Bab 5 - Pengakuan Rian

432 81 33
                                        

Setelah memasukkan sebotol parfum kedalam kotak, yang disusul dengan secarik surat berwarna biru yang telah kulipat tengah. Aku membungkusnya sedemikian rupa dengan kertas kado berwarna biru langit.

Besok merupakan hari terakhir ospek. Dimana kami sebagai mahasiswa baru diperintahkan untuk memberikan kado pada panitia ospek pilihan kami, dengan secarik kertas yang berisi biodata kami.

Rian
Assalamualaikum sha. Udah tidur?
10.16

Waalaikumsalam. Belum ian.
10.17

Setelah mengirim balasan pesan Rian. Tanpa bisa kucegah senyumku terbit begitu saja. Membuatku menutup muka menahan rasa bahagia yang saat ini menghampiri. Suara dering ponsel membuatku sadar dan segera menjauhkan kedua tangan yang menutupi wajah.

Rian
Aku ada dibawah sha.
10.19

Aku berdiri dengan cepat, kemudian meraih jilbab instan berwarna hitam yang tergantung dibelakang pintu kamar. Kubuka jendela selebar mungkin, membuat angin malam masuk tanpa izin, “Ada apa?”

Rian mengangkat ponsel yang berada ditangan kanannya yang membuatku menatapnya bingung.

Angkat. Ucapnya tanpa suara. Membuatku segera mengambil ponsel yang sudah berdering diatas kasur.

Sha, aku punya kabar gembira.”

“Assalamualaikum!” sindirku sambil duduk dikursi kayu dekat jendela.

Disebrang sana, aku mendengar Rian terkekeh mendengar sindiranku, kemudian menjawab.

Waalaikumsalam.”

“Kamu bawa kabar apa?”

Aku suka sama rara. Dan aku butuh bantuan kamu.”

“Oh, bagus kalau gitu,” kataku dengan nada yang kuusahakan terdengar baik-baik saja. Kemudian menutup jendela kamar.

Bulir air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh begitu saja.

Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Menangisi perasaan konyol yang bahkan tak disadari pria itu. Apa cinta memang sesakit ini? Rasanya begitu sesak.

Aku tertawa miris. Mengingat cinta sepihak yang kurasakan. Padahal sudah lama aku berencana melupakan perasaan ini. Tapi entah kenapa semuanya hanya rencana.

***

Untuk yang kesekian kalinya, Evan melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul tujuh, dan Evan sama sekali belum melihat Nafisha berada dibarisan mahasiswa baru. Apa gadis itu terlambat?

Melihat jam yang sudah memasuki pukul tujuh. Evan memilih melangkah kearah pintu gerbang.

“Kinan!”

Gadis yang berdiri dipintu gerbang menatap evan dengan senyum yang menghiasi wajah “Iya,,”

“Biar gue yang jaga. Lo kelapangan aja bareng yang lain.”

“Karena gadis cantik kayak lo ini gak cocok buat jaga gerbang. Apalagi sendirian, takutnya ada yang gondol lagi,” sambungnya saat melihat tatapan bingung Kinan padanya.

“Bisa aja Van,” kekeh Kinan, kemudian memukul lengannya pelan.

Yah bisalah. Kalau naklukin gadis macam lo aja gue gak bisa, mana mungkin pakar wanita melekat di nama belakang gue!

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Evan melihat Nafisha yang baru saja turun dari angkutan umum, kemudian melangkah dengan tergesa-gesa kearahnya.

Evan berdehem pelan, kenapa dirinya tiba-tiba gugup seperti ini!?

Evan berusaha bersikap biasa saja. Wajahnya ia kembalikan ke mode datar agar mahasiswa baru yang terlambat dihadapannya merasakan aura dingin darinya.

“Itu yang berdiri paling belakang. Minat sama bakatnya apa?” ucap Evan dengan tangan terlipat di depan dada. Baiklah, jika semalam gadis itu bisa mengabaikan pesannya, jangan harap hari ini Evan akan melepaskan Nafisha begitu saja.

“Minatnya ke satra kak. Kalau bakat? Belum tau.”

“Sastra ya? Kalau gitu, tolong buatkan saya puisi cinta romantis!”

Nafisha mengangkat pandangan tapi tetap tidak menatap mata pria itu “Tapi---”

“Apa?” Sinis evan. Setelah gadis itu mengabaikan pesannya semalam, apa kini dia berusaha menolak permintaanya? Jangan harap Evan akan membiarkan hal itu.

Evan melangkah kearah Nafisha yang masih menunduk, kemudian memberikan bunga yang entah sejak kapan berada ditangan pria itu.

“Bunganya untuk a--”

“Gak usah geer. Saya bukan mau ngasih kamu bunga. Cuman, kamu harus bacain saya puisi sambil ngasih saya bunga.”

Nafisha menghela napas sabar mendengar nada bicara Evan. Kenapa pria itu sedari tadi ngegas mulu padanya?

“Kamu kenapa diam aja?”

Nafisha memasang wajah bingungnya. Maksud laki-laki itu apa coba? Bukannya dia sendiri yang menyuruhnya untuk berdiri disini, bersama dengan para maba yang terlambat.

“Ikuti saya!”

“Kemana kak?”

“Yang penting bukan pelaminan,” jawab evan ketus, sedangkan Nafisha yang mengekorinya lagi-lagi hanya bisa menghela napas sabar. Yah memangnya dirinya harus apa? Bukannya senior selalu benar?

***

Sepetinya hari ini Allah sedang menguji kesabaran dirinya melalui pria yang berdiri dihadapannya. Setelah berbicara sinis dan ketus padanya, kini pria itu bahkan berencana mempermalukan dirinya. Dengan membacakan puisi cinta romantis di tengah lapangan! Dan disaksikan secara live para senior serta mahasiswa baru!

Nafisha memegang erat bunga yang berada digenggamannya. Gugup. Itulah yang dirasakannya. Apalagi setelah melihat Rara dan Rian yang berada diantara kerumunan maba yang menontonnya di pinggir lapangan.

Nafisha menggeleng pelan, Saat pengakuan Rian semalam tanpa bisa dicegah berputar di otaknya. Seolah mengejek dirinya.

“Saya hitung sampai 3. Jika masih be---”

Ada dua hati yang hanya ditakdirkan bersama.
Namun tak ditakdirkan untuk saling memiliki.

Nafisha melirik Rian dan Rara kemudian menutup mata. Yah, sepertinya dirinya harus segera mundur teratur, sebelum perasaan ini menjadi racun dihatinya.

Dan ada dua hati yang terpisah oleh jarak. Namun ditakdirkan untuk bersatu.
Jarak dan waktu memang bukanlah pemisah.
Tapi takdir lah yang menjadi pemisah tak kasat mata diantara kita.

Evan menatap Nafisha intens. Entah kenapa dirinya mendengar nada kesedihan dari gadis dihadapannya. Tanpa disadari Nafisha, Evan mengikuti arah lirikan Nafisha yang tertuju pada pinggir lapangan.

Tanpa sadar Evan mendengus tidak suka. Entah kenapa dirinya merasa kesal pada gadis dihadapannya, yang malah melirik pria yang bernama rian itu. Yang bahkan jika dibandingkan dengannya Rian tidak ada apa-apanya. Tapi kenapa gadis itu malah mengabaikannya dan melirik pria itu?


TBC
Yang belum follow akunku. Boleh dong di follow biar gak ketinggalan notifnya.

Sampai disini gimana ceritanya?
Ada pesan atau pertanyaan apa buat 👇

1. Devano si ganteng turunan?

2. Nafisha?

3. Rian si gak peka?

4. Rara?

FuckBoy PensiunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang