Melihatmu, kutanggalkan sejenak pisau yang ku niatkan untukmu, berbeda hati ku lihat tatap yang berbeda dari biasanya, tatap yang belum sempat kusyukuri, sejuk yang belum sempat ku gigilkan.
Lelah yang tak kuasa lagi kutahan, tak ada pilihan lain untukku bersandar, tergoda melihat bahu yang begitu lapang, dengan nafas terengah-engah ku senderkan beberapa resah padamu sayang.
Meracau dalam nyenyat, berharap bisa kusingkirkan sejenak, entah sudah tak kupedulikan jarak, karena begitu nyaman malam ini, seperti tak ingin merasakan pergi, atau seperti kepergian itu sendiri.
Beberapa hal akan terlalu menyakitkan, terlalu haru untukmu tahu tentangku, karena aku tak tahu, apakah nanti, dapat kutemukan bahu sepertimu lagi di kemudian hari.
Begitu hangat, seketika lenyap, gelisah yang kerap kugumamkan, tak sadar ku terlelap, meringkuk dipelukanmu, mendekap begitu erat, seakan tak mau ku lepas.
Meski aku tahu, rintih yang kulepas dengan terpaksa malam ini, belum tentu akan kusesali beberapa malam setelah ini, setelah ku mati.
Aku tahu kenapa rasa ini terlalu tak biasa, karena sekarang adalah sempat terakhirku, lekas-lekas ku sempatkan, terpeluk, tergila-gila akan suhu tubuhmu, sebelum kamu pergi, dan memberi sandar bahumu pada orang lain.
Orang yang lebih manja dariku, yang akan selalu tersender lelah disampingmu, yang akan selalu tertidur nyenyak di pundakmu, yang akan selalu rasa akan kenyamananmu, yang akan lebih bahagia dariku, yang akan tertawa lebih riang bersamamu.
Aku yang sendiri, melihatmu teramat jauh, bergeliat mesra dengannya, sementara aku, kembali di hariku seperti tanpamu, dulu. Entah apa yang akan kulakukan setelahmu pergi, setelahmu meninggalkanu lebih jauh, lebih jauh dari yang sempat ku kejar.
Sementara kau pergi, pisau ini kembali ke tanganku, kembali denga rasa ku tanpamu, kembali tanpa tempat untuk ku benamkan gelisah, kembali seperti sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa.
Sementara kau pergi, aku berharap semoga nanti kau bisa datang kembali menemuiku, datang sebelum kau melihat pisau itu berada menancap dalam-dalam diperutku.
Semoga kau melihatku bukan sebagai mimpi burukmu, aku hanya ingin kau tahu, bahwa disini ku kembali terluka, setelah sebelumnya kau manja, tapi itu hanyalah sebuah waktu yang tak mampu ku paksa.
Kini kau memilih pergi, dan aku pun memilih pergi, pergi melupakanmu, menepikanmu, tanpa segenggam ingatan apapun tentang kita, lupakan aku, aku bukan siapa-siapamu.
Maafkan aku.
- badutcerdas
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Nyata Dalam Mimpi
PoetryKamu tak bisa menebak hatimu sendiri. Hari ini kamu jatuh cinta, besok bisa jadi patah hati. [Cara baca; Gunakan latar belakang berwarna hitam untuk hasil yang maksimal.]
