9 ▪︎ Sepuluh kali lagi?

1.5K 381 65
                                    

Suasana kelas XII IPA-1 sangat hening saat mengerjakan tugas matematika dari bu lia, hingga jarum jatuh pun hampir kedengaran ditelinga. Setelah beberapa menit kemudian, bel mengakhiri masa pelajaran itu. Seluruh murid mengumpulkan lembaran tugas matematika.

"Lembaran tugasnya saya nilai dulu dan akan dikembalikan minggu depan." Bu lia menutup kelasnya.

"Bu lia emang cantik ya, gue baru nyadar!" Batin sony. Otaknya mulai tak waras. Dia serasa memandangi seorang bidadari.

"Huh! akhirnya selesai juga." Ava menyandarkan bahunya dikursi. Ia Senyum bahagia karena berhasil menyelesaikan tugas itu dengan baik.

"Kantin kita!" Ajak ivan yang terlihat kelaparan setelah pelajaran horor itu menguras seluruh isi pikirannya.

Sebelum ava mengiyakan ajakan temannya, tiba-tiba seorang murid memanggil.

"Va!" Lalu ava menoleh kearah suara murid yang berdiri ditengah pintu.

"Iya, ada apa?" Tanya ava.

"Lo dipanggil pak abi keruangannya!"

"Iya, thanks." Sahut ava lalu menatap ketiga sahabatnya.

"Gimana ni, masa gue keruangan pak abi lagi. Gue yakin, pak abi pasti mau balas dendam gara-gara kejadian di cafe kemarin."

"Sekarang, tenangin hati lo dulu. Kita semua percaya, kalau lo pasti bisa ngadepin pak abi." Tia menenangkan ava.

"Mendingan sekarang lo keruangan pak abi! Lo nggak boleh kepancing emosi, nggak boleh ngelawan. Ingat pak abi itu guru kita, jadi harus hormat ya cantik!" Tutur sony sambil tangannya mencubit pelan dagu ava.

"Lo, ya! nasihat kayak petuah tapi tangan nya nggak bisa diem!" Hardik tia menarik tangan sony.

"Gue mau ngasih semangat doang ke ava." Bela sony. Tapi sekilas pandangan sony jatuh ke gelang titanium coklat yang dipakai tia. Persis dengan gelang yang dipakai silvi.

Beberapa waktu lalu ,sony mencari buku diperpustakaan. Dia melihat silvi sedang berjinjit kesusahan meraih sebuah buku. Sony membantu silvi kemudian berlalu tanpa bicara apa - apa.

"Kenapa gelang mereka sama ya?" Batin sony. Tapi, tia tidak menyadari kecurigaan sony.

"Daripada bertengkar, sekarang kita antarkan saja nona ava keruangan pak abi." Ivan menimpali celotehan teman-temannya.

Sesampai didepan pintu ruangan pak abi, kaki ava seakan tak rela untuk melangkah.

"Gue takut!"

"Sekarang lo masuk! nggak boleh takut. Kita tungguin lo disini." Kata tia memberi semangat.

Setelah mengetuk pintu dan suara diruangan itu menginzinkan masuk, ava memberanikan diri melangkah menuju meja abi.

"Mampus!! Ini hari kiamat gue paling akut!"

"Tadi bapak ada panggil saya?" Suara gemetar ava terdengar jelas di telinga laki-laki itu. Tapi wajah abi terlihat biasa aja menanggapi pertanyaan murid yang dihadapannya. Dia terus saja melirik ava yang sengaja dibiarkannya mematung tanpa kata.

Melihat gurunya yang belum juga mempersilahkan duduk, dengan sigap ava menarik kursi kearahnya.

"Nggak usah duduk! kamu berdiri aja disitu!" Tegas abi dingin.

"Dasar guru tegaan!" Ava merengut dalam hati. Ia mengingat pesan dari sahabat-sahabatnya untuk nggak boleh ngelawan pak abi. Ava harus menyesuaikan dirinya dengan dimensi kaku yang sampai sepuluh menit pertama belum juga ada respon apa-apa yang ditujukan ke dirinya.

HEARTIESTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang