HIS 10

2.2K 257 13
                                    

Dari belakang, seseorang melingkarkan sebuah syal songket berwarna merah di leher yerim. Yerim yang sedang duduk di ayunan terdiam membiarkan dia memasangkan syal itu untuk menghangatkan lehernya.

Kemudian kedua lengan kekarnya memeluk leher yerim dari belakang.

"Kenapa di sini, hm?"

"Sejak dulu taman ini selalu membuatku betah." yerim berbicara sambil terus menatap ke depan.

"Hm. Begitukah?" jawaban yang terkesan sekenanya. Dia lebih fokus mengendusi rambut yerim yang beraroma cherry bercampur daun kering.

"Hem. Iya." jawab yerim antusias.

Taman belakang mansion Keluarga Jeon yang sejak pertama kali yerim menginjakkan kaki di sini, ia sudah menyukainya. Di sini pula lah awal mula pertemuannya dengan seorang anak kecil laki-laki berwajah dingin yang sekarang telah mengubah hidupnya.

Jungkook yang sedari tadi mengendusi rambut yerim kini menegakkan badannya. "Sudah cukup. Sekarang kita masuk ke dalam." jungkook mengulurkan telapak tangannya di samping yerim. Yerim menoleh dan menerima uluran tangan jungkook.

Jungkook menggenggam tangan yerim erat sampai tanpa sadar yerim sedikit mendesis karenanya.

"Heh, tidur sana," ujar jungkook datar, pada jeno yang sedang tiduran di sofa, ia masih betah bermain game online di ponselnya.

Jeno melirik sengit ke arah jungkook yang berjalan menaiki tangga. Kemudian jeno mengacungkan jari tengahnya tanpa terlihat oleh jungkook.

"Aku melihatmu, jangan macam-macam," ucap jungkook tanpa menoleh ke arah adiknya.

Yerim menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua kakak beradik ini. Tipikal Keluarga Jeon sekali.

Saat ini mereka berdua telah berada di kamar jungkook. Kamar yang menjadi saksi bisu dimana jungkook menyatakan klaimnya atas yerim. Kamar ini sudah berubah, tidak lagi ada bed cover bergambar iron man. Kamar ini menjadi lebih bernuansa, maskulin.

"Kamu tidur ya," jungkook berujar sambil mengelus kepala yerim yang sudah berada di atas bantal.

"Kamu nggak tidur?" yerim menatap jungkook yang duduk bersandar di kepala ranjang.

"Nanti aja. Belum ngantuk. Kamu tidur aja, aku jagain."

Yerim mendongak menatap jungkook yang juga sedang menatapnya. Senyuman tipis tercetak di bibir yerim. Kemudian yerim mengalihkan pandangannya.

Semakin lama yerim merasakan elusan tangan jungkook di kepalanya terasa nyaman. Perlahan mata yerim terasa berat dan detik berikutnya yerim terbawa melayang ke alam bawah sadar.

Suara napas yang teratur membuat jungkook menoleh yerim. Jungkook kemudian mengecup basah kening yerim cukup lama.

Jungkook bangkit dari atas ranjang, dia mengambil jas kerja berwarna senada dengan celananya dan kunci mobil, kemudian berjalan keluar dari kamar.

Di ruang keluarga, jungkook melihat jeno yang sudah tertidur di atas sofa dengan ponsel yang masih digenggamnya.

Jungkook berdecak, "Bebal."

"Kemana kau?" suara bariton seorang pria menghentikan langkah jungkook.

Jungkook menoleh ke arah sumber suara. "Main. Cari angin," jawabnya. Setelah itu jungkook kembali melangkahkan kakinya.

Pria paruh baya tersebut tidak memberikan sahutan. Dia kembali dengan aktifitasnya membaca buku.

■■■

HIS [JUNGRI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang