Evan menghentikan mobilnya di depan rumah Nafisha. Kemudian dengan cepat melepas seatlbet saat Nafisha turun terlebih dahulu, setelah mengucapkan terima kasih padanya.
“Sekali lagi terima kasih yah kak,” ucap Nafisha yang dijawab anggukan dari Evan.
Nafisha melirik Evan sekilas yang masih belum beranjak. Membuat Nafisha berpikir apa pria itu menunggu sewa darinya?
Membuat Nafisha merogoh saku kemejanya kemudian menyodorkan uang senilai dua puluh ribu.
“Uang sewa,” jawab Nafisha saat melihat raut kebingungan yang ditunjukkan oleh Evan.
Sedangkan Evan yang mendengar ucapan Nafisha seketika melotot. Lah kok kampret.
Setelah membuatnya merasa jadi seorang supir pribadi beberapa menit. Kini gadis itu bahkan membuatnya merasa jadi seorang driver online.
Evan menghela napas sabar. Yah sepertinya mulai sekarang dirinya harus memiliki stok kesabaran lebih dari biasanya.
Senyum Evan yang tampak begitu dipaksakan menghiasi wajahnya, “Gak usah. Gue ikhlas kok.”
Nafisha mengganggukkan kepalanya. Kemudian kembali menaruh uang disaku kemejanya.
Evan berdehem kemudian melirik Nafisha sekilas, “Kok rasanya tenggorokan jadi kering gini yah.”
Yah Evan baru saja melemparkan kode, agar gadis itu peka dan mempersilahkan dirinya untuk singgah. Kan gak mungkin seorang Devano Rafly Henandra, yang gantengnya sampai tujuh turunan secara terang-terangan meminta ditawarin.
Nafisha tampak berpikir, “Di perempatan sana ada toko es krim kak. Tokonya buka sampai pukul 7 malam kok jadi masih keburu jika berangkat sekarang.”
Evan menatap tak percaya gadis yang berdiri dihadapannya ini.
Lah beneran gak ditawarin singgah nih?
Seriu-- tunggu, kenapa Evan seakan mendengar kode Nafisha yang menyuruhnya segera pergi?
Ini dirinya yang terlalu peka? Atau gadis itu yang memang benar melempar kode balik?
***
Regan menatap ngeri Evan yang kini sudah menandaskan tiga gelas air putih.
Ini beneran Evan sahabatnya kan?
Bagaimana Regan tidak bertanya, pria itu datang bertamu kerumahnya diwaktu maghrib. Membuat pria itu bertanya-tanya ini Evan sahabatnya atau hantu perawan yang dirumorkan itu yang malah merubah bentuk jadi sahabatnya.
"Lo haus apa kerasukan?"
"Haus!" jawab Evan dengan nada yang begitu tidak santainya. Membuat Regan menggelengkan kepala melihat tingkah Evan yang terus saja nyolot, berbanding terbalik dengan kebiasaan +620 yang selalu santuy.
“Lo Evan sahabat gue kan?” yah kali ini Regan memberanikan diri untuk bertanya langsung. Kan kalau beneran hantu perawan bisa berabe.
Evan yang ditanya hanya menatap jengah Regan yang menatap dirinya was-was. Memangnya apa yang ada dipikiran pria itu.
“Kalau lo beneran Evan sahabat gue. Coba sebutin nama mantan pertama gue.”
Evan berdecak sebal, “Jangan kan mantan pertama lo. Gue bahkan tau rahasia besar lo.”
Regan memicingkan matanya “Lo bukan Evan. Gue mana ada rahasia besar.”
“Trus lo yang pernah dibuat babak belur sama mantan pertama lo itu bukan rahasia besar dong.”
Regan melotot tak percaya, “Lo kok jadi bahas itu sih!”
Evan terkekeh kemudian meletakkan gelas ketiga di atas meja bersama dengan kedua gelas yang juga sudah kosong.
“Tadi gue abis anterin Nafisha.”
“Trus gimana? Udah ada perkembangan belum?”
Evan menggeleng sembari menyandarkan punggungnya disandaran sofa, “Makin buruk. Tetangga lo itu agak susah buat dikelabui.”
Regan menjentikkan jari “Gue ada tips biar Nafisha bisa lo taklukin.”
“Halah gayaan punya tips. Lo aja sampai sekarang masih jomblo,” ucap Evan sambil mengibaskan tangan kanannya.
“Hehh gue juga jomblo bukan karna gak laku yah. Cuman gue belum nemu yang pas aja.”
Senyum mengejek terbit diwajah Evan “Belum nemu yang seperti mantan pertama lo itu kan? Bucin sama bego itu beda tipis lo.”
Regan mendengus tidak terima, “Lo bilang kek gitu, karena belum pernah rasain. Kalau udah sekali rasain yang namanya bucin, lo bakal susah lepas.”
“Gak akan,” ucap evan penuh percaya diri.
***
“Tadi diantar siapa sha?”
Nafisha yang hendak naik dilantai dua dimana kamarnya berada, mengurungkan niat. Kemudian memilih menghampiri Umminya yang kini memotong sayuran di meja makan.
“Teman Mi.”
“Yah teman kok gak diajakin masuk.”
“Gapapa Mi. Takutnya kalau diajakin masuk tambah besar kepala lagi.”
Ummi Nafisha menatap putrinya bingung, “Besar kepala gimana Sha?”
“Dia itu orangnya sombong Mi. Selalu membanggakan harta orang tuanya lagi.”
Ummi Nafisha tersenyum menatap putrinya yang tampak kesal.
Sedangkan Evan yang hendak keluar dari rumah Regan, mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
“Kok jadi merinding gini.”
TBC
Menurut kalian chapter ini gimana?
Ada yang ingin disampaikan untuk
1. Devano?
2. Nafisha?
3. David?
4. Regan?
Dan jangan lupa follow Ig @Sriwahyuni_6104
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Fiksi RemajaDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
