Nafisha yang mulanya tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, seketika tersentak, kemudian mengangkat pandangan sesaat dirinya mendengar decitan suara kursi di depannya.
Dilihatnya sosok Rian yang kini sudah duduk tepat di depannya dengan sebelah tangan lelaki itu yang terulur, memberinya sebotol minum yang langsung di terima oleh Nafisha, “makasih,” ucap Nafisha setelah menerima botol minuman pemberian Rian, yang hanya di jawab anggukan pelan oleh pria di depannya.
“Maaf.”
Nafisha yang tengah sibuk meneguk minumnya, seketika menghentikan kegiatanya dan menatap Rian sepenuhnya yang saat ini menunduk,
“maaf, karna aku belum bisa jagain kamu, padahal umi udah kasih kepercayaan penuh sama aku buat jagain kamu,” ucap Rian yang terdegar penuh sesal.
“Rian---”
“Aku gagal Sha. Aku udah gagal nepatin janjiku ke umi buat jagain kamu, apa aku masih pantas di sebut seorang pria?”
“Kamu udah jagain aku seperti janjimu ke umi, gagal tidaknya itu juga bukan sepenuhnya salah kamu. Ini udah jadi takdirku Ian,” ucap Nafisha dengan suara pelan ketika menyebutkan lima kata terakhir.
“Kamu tau, kamu udah berhasil buat nepatin janji kamu, selama ini kamu udah jadi sosok pelindung buat aku. Tapi, seperti yang sering kamu ucapin ke aku, kalau setiap perjalanan hidup manusia, pasti ada aja suka dukanya. Dan bisa jadi, saat ini Allah juga sedang menguji ke ikhlasanku,” jelas Nafisha yang membuat Rian menatapnya.
“Aku harap kamu setegar ucapanmu,” balas Rian yang lansung membuat Nafisha terpaku di tempatnya dengan pikiran yang sibuk bertanya-tanya.
Apa dirinya bisa setegar ucapannya?
***
“Akhh!!!”
Dengan kedua tangan yang menyapu rata semua benda yang berada di meja riasnya, Celyn berteriak frustasi sesaat ucapan Evan di kampus tadi kembali terngiang di otaknya, menghantuinya, dan membuatnya kembali berada pada posisi yang sama, yakni tak diinginkan.
Dengan wajah yang merah padam, menahan gejolak emosi di dadanya, Celyn mengalihkan perhatiannya kearah figura foto yang menampakkan dirinya dan juga kedua orang tuanya.
Diraih figura foto tersebut kemudian melemparkannya ke arah cermin rias di depannya.
Celyn benci dengan semua orang.
Namun, dirinya lebih membenci hidupnya yang terus saja berada pada posisi yang tak diinginkan.
Tak cukupkah hanya kedua orang tuanya yang tak menginginkannya?
Kenapa harus cintanya juga tak menginginkannya!? jerit batin Celyn dengan kedua tangan yang menjambak rambutnya sendiri.
“KALIAN SEMUA JAHAT!”
“Kalian … semua jahat,” gumam Celyn lemah, dengan kepala menunduk, menangisi hidupnya yang hanya dipenuhi dengan orang-orang yang tak menginginkan kehadirannya.
***
Salma yang baru saja selesai membersihkan bagian dapur, melangkah keluar untuk mengambil tas miliknya untuk bersiap pulang.
Namun, niatnya yang ingin mengambil tas miliknya, urung sesaat dirinya kembali menemukan Nafisha tengah duduk termenung seorang diri.
Membuat Salma bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada Nafisha?
Mengabaikan niatnya yang ingin pulang cepat setelah pekerjaannya selesai, Salma lebih memilih melangkah mendekati Nafisha yang bahkan sepertinya tak menyadari kehadirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Teen FictionDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
