Evan yang melihat Nafisha di koridor kampus segera mempercepat langkahnya menghampiri gadis berhijab yang saat ini tengah terlihat bercengkrama dengan teman kelasnya.
Evan mengulas senyum diwajahnya saat dirinya sudah berdiri di samping Nafisha yang sepertinya belum menyadari keberadaannya, “assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Nafisha refleks dengan kepala menoleh kearah samping.
Dari jarak dekat seperti sekarang ini, Evan dapat melihat wajah gadis itu yang nampak cantik seperti biasanya, tapi … dengan jarak sedekat ini pula, Evan dapat melihat jelas wajah Nafisha yang terlihat pucat dengan kantung mata yang baru dirinya sadari.
'Apa yang telah dirinya lakukan' rutuk Evan dalam hati melihat keadaan gadis yang selalu menatapnya garang kini berganti dengan tatapan … kecewa?
“Aku duluan yah Sha.”
Nafisha mengangguk kearah Andin, “kita bareng aja, soalnya Rara juga belum datang.”
Nafisha yang hendak mengekori Andin, seketika menghentikan langkahnya kala Evan dengan cepat berdiri di depan, menghadangnya.
“Minggir kak,” ucap Nafisha kesal karena Evan yang terus saja mengikuti gerakannya, Nafisha geser ke kanan maka Evan akan mengikutinya, geser ke kiri pria itu juga mengikuti. Membuat Nafisha yang sedari tadi mencoba bersabar akan tingkah Evan pun akhirnya tidak lagi menahan diri untuk memperlihatkan kekesalannya.
“Gue butuh alasan, lo gak bisa mutusin pertemanan kita secara sepihak kek gini.”
“Kenapa gak bisa?”
“Bukannya Fisha cuman bahan taruhan? Apa kak Evan belum terima pengakuan dari teman-teman kakak?”
“Bahan taruhan?” gumam Evan dengan suara pelan, namun masih dapat di dengar oleh Nafisha.
“Acting kak Evan bagus. Selamat, atas keberhasilan kakak.”
Evan yang tengah sibuk dengan pikirannya, seketika teringat dengan taruhan yang dimaksud Nafisha.
“Ini gak seperti yang lo pikirin,” bela Evan. Memang awalnya dirinya hanya akan menjadikan Nafisha sebagai bahan taruhan untuk menyelamatkan harga dirinya, namun siapa sangka, dirinya malah terjebak kedalam permainan yang dibuatnya sendiri. Dan Evan akui bahwa dirinya menyesali semua.
“Gak usah dibahas lagi kak. Semuanya udah terjadi bukan?”
Evan menundukkan kepalanya, kemudian menghela napasnya frutasi. Andai dirinya tau akan begini akhirnya. Mungkin Evan akan lebih dulu mengakuinya dan meminta maaf pada Nafisha atau mungkin dirinya tidak akan melakukan taruhan konyol yang pada akhirnya malah menjebaknya.
“Gue tau udah gak ada pembelaan lagi atas kelakuan gue. Tapi gue mohon, dengarin gue,” ucap Evan yang kini dengan beraninya memegang lengan Nafisha kala gadis itu kembali berusaha pergi darinya.
Sedangkan Nafisha yang mendapat perlakuan seperti itu seketika memberontak dan berusaha menarik lengannya, “lepasin kak,” ucap Nafisha pelan saat mengetahui mereka tengah menjadi bahan tontonan mahasiswa lain.
“Gue tau kalau gue salah, dan gue menyesali--”
“Semua udah terjadi. Gak perlu ada kata sesal yang keluar, karena semuanya juga udah terlambat” potong Nafisha yang sudah sangat kesal dengan Evan.
“Sha … gue---”
“Kakak gak perlu ngabisin tenaga buat jelasin semuanya. Karena saat ini … apapun yang keluar dari mulut kak Evan udah gak bisa Fisha percaya,” ucap Nafisha pelan, membuat Evan menatap Nafisha dengan mulut terkatup rapat. Yah, dirinya pantas mendengar hal ini, karena ulahnya sendirilah yang membuat nafisha tidak lagi percaya padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Teen FictionDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
