Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain DIA. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNYA. (Imam Syafi'i)
"Nafisha."
Nafisha yang baru saja menyuapi mie kedalam mulutnya. Mengangkat pandangannya dengan mulut penuh. Nafisha hanya bisa melambaikan tangannya saat melihat orang itu justru berbelok kearah kanan. Yang dijawab tunggu tanpa suara dari gadis itu.
"Kamu kok gak ajak aku kalau mau kekantin. Kan bisa bareng sha daripada duduk sendirian kayak gini."
Aku menatap gadis yang kini menggeser kursi di sampingku setelah meletakkan sepiring gado-gado.
Rara. Dia adalah gadis yang membantuku kemarin dengan Rian. Rara dan Rian merupakan teman satu sekolah. Sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah pertama. Rara merupakan gadis yang baik dan aku menyukai sikap ramahnya. Namun ada yang paling aku kagumi dari Rara, ialah semangatnya. Walaupun berhijab sepertiku, tapi tidak dapat menghalangi kegiatan gadis itu. Salahsatunya olahraga taekwondo yang ditekuni gadis itu sejak 3 tahun terakhir.
Aku tertawa mendengar cerita Rara awal menekuni taekwondo, gadis itu menceritakan beberapa kejadian yang membuatku tertawa dan sempat melupakan bakso milikku yang masih tersisa sedikit dimangkuk.
"Memangnya kamu kok bisa masuk taekwondo."
Rara tersenyum geli mengingat saat dirinya sama sekali belum menyukai taekwondo.
"Abi. Abi bilang kayak gini sama rara 'Sebagai perempuan kamu juga harus pintar membela dirimu dikala abi saat itu tidak dapat melindungimu, Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam An Nasai dari Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan, seorang sahabat datang dan bertanya kepada Rasulullah Saw. Ia mengatakan, "Ada oknum yang menghampiri dan menginginkan hartaku secara paksa (apa yang harus dilakukan)?" Rasulullah menjawab "Ingatkan dia akan Tuhan. Bila tidak berguna maka mintalah pertolongan orang di sekitarmu dan jika tak ada satupun maka libatkan pihak berwenang, lalu bila ia menolak memberi pertolongan maka pertahankanlah diri dan harta bendamu sekalipun harus mempertaruhkan jiwa dan engkau akan jadi seorang syahid'."
Abi?
Seketika rasa iri kepada Rara tumbuh begitu saja. Apalagi melihat senyum bahagia yang terpancar ketika menceritakan sosok pahlawan dihidupnya.
Apa aku juga memiliki sesosok pahlawan seperti sosok abi yang Rara ceritakan? Yang kelak siap menolong serta menjagaku.
"Aku duduk disini yah. Soalnya udah gak ada tempat kosong."
Aku yang mulanya merenung. Mengangkat pandangan dan melihat sahabatku, Rian mengambil kursi dan duduk di depan kami setelah terlebih dahulu meletakkan semangkuk mie ayam, setelah mendapat anggukan dari Rara.
"Bakso kamu gak dihabisin sha?"
"Fisha udah kenyang."
Rian menggelengkan kepalanya kemudian menggeser mangkuk bakso milikku kearahnya.
"Mubazir itu perbuatan setan dan akan mengurangi pahala sedekah," setelah mengatakan itu, Rian menyuapkan sisa bakso milikku kedalam mulutnya menggunakan sendok milikku.
Aku tersipu memikirkan Rian yang memakai sendok milikku. Yah, aku juga memiliki sesosok pahlawan seperti abi yang Rara miliki. Rian. Pria yang selalu menjaga serta melindungiku disaat aku membutuhkan perlindungan sosok ayah. Pria yang senantiasa mengingatkanku dikala lalai sekaligus pria yang kuharapkan kelak dapat mendampingiku untuk meraih surga-Nya.
Astaghfirullahalladzim.
Aku yang tersadar akan pikiranku tentang Rian segera menggelengkan kepala. Aku tidak boleh seperti ini, karena menaruh harap kepada manusia merupakan hal yang percuma. Karena manusia hanya bisa merencanakan tapi tetap Tuhan yang menentukan.
***
Nafisha segera berdiri kemudian melambaikan tangan kanannya saat melihat angkutan umum, Namun angkutan umum itu hanya membunyikan klakson pertanda angkutan umum itu sudah penuh. Jam sudah menunjukkan setengah 4 yang menandakan sebentar lagi akan memasuki waktu shalat ashar dan diwaktu seperti sekarang ini tidak aneh jika dirinya susah mendapatkan angkutan umum.
Nafisha yang duduk dikursi halte kembali berdiri dan kembali melambaikan tangan saat melihat angkutan umum yang mulai mendekat kearahnya.
Setelah melihat angkutan umum itu yang berhenti tepat di depan, dengan cepat Nafisha mengambil tas punggung miliknya yang berwarna biru langit itu, yang tergeletak diatas kursi halte.
"Gak jadi pak."
Nafisha yang baru saja mengangkat kaki kanan untuk naik, merasakan tangan kirinya ditarik yang membuat kakinya kembali turun dan mengikuti langkah pria yang menarik tangannya.
Pria?
Nafisha yang baru sadar dari rasa terkejut. Memberontak, agar tangan pria itu terlepas.
Pria itu melepas tangannya setelah berhasil menyeretnya sampai di samping motor sport berwarna hitam yang terparkir tepat di depan gerbang kampus.
Devano Rafly Henandra. Pria dengan tinggi sekitar 174 cm itu melipat kedua tangan didepan dada kemudian sedikit mencodongkan badannya ke depan untuk melihat wajah gadis yang masih setia menunduk di depannya.
Alisnya bertaut saat dirinya memiringkan kepala untuk melihat wajah gadis itu, namun gadis itu dengan cepat menoleh kearah yang berlawanan, kemudian mundur beberapa langkah seakan menjaga jarak darinya. Membuat evan berpikir "Lo takut sama gue?"
Nafisha segera menggeleng. Evan tampak berfikir kemudian kembali menegakkan badannya dengan kedua tangan yang dimasukkan kesaku celana jeans miliknya.
Sungguh dirinya begitu terganggu dengan gadis yang terus saja menunduk di depannya ini. Dirinya yang biasa mendapat tatapan memuja dari gadis manapun, merasakan harga dirinya jatuh karena gadis itu yang tak menatapnya lagi setelah tatapan mereka yang bertemu secara tidak sengaja dihari pertama ospek kemarin. Membuatnya berfikir, apa pesona dirinya terhadap gadis sudah mulai memudar?
Evan tertawa sendiri memikirkan pemikirannya yang begitu konyol. Mana mungkin pesona seorang Evan memudar. Bibit unggul yang diberikan oleh sang ayah padanya tidak akan mengecewakan mata para gadis yang menatapnya.
TBC
Menurut kalian ceritanya gimana?
Dan apa ada pesan yang mau disampaikan untuk
1. Devano si ganteng turunan
2. Nafisha?
3. Rian?
4. Rara?
Instagram
Sriwahyuni_6104
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Roman pour AdolescentsDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
