangku supporter aku selalu teringat bayangan ibuku dan ayahku yang tetap setiap memandangiku dan meneriakkan semangat untuk kemenanganku. Bahagiaku sederhana, cukup mendengar teriakan suporterku yang berteriak "Hidup Arvie! Semesta berpihak kepadamu, kemenangan di depanmu!"
Mimpiku dari kecil ingin menjadi seorang atlet Sepak Bola Indonesia. Bisa mewakili Negara untuk melawan kelincahan kaki atlet Negara lain. Merasakan atmosfer dimana supporterku berdandan ria dan membunyikan terompet kebangsaannya sambil mengibarkan bendera merah putih. Aku tidak peduli, jika hujan gerimis ataupun badai datang disaat aku berjuang, karena hujan itu baik, dia tidak tega jika aku berlumuran keringat menggiring bola, dia mencuci keringatku dan mengubahnya menjadi air mata kebahagiaan atas keberhasilanku meraih skor yang melebihi lawanku.
Dimulai dari hal-hal kecil yang ibu ajarkan kepadaku, bahwa mimpi pasti akan ada titik temunya asalkan kita tetap berlari mengejar mimpi itu.dan yang pasti, aku Arvie anakmu bu, pasti akan membawamu kebangaan di dunia ini.
Di SMA Muara Hati ini aku mendaftarkan diri mengikuti ekstrakulikuler sepak bola, setiap istrahat dan pulang sekolah, aku dan teman-temanku selalu bermain bola di halaman sekolahku ini. Tanpa lupa dengan pelajaranku, aku tetap belajar untuk sekolah.
Aku dipilih menjadi ketua kelas, bagi teman-temanku aku adalah orang yang bisa diandalkan. Ketika guru menyuruhku aku selalu mengerjakannya semaksimalku. Dan aku memandang itu semua adalah anugerah dari Tuhan untukku, karena dimulai dari situlah aku bisa memimpin diriku sendiri dan memimpin teman sekelasku. Layaknya ketika aku bermain sepak bola, sebelum aku memimpin timku, aku harus bisa memimpin diriku sendiri.
"Ketua kelas 10, 11 dan 12 dimohon berkumpul di depan lobby sekarang!" Suara pengumuman dari kepala sekolah terdengar keras di sound setiap kelas sekolah ini, dan aku berkumpul memenuhi panggilan kepala sekolah.
"Kalian saya kumpulkan pagi ini disini, karena saya akan mengumumkan pengumuman penting. Yang pastinya sangat berpengaruh untuk nilai SMA kita ini. Ada yang sudah mendengar sebelumnya?"
"Belum pak" jawab para ketua kelas dengan muka ingin tahu
"Provinsi kita, mencari siswa yang memiliki talenta sepak bola yang akan dibimbing dan dibiayai oleh provinsi untuk menjadi bintang sepak bola Indonesia, dari berpuluh-puluh SMA di kota ini akan diseleksi dan diambil hanya satu siswa saja. Saya selaku kepala sekolah meminta kepada kalian yang memiliki bakat sepak bola untuk mengikuti persaingan kali ini, siapa tahu sekolah kita terpilih. Dan menjadi kebangaan di sekolah kita ini."
Arvie dalam hatinya sangat berkejolak, dia spontan bertanya,
"permisi pak saya mau bertanya, apakah ada persyaratan khusus untuk siswa yang mengikuti persaingan itu pak?"
"pertanyaan yang bagus Arvie, pastinya ada, dan mungkin akan sulit diterima oleh siswa, yaitu kalian harus merelakan meninggalkan SMA kita ini dan pindah di kota lain yang pastinya sudah ditentukan oleh provinsi, yaitu sekolah khusus atlet sepak bola. Dan bukan hanya itu saja, kalian harus terima kehilangan waktu bermain dengan teman-teman kalian karena waktu kalian akan banyak disita untuk berlatih menjadi atlet sepak bola"
Sebenarnya Arvie ingin melanjutkan mimpinya menjadi seorang atlet sepak bola, akan tetapi persyaratan yang dikatakan kepala sekolah membuat Arvie harus berpikir dua kali.
"Kalian tidak usah khawatir, untuk seleksinya akan dimulai tahun depan dan kalian dapat berlatih mulai dari sekarang. Untuk pendaftarannya akan dibuka bulan juni mendatang yaitu 5 bulan lagi. Baik apakah ada yang kalian tanyakan?"
"jika tidak ada, saya akan akhiri pengumuman kali ini. Dan silahkan kalian kembali ke kelas kalian masing-masing"
KAMU SEDANG MEMBACA
RAPUNZELINE ( ENDING )
RomanceDi dunia yang serba bebas sekarang ini, ada seorang gadis bernama Carolline. ia bukan gadis biasa yang bebas keluar dan menikmati dunia layaknya orang lain, ia adalah gadis seperti Rapunzel. Di hidupnya yang tidak memiliki teman, ia akhirnya dipert...
