Walaupun dihari yang penuh air mata, bagaimana bisa hati yang kau anggap tak pernah ada ini, masih saja memohon dibawah kata harus.
Mungkin,
Walaupun beberapa hari terasa melelahkan, tapi entah mengapa raga masih saja egois akan semua ini, memaksa agar kau tetap tinggal.
Kalau saja hujan berhenti di hari itu juga, aku mungkin hanya akan berjalan melewatimu, karena kaupun sendiri tak pernah sekalipun melihatku.
Andai saja saat itu bisa datang tepat waktu bus yang biasa kunaiki, aku mungkin takkan sanggup bertemu denganmu lagi, karna aku tau seberapa sombongnya waktu.
Kalau saja bisa menunggu sedikit lebih lama lagi, aku mungkin takkan mau duduk lebih lama lagi, karena aku takkan mau menunggumu.
Kalau saja kita bisa bersama lebih lama lagi, mungkin itu hanya akan terlihat semakin buruk, karena pasti kan semakin terlihat jelas perbedaan antara kita.
Kalaupun masih ada waktu, kita mungkin takkan bisa lagi bergandengan tangan dibawah mimpi yang sama, karena kita mungkin telah berjalan dijalur takdir yang berdeda.
Meski masa depan bersamamu selalu ku ingin melihatnya, saat kita berada diatas tempat dan dibawah bintang yang sama, saat disana kita kan selalu memandanginya.
Meski aku selalu memohon, untuk kembali ke ingatan yang sama, aku mungkin bukan lagi yang tergambar jelas di ingatanmu.
Meski aku selalu membayangkannya, di masa depan saat kau membayangkan dirimu, mungkinkah aku ada disana, dilangit dan ingatan yang sama, yang kan selalu kita cari bersama.
Tapi bagaimana aku bisa sebodoh ini, mengharapmu saat kau sudah mengharapkan yang lain, mengingatmu saat kau sudah teringat yang lain, mencintaimu saat kau sudah mencintai yang lain.
Oh tuhan, berharap aku terbiasa akan semua ini, aku sudah teramat puas dengan penderitaanku, aku sudah bosan akan air mata, aku sudah tak sudi lagi menangis, air mataku sudah mengering teramat lama.
Maka ijinkanlah aku memejamkan mata malam ini, hilangkanlah ingatan-ingatan yang kerap membuatku merasa tak bisa mengikhlaskannya.
Lelapkan aku diantara senandungMu, berharap bahwa esok sudah tak ku ingat lagi tentangnya, sudah tak lagi egois akan harapan yang pernah ku pinta.
Berharap ku bisa terbangun menjadi orang lain, mempunyai mimpi dan harapan yang lain, yang tak pernah sekalipun mengenal arti kesedihan akan menunggu, yang tak pernah lagi mengingatnya dibawah kata Mengapa.
Ijinkanlah aku memejamkan mata malam ini, menari-nari di alam tenang mimpiku, biarpun aku takkan sanggup lagi terbangun di esok hari, maka lelapkanlah aku, tenangkanlah aku di atas sana, karena aku akan lebih bahagia bila bersamaMu.
- badutcerdas
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Nyata Dalam Mimpi
PoesíaKamu tak bisa menebak hatimu sendiri. Hari ini kamu jatuh cinta, besok bisa jadi patah hati. [Cara baca; Gunakan latar belakang berwarna hitam untuk hasil yang maksimal.]
