Evan yang melihat Nafisha melangkah pergi, dengan cepat berdiri mengejar Nafisha yang meninggalkannya ketika dirinya sibuk termenung saat mendengar penuturan gadis itu, yang seakan menyesel telah memberinya kesempatan untuk berteman dengan dirinya.
“Sha kalau gue ada salah. Gue minta maaf, tapi loh jangan kek gini,” ucap Evan saat pria itu telah berhasil menyamai langkahnya dengan Nafisha.
Sedangkan Nafisha yang terus mendapat desakan Evan, meminta penjelasan darinya, hanya diam. Karena menjelaskanpun rasanya sudah tidak berguna lagi.
“Sha pliss jangan kek gini,” Bujuk Evan yang saat ini berdiri di depan Nafisha, menghalangi gadis itu untuk melangkah.
Namun seakan tidak ingin lagi mendengar suara Evan, Nafisha dengan cepat mengambil jalan lain, kemudian melangkah dengan cepat, bahkan gadis itu hampir berlari.
“Gue minta maaf Sha.”
Mendengar suara Evan yang terdengar begitu dekat, membuat Naafisha melangkahkan kakinya semakin cepat, bahkan gadis itu sampai tersungkur di atas tanah.
“Nafisha!” Evan yang melihat Nafisha jatuh dengan cepat berlari menghampiri gadis yang kini duduk di atas tanah memegangi pergelangan kakinya yang terkilir.
“Fisha gak butuh bantuan kamu.”
Baru saja Evan mengarahkan tangannya untuk mengecek pergelangan kaki Nafisha. Suara gadis itu dengan cepat terdengar membuat tangan Evan yang hendak meraih pergelangan kakinya menggantung di udara.
“Kalau gitu, gue panggilin Rara.”
“Gak perlu.”
Mendengar penolakan Nafisha untuk yang kedua kalinya, membuat Evan menghela napas. Kemudian memperhatikan Nafisha yang tampak begitu kesusahan untuk berdiri.
“Gue antar pulang.”
Nafisha yang kini sudah berhasil berdiri, memilih mengalihkan tatapannya kearah depan. “Fisha gak butuh bantuan kamu,” ucap Nafisha datar.
“Tapi kaki kamu lagi terkilir Sha.”
“Apa kak Evan pikir Fisha gak bakal bisa pulang, tanpa bantuan kak Evan?”
“Kalau gak benar-benar peduli, seenggaknya gak usah sok peduli,” sambung Nafisha kemudian melangkah menjauh, meninggalkan Evan yang hanya berdiri diam, menatap punggung gadis yang dicintainya.
Dirogohnya saku celana jins miliknya, kemudian menatap cincin dengan permata indah yang berada di telapak tangannya.
Evan menggenggam cincin di telapak tangannya, kemudian bertekad dalam hati bahwa cincin tersebut akan secepatnya tersemat pada jari pemiliknya.
Yah, Evan akan berusaha keras, membuat Nafisha memaafkannya. Walaupun sebenarnya dirinya tidak tau, kesalahan apa yang dilakukannya. Tapi Evan akan berusaha. Bahkan dirinya akan terus-terusan mendesak Nafisha, untuk bicara padanya, hal apa yang telah membuat sikap gadis itu seketika berubah padanya hanya dalam semalam.
***
Suara gadis yang tertawa begitu kencang, terdengar memenuhi salahsatu ruang VIP club malam saat ini, membuat kedua sahabat gadis itu mengernyit, menatap bingung tingkah laku sahabatnya yang terus saja tertawa.
“Cel lo kenapa?” tanya salahsatu gadis yang kini duduk di samping Celyn.
“Iya, tumbenan lo ketawa sampai sekencang ini.” timpal gadis yang duduk di singel sofa.
Celyn yang mendengar teguran dari kedua sahabatnya, seketika menatap keduanya dengan senyum tertahan.
“Gue berhasil.”
KAMU SEDANG MEMBACA
FuckBoy Pensiun
Teen FictionDevano Rafly Henandra. Kemewahan dan ketampanan yang dimilikinya, membuat pria itu terbiasa dengan orang-orang disekelilingnya yang terus saja memuja serta menghormatinya. Membuatnya berpikir bahwa dirinya dengan mudah bisa mendapatkan gadis manapun...
