Nafisha dengan serius memperhatikan penjelasan dosen yang ada di depannya. Karena ini merupakan pertemuan pertama mereka. Mereka belum sepenuhnya masuk ke inti materi yang akan di pelajari, karena sejak memasuki kelas tadi, dosen di atas hanya mempekenalkan diri serta menjelaskan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi selama mengikuti kelas.
“Stt-- fisha”
Nafisha melirik kearah rara yang duduk di sampingnya
“Kenapa?”
“Ini emergency sha”
Nafisha menaikkan alisnya bingung. Saat mendengar kata emergency yang di lontarkan rara.
Rara melihat sekelilingnya. Aman. Kemudian mendekatkan diri kepada nafisha
“Sepertinya jadwal bulanan aku kecepatan deh sha”Bisik rara yang membuat nafisha sepenuhnya mengalihkan pandangan ke arah gadis itu
“Serius? Jadi ini gimana? Apa fisha perlu--”
Rara menggeleng “Nanti kalau kelas udah selesai. Fisha bisa kan temanin rara ke uks?”
Nafisha menatap cemas kearah rara yang menurutnya sedang menahan sakit. Kemudian menyodorkan sapu tangan saat dilihatnya dahi gadis itu yang di penuhi dengan keringat
“Makasih” Ucap rara tulus. Yang hanya dibalas anggukan dari nafisha
***
Nafisha menoleh kearah pintu masuk uks saat pintu terbuka lebar. Menampakkan sosok rian yang kini melangkah kearah mereka dengan tangan yang menenteng plastik hitam berisikan pesanan rara.
Yah, tepat kelas selesai beberapa menit yang lalu, nafisha menghubungi rian yang ternyata kelasnya juga baru selesai beberapa menit lalu. Rian dan dirinya memang terpisah kelas, pria itu berada di kelas Manajemen D. sedangkan dirinya dan rara berada di kelas Manajemen A.
Nafisha membantu rara meminum obat nyeri haid. Kemudian membantu gadis itu untuk kembali berbaring di atas brankar
“Perutnya masih sakit gak ra?”
Rara tersenyum tipis, kemudian menggeleng “Udah agak baikan kok ian”
Nafisha yang melihat interaksi keduanya. Menutup mata sejenak, menikmati rasa sakit yang setiap detiknya mengalir kesetiap rongga hatinya, kemudian menciptakan luka yang tak terlihat, melihat perhatian yang Rian berikan kepada Rara. Perhatian yang dulunya dianggap hanya akan menjadi miliknya.
Nafisiha yang tidak ingin membuat luka yang ada dihatinya bertambah besar. Memilih undur diri dari ruangan itu dengan dalih ke kamar mandi.
“Bego. Udah tau sakit masih aja diliatin”
Nafisha terlonjak kaget saat dirinya yang baru saja menutup pintu uks tiba-tiba mendengar cibiran seorang pria yang entah sejak kapan berada disana
“Cinta segitiga?” Tebak evan
Nafisha hanya melirik evan sekilas. Kemudian melangkah pergi tanpa berniat membalas pria itu. Membuat evan kesal sendiri lantaran nafisha yang mengabaikan dirinya
“Selera lo agak rendahan ya?”
Suara evan yang kembali terdengar membuat nafisha mempercepat langkahnya.
Namun dirinya kalah cepat dengan pria itu, yang kini telah berdiri di depannya. Membuat mereka seketika menjadi bahan tontonan mahasiswa lain.
“Kak evan bisa minggir!?”
Nafisha menjadi kesal sendiri, lantaran kelakuan pria itu yang benar-benar kekanak-kanakkan.
“Lo belum jawab pertanyaan gue”
“Pertanyaan apa!?”Kesal nafisha
“Cinta segitiga? Lo suka rian kan?”
Nafisha memicingkan kedua matanya “Apa itu penting buat kak evan?”
“Penting. Sangat penting malah” Jawab evan dengan tangan yang menyilang di depan dada
Nafisha menghela napas kemudian menutup mata. Dalam hati dirinya melafadzkan istighfar berulang kali. Agar kedua tangannya tidak melakukan hal ekstrim pada pria di hadapannya ini. Seperti mencakar atau menjambak rambutnya hingga botak.
“Sepertinya kak evan udah terlalu ikut campur”
Setelah mengucapkan itu, nafisha memilih membalikkan badan. Namun baru saja akan melangkah tangan kanannya dengan cepat dicekal oleh evan
“Astaghfirullah. Lepasin kak!”
Sekuat tenaga nafisha berusaha melepas cekalan evan yang ada di pergelangan tangannya. Namun bukannya lepas, pria itu semakin mengeratkan cekalannya. Membuat ringisin keluar dari mulut nafisha.
Nafisha sekali lagi meringis saat punggungnya membentur tembok. Kala evan menyudutkan dirinya. Dan ketika melihat pria itu yang mendekatkan wajahnya membuat nafisha menutup mata dengan hati yang terus melafadzkan doa.
“Bisa gue ambil kesimpulan sendiri?”
“Lo ngabain gue selama ini, karena gue yang di luar ekspetasi lo kan?”
Evan memiringkan kepalanya ke kanan, memperhatikan dengan intens wajah gadis yang berada dengan jarak yang sangat dekat dengannya saat ini.
“Apa yang dimiliki rian, dan yang ngga gue miliki?”
Diam. Itulah yang dilakukan nafisha. Dengan kepala menunduk, nafisha terus saja menggigit bibir. Menahan isak tangis.
Evan mengangkat wajah nafisha dengan tangan kirinya “Jawab. Dan tatap mata gue!”
Dengan berani, nafisha membuka kedua matanya. Tepat saat dirinya membuka mata. Matanya langsung bersitubruk dengan mata cokelat evan.
“Rian memang tidak memiliki harta melimpah seperti kak Evan. Dan fisha juga mengakui, Rian tidak bisa menandingi kak Evan dalam hal fisik. Namun penentu terbesar bagi fisha, yang ada di diri Rian dan tidak dimiliki kak Evan hanya satu. Yakni iman”
Deg
Tanpa sadar evan melepas cekalannya.Kemudian mundur beberapa langkah.
Evan bungkam.
Saat ini otak dan hatinya tidak sinkron. Otaknya menyuruhnya membantah. Namun hatinya malah membenarkan ucapan gadis itu.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Teen FictionDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
