“Sha ada yang nyariin lo di depan.”
Nafisha yang tengah asik bercengkrama dengan Rara, menoleh ke arah teman sekelasnya yang memiliki rambut hitam pekat tergerai sepanjang bahu.
“Siapa?”
“Gue lupa namanya. Tapi yang pasti dia salahsatu panitia pas ospek dulu,” ucap gadis yang bernama Dira itu, dengan tangan yang terangkat menunjuk kearah pintu.
Nafisha berdiri dari duduknya, kemudian mengucapkan terima kasih kepada Dira yang dijawab anggukan dari gadis itu. Setelahnya Nafisha melangkah kearah pintu menghampiri sosok pria bertubuh jangkung yang tak pernah melepas tatapan mata padanya.
“Kenapa kak Evan nyariin Fisha?” Tanya Nafisha dengan kepala menunduk.
Tak kunjung mendapat jawaban, dengan pelan Nafisha melirik ke arah Evan. Penasaran apa yang sedang pria itu lakukan.
Evan berdehem pelan untuk mengurai rasa gugupnya pada gadis di depannya, “ Udah makan?”
“Udah kak,” jawab Nafisha yang dijawab anggukan dari Evan.
“Oh… baguslah. Kalau gitu gue mau ke kelas dulu.”
“Kak Evan kesini cuman mau ngomong itu?”
Evan yang baru saja berbalik, kembali menatap Nafisha “Gak juga sih. Gue kesini sebenarnya mau ngajakin makan siang di taman lagi. Cuman…kan lo udah makan jadi lain kali aja.”
“Kak Evan!”
Nafisha yang baru saja akan menaggapi ajakan Evan, seketika kembali mengatupkan bibirnya saat mendengar suara seorang gadis yang memanggil Evan.
Nafisha memperhatikan gadis yang mulai melangkah ke arah mereka dengan langkah kaki yang begitu anggun. Wajahnya yang putih bersih serta penampilan yang begitu kekinian. Begitu berbanding terbalik dengan dirinya.
“Yang lain udah nungguin kita di kantin, ayo kak,” ajak Celyn, dan tanpa canggung menarik lengan Evan, membuat pria itu melirik Nafisha, kemudian menepis tangan Celyn yang menggandeng lengannya.
“Lo duluan aja.”
Celyn mengangkat sebelah alisnya, kemudian melirik Nafisha yang berada di depan evan, “Kalau bisa bareng. Kenapa ngga?”
“Lepasin tangan lo!” desis Evan yang mulai terganggu dengan Celyn yang terus menggandeng lengannya.
Dengan wajah kesal Celyn melepas lilitan tangannya dilengan Evan.
“Pergi.” usir Evan
“A--apa?” Tanya Celyn setengah tak percaya.
“Gue gak suka ngulang kata-kata gue,” ucap Evan sembari menatap Celyn dengan tatapan dingin. Membuat Celyn mengepalkan kedua tangannya merasa terhina atas perlakuan Evan padanya. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun Celyn meninggalkan Evan dan Nafisha dengan menghentakkan kakinya kesal.
Nafisha melirik kepergian Celyn yang sangat terlihat jelas menahan amarah yang sudah siap meledak.
“Gak usah perduliin dia,” ucap Evan yang membuat Nafisha mengalihkan pandangan padanya.
“Kak evan---”
“Gue jomblo kok. Belum ada gandengan,” ucap evan cepat, sebelum Nafisha berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
Nafisha menatap Evan bingung, kemudian terkekeh pelan “Fisha cuman mau tanya sekarang jadi makan siang gak? Kayaknya Nafisha lapar lagi.”
Mendengar ucapan Nafisha, Evan juga ikut-ikutan terkekeh “Jadi dong,” ucapnya sembari memamerkan kotak bekalnya pada Nafisha.
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Novela JuvenilDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
