Sungguh aku tidak menyukai situasi seperti ini. Sunyi, hanya detak jantung dan denting jam yang terdengar. Sesekali helaan nafas terdengar.
"Minju"
"Ya Pa" ia mendongak ketika namanya dipanggil.
"Saya kecewa denganmu"
Papa Yujin menatapnya tajam.
"Ini bukan salah Minju Pa" sela Yujin.
"Ini salahmu juga Yujin, Papa tidak hanya menyalahkan Minju. Kamu kira Papa tidak tahu kelakuan kalian selama Papa berlibur hah? "Papa Yujin kelihatan sangat marah.
Ia kemudian jalan ke meja kerjanya mengambil map coklat dari dalam lacinya dan melemparnya ke Minju.
Minju sudah gemetaran, ia juga menahan tangis merasa sangat bersalah dengan orang yang berjasa dalam hidupnya. Yang sudah memberi adiknya kehidupan layak sekaligus menyelamatkan ibu tirinya.
Disampingnya Yujin sudah menggertakkan gigi marah dengan apa yang diperbuat Papanya.
"Buka!!"
Tangan Minju bergerak meraih map coklat dihadapanya.
Ia mengambil lembaran kertas didalamnya.
Sertifikat apartemen(?)
Surat yang masih didalam amplop (?)
Surat perjanjian yang ia tanda tangani saat menerima tawaran Papa Yujin untuk menjadi anak angkatnya(?)
Dan kunci mobil (?)
Ia bingung saat menerima barang-barang itu.
"Robek surat perjanjian itu!!" perintah sang Papa.
Minju hanya menatap bingung sekali lagi.
"Robek Kim Minju!" titahnya sekali lagi.
"Tapi Pa?"
"Robek!!!! Kamu bukan lagi bagian dari keluarga Ahn!!" bentak sang Papa.
"Pa!!" Yujin ikut bersuara. Minju sudah menangis disana. "Papa nggak bisa seenaknya seperti itu!"
Papanya menghela nafas, duduk didepan mereka lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian mengambil surat perjanjian dari tangan Minju dan merobeknya sambil berbicara. "Kalian ini bikin Papa pusing. Kalau ini dirobek begini kan kalian bisa pacaran lagi. Papa bisa jadiin Minju menantu Papa. Kalian nggak mau hmm?"
Yujin dan Minju hanya plonga plongo saling menatap bergantian.
"Kalian nggak suka??" tanya sang Papa lagi
"Pa...P-papa serius?" Minju bertanya dengan ingus dan air mata yang berderai.
Sedangkan Yujin malah menatap Papanya sambil berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.
"Hmm.. Papa serius. Itu apartemen sama mobil buat kamu. Surat yang dalam amplop itu pembatalan anak angkat. Juga Papa minta tetap urus perusahaan Papa karena si tengil Yujin ini belum bisa diandalkan. Oh ya.. Pernikahan kalian bisa diurus pelan-pelan sekalian nunggu Yujin lulus dulu" jelas sang Papa.
Minju melongo. Tapi Yujin masih berekspresi marah.
.
.
.
.
.
Papa Yujin menatap putranya dengan pandangan heran. Tak ada ekspresi bahagia.
"Yujin, Papa merestui kalian loh ini. Kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Minju bukan kakak angkat kamu lagi. Kamu nggak seneng?" tanya sang Papa.
"Sama. Sekali. Nggak. Lucu. Pa!!"
Yujin keluar sambil membanting Pintu.
.
.
.
.
Yawla Jin mau lu apa sih?
Pendek dulu yaaa.. Readers mau double up enggak?
Nanti yah aku kuliah dulu.. Byeee
