Bab 10 - Calon Mantu

350 40 2
                                        

Evan menutup kedua mata. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Masih teringat jelas di otaknya ucapan gadis itu pagi tadi. Yah, evan mengakui bahwa apa yang di katakan nafisha itu, memang tidak salah. Namun tidak juga sepenuhnya benar. Walaupun dirinya bisa di katakan sangat jarang melaksanakan sholat lima waktu. Tapi dirinya masih tetap percaya akan adanya Tuhan. Jadi dirinya masih bisa di katakan memiliki iman bukan?.

Namun penentu terbesar bagi fisha, yang ada di diri Rian dan tidak dimiliki kak Evan hanya satu, yakni iman.

Dengan gusar Evan mengusap wajah dengan kedua tangan.

Entah kenapa ada rasa kesal yang muncul begitu saja, kala mengingat ucapan nafisha yang menurutnya begitu membela Rian.

“Kamu lagi ngapain? Sampai-sampai gak dengar mami panggil.”

Evan terlonjak kaget saat merasakan tepukan di bahu “Eh? Mami? Sejak kapan mami disini?”

Reina menggeleng menatap putra semata wayangnya “Sejak kamu bengong kayak orang yang punya masalah paling berat di dunia.”

Evan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar cibiran maminya “Mami kenapa nyariin evan?”

Reina menyodorkan kunci yang berada di tangannya. Yang membuat evan menatap maminya bingung

“Supirin mami.”

Dahi evan berkerut “Emang pak Pardi kemana?”

“Yah gak kemana-mana,” Jawab Reina santai

“Yah kalau gak kemana-mana, kenapa mami gak minta antar aja sama pak Pardi?”

Reina mengangkat sebelah alisnya “Kamu gak mau jadi supir mami!? kamu mau mami kutuk jadi batu!?”

Mendengar suara maminya yang mulai ngegas. Dengan cepat evan menggeleng. Kemudian meraih kunci yang berada di tangan reina

“Kalau gitu evan ganti baju dulu.”

Reina mengangguk kemudian melangkah keluar dari kamar putranya “Ah mami lupa.”

Evan yang sudah bersiap menutup pintu kamar urung saat reina kembali membalikkan badan, “Kamu pakai baju biru yah!. Biar couplean bareng mami. Kan lumayan bisa buat video tik t*k.”

Setelah mengucapkan itu Reina melanjutkan langkah. Meninggalkan evan yang melongo. Sejak bergaul dengan emak-emak di sekitar rumah mereka, maminya ini makin salah gaul saja.

***

“Saya kan pesannya bentuk bola. Bukan kayak gini!”

Nafisha yang baru saja memasuki toko kue. Menatap wanita paruh baya yang kini tengah berbicara dengan salma, yang merupakan salahsatu pegawai umminya

“Tap--”

“Saya gak mau. Malam ini saya harus tetap dapat kue yang bentuknya bola.”

Salma yang melihat kedatangan Nafisha. Menatap gadis itu dengan tatapan memelas, meminta bantuan. Yang di tanggapi dengan senyuman menenangkan oleh nafisha.

“Assalamualaikum tante. Ada yang bisa saya bantu?”

Reina yang mendengar suara bernada lembut itu, seketika menoleh dan mendapati gadis cantik dengan jilbab cokelat, tengah tersenyum manis padanya.

“Waalaikumsalam. Anda siapa?”

“Saya nafisha tante. Anak pemilik dari toko kue ini. Jadi, apa ada yang bisa fisha bantu?”

Reina mengangguk mengerti “Dua hari yang lalu saya pesan kue disini. Kue dengan bentuk bola bukan kayak gini.”

Salma meringis kala melihat tatapan sinis Reina padanya saat berbicara

FuckBoy PensiunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang