"Masak apa, nih?" tanya Azmir yang tiba-tiba datang dan memeluk Mayang dari belakang. Wanita itu cukup terkejut karena takut dilihat orang.
"Lepas, ih! Nanti dilihat Ibuk," ucap Mayang tersipu malu. Namun, pelukan Azmir semakin erat. Tak ingin dilepaskan.
"Nggak mau, ih!" katanya mengejek. Mayang pasrah, sambil mengoseng sayur, ada hal yang ingin ia bicarakan.
Usai memasak, Mayang menarik tangan kekasihnya untuk duduk di kursi samping. Pemandangan belakang rumah yang indah, ditambah angin sepoi-sepoi menyejukkan, membuat kedua insan itu semakin erat berpeluk kasih. Mayang menghela napas panjang, sesekali melirik Azmir yang tersenyum menikmati indahnya alam.
"Mas," panggilnya.
"Hm?"
"Kemarin waktu buang sampah, aku ketemu cewek pakai kebaya warna hijau. Katanya dia penunggu gelang ini juga," ucap Mayang. Azmir menggumam, berusaha mencerna perkataan kekasihnya.
"Terus?"
"Ya ... Mayang ngerasa kalau gelang ini betul-betul istimewa. Sayangnya asal mulanya kita nggak tau."
"Kamu benar." Azmir memegang tangan kiri Mayang. "Aku juga sering banget ngeliat hantu belakangan. Sejak masalah ini kita alami, mata batinku kayak kebuka," lanjutnya.
"Semenjak meninggalnya nenek, terakhir itulah Mayang lihat Ibu. Setelah itu nggak tahu gimana kondisinya, apalagi Bapak."
"Mereka baik-baik aja. Jangan khawatir."
Suara deheman seseorang membuat mereka terkejut. Siapa lagi kalau bukan Pak Tio. Beliau sengaja keluar mencari udara segar. Tak sengaja bertemu muda-mudi yang dimabuk asmara.
"Mayang, Bapak mau membicarakan sesuatu. Tentang santet yang menyerangmu," ucap Pak Tio. Sontak, Mayang bangkit dan mengikuti Pak Tio masuk ke dalam rumah. Azmir mengikuti di belakang.
Mereka duduk melingkar, wajah-wajah serius dan menegangkan. Akhirnya, Pak Tio berhasil menemukan titik terang. Ekspresi-ekspresi cemas, takut, juga penasaran. Mayang meremas piyama yang ia kenakan, menyiapkan hati dan air mata mendengar sebuah kenyataan.
"Mayang, kamu disantet nenekmu sendiri," ucap Pak Tio membuka pembahasan. Mayang menghela napas panjang, ia sudah siap menerima apa pun yang telah ditakdirkan. "Demi keabadian dan awet muda," lanjutnya membuat semua orang terperangah. Hanya karena itu?
"Ta-tapi, apa hubungannya dengan menyantet saya, Pak? Bukankah kalau ilmu hitam itu menggunakan tumbal?" tanya Mayang heran. Jika neneknya ingin panjang umur, mengapa mengorbankan cucunya sendiri?
"Untuk mencari tahu apa yang terjadi, ada baiknya kita bertanya ke dukun yang dulu menyembuhkanmu." Azmir tak berucap sepatah kata pun. Masalah ini membuatnya pusing dan berpikir cukup keras. Sembuh? Apa Mayang punya riwayat penyakit mematikan?
***
Sekeluarga pergi mengunjungi dukun yang konon memiliki kekuatan magis terkuat di desa itu. Mayang sudah akrab dengan bau kembang dan kemenyan di seluruh ruangan. Terakhir kali ia ke sini diberi bunga melati. Berharap kesembuhan akan mengubah takdirnya, tapi sakitnya justru bertambah parah.
"Permisi, Mbah," ucap Pak Tio. Mbak Rondo menggumam tanpa menatap siapa saja yang datang. Mayang duduk di tengah, sedangkan Azmir berjaga-jaga di luar. Pak Tio pun menunggu respon Mbah karena kakek itu mulai lamban.
Usai memperkenalkan diri, Mbah Rondo pun meletakkan keris yang ia bersihkan tadi. Lalu, ia menatap orang-orang di hadapannya satu persatu. Agak mengerikan memang, apakah ia lupa bahwa Mayang pernah datang padanya dulu? Pak Tio menyampaikan maksud kedatangannya, ialah untuk bertanya-tanya perihal masa lalu Mayang.
"Mbah masih ingat gadis ini?" tanya Pak Tio, Mbah menggeleng, entah lupa atau memang tak tahu. "Waktu umur dua tahun, Mbah yang mengobati gadis ini karena terkena santet, ingat?" tanyanya lagi, berusaha membangkitkan ingatan Mbah yang mungkin sudah tertimbun. Peristiwa semenegangkan itu, mana mungkin terlupakan.
Mbah menggeleng, beberapa saat kemudian, ia mengangguk cepat. Ditatapnya Mayang, wanita itu menjadi tegang.
"Pak, Mbah ini bisu jadi—"
"Nak, dia itu nggak bisu," ucap Pak Tio sambil tersenyum. Mayang mengernyitkan dahi, apa maksudnya? Tetangga beliau selalu berkata bahwa Mbah tunawicara.
"Hah?"
"Kamu, almarhumah nenekmu, dan Mbah ini, punya keterkaitan dengan ilmu hitam. Coba lepas gelangmu," perintah Pak Tio. Dengan ragu-ragu, Mayang melepas gelang itu. Sesungguhnya ia takut bila Maria akan keluar. Namun, melihat ada dua orang sakti di sisinya, ia merasa lumayan tenang.
Pak Tio menyodorkan gelang itu ke Mbah Rondo. Ekspresi misterius beliau berubah takut. Ia menghindari, seakan-akan melihat sosok mengerikan di sana. Entah apa yang terjadi, tapi Pak Tio hanya tersenyum simpul. Bingung dengan sikap Pak Tio, Mayang pun memutuskan untuk bertanya.
"Lihat gelang ini, ingat?" tanya Pak Tio. Mbah Rondo menggeleng cepat. Bak menghindari sesuatu.
"Jangan bohong, Mbah. Saya tahu gelang ini punya Mbah dulu, benar? Isinya dua khodam, kakek dan wanita berkebaya hijau," ucap Pak Tio. Mbah Rondo menggeleng lagi, karena tak mampu berbicara, ia menggumam. Memberi isyarat gelang itu bukan miliknya. Namun, Pak Tio tak mungkin salah melihat. Visual itu menggambarkan bahwa Mbah Rondo sendiri yang memasukkan khodam gaib itu ke dalam gelang.
Hening ....
Pak Tio tahu sebenarnya Mbah Rondo tidaklah bisu. Beliau mengikat janji dengan sesuatu hingga ia harus puasa bicara seumur hidup. Mayang baru mengetahui hal ini.
Rasa penasaran Mayang tentang hal ini membuatnya sedikit terganggu. Namun, ia mengikuti kata Pak Tio, jangan gegabah atau bencana akan menghampiri. Ruangan yang sedikit gelap, asap mengepul, juga aroma kembang yang menyengat hidung. Mayang tahu persis bau-bau apa ini, ia mulai merasa mual.
"Saya keluar dulu, Pak. Perut nggak enak," ucapnya meminta izin. Pak Tio mengangguk dan melanjutkan misinya untuk membongkar perjanjian masa lalu.
"Lho, kenapa keluar?" tanya Azmir. "Udah selesai?"
Mayang menggeleng pelan. "Aku nggak kuat di dalem, Mas. Bau kembang, jadi mual," jawab wanita itu.
"Ya, sudah duduk sini. Kita tunggu Pak Tio selesai," kata Azmir.
Gelang itu baru sebentar dilepas, tapi efeknya mulai dirasakan Mayang. Ya, seperti ada ikatan yang kuat antara Mayang dan gelang itu. Kini, tubuhnya melemah, seakan ada yang mencabut kekuatannya. Ia bersandar di bahu Azmir. Tahu kekasihnya melemah, Azmir berniat membawanya pulang.
"Jangan dulu, bersabarlah. Kalau dia nggak ada di sini, bagaimana bisa tau nanti?" ucap bapaknya. "Beli minum atau makanan dulu."
***
Sepulang dari rumah Mbak Rondo, kesehatan Mayang sangat menurun. Dengan cepat, Pak Tio memakaikan gelang itu lagi. Wajahnya pucat, badannya pun hangat.
"Kalau gelang ini dilepas, ilmu hitam itu bakal menyerang tubuhnya," ucap Pak Tio. Azmir mengangguk paham. "Jadi, jangan dilepas kecuali ada urusan mendadak seperti yang saya lakukan barusan."
"Apa sudah mendapat titik terang, Pak?" tanya Bu Azmir.
"Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk. Besok pagi kita lanjutkan. Mari beristirahat dulu, biarkan Nak Mayang tertidur juga," ucapnya.
"Ya, sudah, Pak."
"Ngomong-ngomong, Bapak nginap di sini sampai kapan?" tanya Mayang.
"Sampai kamu sembuh, kalau perlu sampai nikah juga boleh," jawab Pak Tio terkekeh.
"Makasih banyak, Pak sudah bersedia membantu calon menantu saya," ucap Ibu Azmir. Pak Tio membalas dengan senyuman dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Mayang diantar masuk oleh Azmir untuk beristirahat.
***
BERSAMBUNG.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mayang [END]
Mistério / SuspenseTELAH TERBIT || Part Dihapus Acak! Order novelnya agar bisa membaca keseluruhan -Versi mini seri segera ditayangkan!- Plagiator Harap Menjauh! Pelajari undang-undang hak cipta agar Anda tidak dijatuhi hukum. *** Luka .... Bisakah aku menahannya? Sa...
![Mayang [END]](https://img.wattpad.com/cover/213660597-64-k319985.jpg)