Penetapan Awal Ramadhan, Kenapa Sering Berbeda?
Tue 25 June 2013
Pertanyaan :
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ustadz, mana metode yang paling tepat untuk kita pakai saat ini dalam rangka menetapkan awal Ramadhan? Selama ini kita kenal ada dua metode besar, yaitu rukyatul-hilal dan hisab.
Dalam pandangan saya, seharusnya kita sepakati dulu mana metode yang akan kita pakai bersama, biar hasilnya tidak akan saling berbeda. Dan di zaman yang sudah serba komputerisasi ini, malu rasanya kalau untuk menetapkan tanggal satu Ramadhan saja kita masih harus berpusing-pusing mengintip hilal yang entah kelihatan atau tidak.
Kenapa tidak ditetapkan saja sejak awal jadwal jatuhnya Ramadhan untuk tiap tahun selama 100 tahun ke depan misalnya. Sehingga rakyat tidak perlu lagi sibuk ikut menghitung-hitung atau berpanas-panas di lapangan untuk merukyat hilal?
Mohon pandangan dari ustadz atas masalah ini. Dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak.
Wassalam
Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apapun metode penetapan awal Ramadhan dan Syawwal, baik yang menggunakan hisab atau pun ru'yat, sudah bisa dipastikan hasilnya pasti berbeda-beda.
Jangan dikira kalau seluruh bangsa Indonesia sudah kompak dan sepakat bulat pakai hisab, lantas hasilnya pasti sama dan urusan jadi selesai.
Sebab ternyata di dalam sesama aliran hisab sendiri ada begitu banyak aliran dan metode yang hasilnya bisa dipastikan akan saling bertentangan. Padahal sama-sama berada dalam aliran hisab.
Dan begitu juga sebaliknya, jangan dikira kalau seluruh ormas sepakat meninggalkan aliran hisab dan berbondong-bondong menggunakan metode rukyat, lantas bisa dipastikan akan terjadi kesepakatan dari sisi hasilnya. Sebab sebagaimana kita tahu, tiap titik di atas tanah negeri ini bisa saja menampilkan perbedaan hasil rukyat hilal.
Jadi meskipun kita sebangsa dan setanah-air sepakat menggunakan salah satu dari sekian banyak versi penetapan awal Ramadhan, hasilnya sudah bisa dipastikan akan berbeda-beda juga.
Yang sebenarnya jadi titik pangkal permasalahan menurut hemat saya bukan pada pilihan metodenya. Tetapi ketika semua pihak, termasuk ormas dan jamaah-jamaah yang jumlahnya tidak terhingga itu, masing-masing merasa berwenang ikut-ikutan cawe-cawe (get involve) mengurusi penetapan awal Ramadhan.
Makin banyak yang terllibat, maka akan semakin besar titik perbedaannya. Ibarat kasus macet di jalan-jalan kota Jakarta yang diurusi oleh 'pak Ogah'. Keterlibatan oknum-oknum 'pak Ogah' ini lebih sering menjadi sumber masalah. Bukannya kemacetan terurai, tetapi malah semakin bertambah macet.
Kalau tiap kelompok masyarakat atau bahkan tiap orang dibolehkan untuk menetapkan sendiri-sendiri, pasti perbedaan awal Ramadhan dan Lebaran tidak bisa dihindarkan. Bahkan boleh jadi perbedaan itu bukan hanya di dua hari yang berbeda, bisa saja menjadi tujuh hari yang berbeda.
1. Domain Negara
Segala macam khilaf dalam penentuan awal Ramadhan tidak akan pernah ada jalan keluarnya, selama tidak ada satu pihak yang diakui bersama dan ditaati.
Nah, justru disinilah sumber titik masalahnya. Umat Islam di negeri ini terlanjur menganggap pimpinan ormas dan jamaah mereka sebagai pusat pimpinan. Kepada pimpinan masing-masing ormas dan jamaah iniah mereka memberikan loyalitas dan segala ketaatan mutlak.
Padahal jumlah ormas dan jamaah di negeri kita tidak terhingga bilangannya. Bisa ada sejuta ormas dengan sejuta perbedaan masing-masing.
Padahal kalau kita kembalikan ke dalam sejarah Islam, seharusnya satu-satunya pihak yang ditaaati bersama, minimal dalam urusan penetapa awal Ramadhan itu adalah as-Sultan. Dan untuk dimensi bangsa Indonesia saat ini, representasi dari sulthan ini tidak lain dan tidak bukan adalah penguasa atau pemerintahan yang sah.
KAMU SEDANG MEMBACA
ملخص الفقه الإسلامي {٤} - كتاب أحكام الصيام ✓
Spiritualبِسْــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم الحمدلله وكفى، وسلام على عباده الذين اصطفى. وبعد... Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Salawat dan salam kepada nabi Muhammad Saw. Fiqih sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Karena...
