"Aku tak menyangka pria sipit itu rela bertindak sejauh itu, bahkan ia rmelukai seorang perempuan yang tak berdaya" ucap Angga sambil menahan rasa sakit nya ketika tangan nya yang terkilir dibenarkan.
"Saya sudah tak bisa berpikir lagi ndan" gurau Rama
Mereka pun tertawa, Rama pamit karena harus pergi ke kota. Sudah lama ia tak mengabari kekasih nya itu, dan juga keluarga nya.
"Tunggu saya juga mau ikut, saya mau beli roti bakar" ucap Angga sambil mengikuti Rama
*****
Isya mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina nya. Ahh, pasti ini unit kesehatan dimarkas Pak Rama. Lalu? Kemana Syifa?
Isya pun pelan pelan duduk dengan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Meneliti sekeliling ruangan, mungkin Syifa diruangan lain. Meskipun ia ingin melihat syifa tapi sepertinya tubuh nya tak bisa di ajak kompromi. Tak lama pintu ruangan terbuka
"Hai Isya" sapa Kevin sambil menyimpan buah tangan nya di meja dekat isya
"Kak Kevin? Kok bisa disini?"
"Saya yang seharusnya nanya, kok bisa kamu disini?"
"Hah? Entahlah, terlalu rumit otak isya belum siap diajak mikir nihh"
"Haha.. Kamu lagi sakit juga tetep lucu yahh"
"Hmm.. Kakak sendiri?"
"Berdua kok"
"Sama Kak Budi?"
"Sama bayangan" Mereka pun tertawa
"Kak Kevin, Isya minta tolong boleh?" tanya Isya
"Minta tolong apa?"
"Tolong bawa isya ke kamar syifa bisa?" tanya Isya
Kevin terdiam sebentar
"Syifa baik baik aja kan?"
"Ia belum sadar sampai saat ini"
"Hah!? Kok bisa? Isya harus kesana"
*****
Isya duduk dikursi roda memandangi Syifa yang masih terbaring. Ia sendirian diruangan ini, setelah meminta Kevin pergi meninggalkan nya. Ia memang benar benar butuh waktu untuk sendiri
"Harusnya Syifa gak kesana, harusnya syifa gak perlu gendong isya sampai kena luka tembak ditangan gini. Harusnya Syifa gak datang, harusnya Syifa gak perlu jadi sahabat Isya" Tangis Isya ditangan Syifa
"Saya kira kamu belum sadar" ucap seorang pria
Isya terkejut kemudian membalikkan kursi roda nya dan melihat Angga disana
"Terima Kasih Pak sudah menyelamatkan kami" ucap Isya tulus
"Hei.. Berhentilah menangis, Syifa pasti membenci mu kalo sampai kamu menangis" balas Angga sambil tersenyum
"Ah.. Sebenarnya apa yang ada dihutan barat itu?" tanya isya penasaran
"Hmm.. Saya akan menjelaskannya setelah Syifa terbangun" jawab Angga sambil menghampiri meja disamping syifa, kemudian meletakkan secarik kertas
"Itu apa?" tanya Isya polos
"Ohh, emm hanya pesan singkat untuk syifa. Saya titip yahh" ucap Angga sambil berjalan menuju pintu
"Ah.. Pak sekali lagi terima kasih"
"Isya kamu tau? Bagi kami tentara, ketika kami memakai seragam ini keselamatan negara beserta isinya adalah hal utama bagi kami. Mungkin kata kata ini pasaran tapi percayalah, kejadian ini dan menyelamatkan kalian adalah tanggung jawab kami. Jadi tak usah khawatir" balas Angga tersenyum kemudian keluar dari ruangan tersebut
KAMU SEDANG MEMBACA
Siap! Salah Jodoh?? (complete)
EspiritualSeorang pria berseragam TNI duduk disamping seorang perempuan berpakaian Dokter dengan seekor kucing dipangkuan perempuan tersebut. "Papa akhirnya tau Ra!!" teriak seorang pria yang menyebut dirinya sebagai Papa diseberang sofa mereka. "Siap! tau ap...
