Bab 3 - Tantangan Dari David

564 87 25
                                        

Dengan kaki yang terus melangkah masuk ke dalam Club. Evan sesekali mengedipkan matanya kemudian memajukan bibirnya seolah memberikan ciuman jauh kepada wanita-wanita yang terus saja menatap dirinya kagum. Yah inilah dunianya, Dunia yang dikelilingi orang-orang yang memuja serta menghormati dirinya.

“Lo tumben datang telat?” Tanya David.

Evan yang ditanya hanya melirik David sejenak kemudian mendudukkan dirinya disalahsatu sofa yang tersedia diruangan VIP.

“Sebagai anak sholeh, gue harus berbakti kepada orang tua dulu.”

“Van gue perhatiin tuh cewe ngelirik lo trus.”

Evan mengikuti arah pandang Regan “Dia ngelirik gue itu wajar. Yang ngga wajar itu kalau yang dilirik itu lo.”

Regan yang sudah terbiasa dijadikan bahan bullyan hanya mengelus dada
“Sabar. Orang ganteng mah banyak yang sirikin.”

Evan tersenyum geli, “Iya ganteng. Tapi diliat dari menara monas.”

“Van dia kesini tuh.”

Evan yang mendengar ucapan David segera berdiri sambil merentangkan kedua tangannya menyambut gadis yang kini berjalan dengan anggun kearahnya.

“Evan. Aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja sih sampai ngelupain aku.”

Evan tampak berfikir, kemudian mengelus pelan rambut gadis yang kini berada dipelukannya “Aku lagi banyak tugas di kampus el.”

Evan menatap bingung gadis di depannya. Kenapa gadis itu memasang wajah marah. Memangnya apa yang salah dari ucapannya barusan.

“El? Nama aku tuh Febriana Zaid bukan el!”

Evan mengerjapkan matanya. Inilah kelemahannya. Karena terlalu banyak mengencani gadis yang berbeda tiap harinya membuatnya tidak bisa mengingat wajah maupun nama mereka.

“Kamu jahat!!”

Evan menatap gadis itu dan matanya melotot saat menemukan gadis itu yang tengah mengayunkan tas genggam miliknya. Membuat evan mundur menjaga jarak.

“Fe--febi tunggu dulu, tahan!”

“Tahan apa! Kamu bahkan gak ingat nama aku. Brengsek, sini kamu!”

Regan dan David yang kini sudah berdiri di pojok ruangan menatap evan horor saat pria itu justru berlari kearah mereka “Febi tenang dulu, aku bisa jela--”

Bugh… sebelum tas itu terlempar dan mengenai Regan. Evan sontak menelan ludahnya kasar saat tas itu hampir mengenai wajahnya dan segera membungkukkan badan. Yang membuat tas itu mengenai muka Regan yang memang berdiri dibelakangnya.

Evan melotot horor. Gawat, gadis ini benar-benar serius.

“Dulu kamu bilang hanya aku satu-satunya gadis dihati kamu. Tapi apa? Setelah kencan kamu gak ingat aku sama sekali. Bahkan nama aku juga gak kamu ingat!”

Evan melotot lagi saat gadis itu melepas stiletto yang dikenakannya. Dan mulai berjalan mendekat. Sial, kenapa gadis anggun yang beberapa menit lalu dilihatnya, sekarang lebih mirip physyco?!.

***

Regan meringis saat menempelkan kompres di hidungnya yang kini berwarna keunguan. Asem memang. Evan yang berbuat, namun dirinya yang jadi korban. Evan yang dapat enak namun dirinya dapat yang enekin.

Ketiganya saat ini berada di apartemen milik evan yang kini berubah menjadi tempat best camp mereka.

“Gue tau lo berbakat buat anak orang tergila-gila sama lo. Tapi gue gak tau kalau lo juga berbakat buat mereka gila beneran!”

Evan yang sedang berbaring disofa melirik Regan dengan sebelah alis terangkat, “Perlu gue tambahin? Jidat lo masih mulus soalnya.”

Regan mendengus kemudian kembali mengobati lukanya.

Evan yang tiba-tiba teringat akan sesuatu segera mendudukkan dirinya. “Lo tau dia?”

David yang sedari tadi memainkan ponsel miliknya mengalihkan pandangan kearah Evan. Sedangkan Regan memilih bodo amat, sebab dirinya masih dalam mode kesal karena ke bar-bar an mantan teman kencan Evan yang membuat kegantengan yang dimilikinya luntur setelah mendapatkan lemparan tas.

“Siapa? Febi?”

“Bukan. Tapi gadis maba yang tadi siang.”

David tampak berfikir “Celyn? maba yang gue ajak mojok tadi siang bukan?”

Kali ini evan berdecak kesal “Bukanlah. Tapi maba yang mau lo jadiin korban.”

“Maksud lo nafisha?” jawab Regan yang membuat dirinya mendapat perhatian dari kedua temannya.

“Nafisha. Siapa?”

“Tetangga gue,” jawab Regan asal yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Evan “Tapi gue serius.”

“Serius apa!?”Kesal Evan.

“Kalau maba yang lo maksud itu. Nafisha, tetangga gue.”

Evan terdiam. Kemudian menatap Regan serius “Dia emang songong kek gitu? Trus pake acara sok jual mahal sama gue lagi.”

Regan menggeleng tidak setuju “Dia bukan songong apalagi jual mahal. Cuman setau gue dia emang gitu sama semua lelaki--ahh ralat, terkecuali satu orang. Rian. anak imam masjid. Liat aja penampilan dia bedakan sama cewe bar-bar yang sering lo ajak kencan?”

Evan mendengus remeh. Kemudian mengibaskan tangan kanannya di depan wajah “Halahh. Cuman beda di jilbab doangkan?. Di luaran sana juga banyak yang pake jilbab tapi kalau diajak mojok sama agresifnya yang gak pake jilbab.”

“Yah kalau kek gitu, kenapa lo gak coba buat dapetin dia!”

“Lo nantangin gue?”

David mengangkat kedua bahunya, “Terserah. Lo mau anggap apa.”

“Kalau gue bisa dapetin dia. Gue dapat apa?” Tantang Evan dengan senyum miring yang tercetak diwajahnya.

“Terserah lo. Tapi kalo lo gagal, mobil sport lo taruhannya.”

Evan tersenyum remeh kemudian menyisir rambutnya kebelakang dengan jari, “Gak ada kata gagal di kamus seorang Devano Rafly Henandra. Liat aja dalam waktu seminggu, dia udah taken sama gue.”

Regan dan David terkekeh geli mendengar kepercayaan diri yang ditunjukkan Evan.

“Oke. Kita kasih lo waktu sebulan buat dapetin dia. Kalau misi udah selesai, terserah, lo mau lanjut atau ninggalin dia pas lagi sayang-sayangnya,” Putus David yang diangguki Regan.

TBC
Menurut kalian chapter ini gimana?
Ada yang ingin disampaikan untuk

1. Devano?

2. Nafisha?

3. David?

4. Regan?

Dan jangan lupa follow Ig @Sriwahyuni_6104

FuckBoy PensiunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang