Usia dua puluh tujuh tahun harusnya menjadi masa emas bagi para perempuan. Mereka yang mengejar karir akan melakukan hal yang mereka sukai dengan semangat empat lima, penuh kegigihan dan rela jatuh bangun agar bisa memberikan yang terbaik untuk pekerjaan mereka. Ada pula dari mereka yang tentu sibuk mengurus keluarga kecil, punya suami yang dilayani dan anak yang dicurahi kasih sayang.
Lalu sebagian lagi?
Khusus bagi mereka yang nggak mengejar karir, tetap ingin single sampai seenggaknya tiga puluh tahunan dan berasal dari keluarga berada, sudah pasti sibuk berpetualang dari satu tempat ke tempat lainnya, menikmati kebebasan.
Aku jelas nggak masuk ke tiga kategori perempuan barusan.
Ralat. Aku pernah, tapi sekarang nggak lagi.
Aku pengin cerita. Tapi sebentar, aku perlu menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu. Kuberi tahu saja, mengingat masa lalu artinya mengorek luka. Ya, walaupun aku sudah terbiasa dengan rasa sakitnya, tetap saja ini terasa sulit bagiku.
Semua orang yang mengenalku pasti tahu gimana aku membangun karirku. Sejak SMP, aku sudah rajin menulis di majalah dinding sekolah. Entah itu menulis cerita pendek atau cerita bersambung. Kesukaanku di bidang menulis terus berlanjut saat aku SMA. Tulisan-tulisanku sering muncul di majalah remaja, beberapa kali memenangkan lomba menulis hingga menerbitkan fiksi remaja pertamaku menjelang Ujian Nasional.
Sepanjang masa kuliah pun, aku berhasil menerbitkan delapan judul novel romance sambil magang di salah satu kantor penerbit mayor ternama. Nggak perlu kujelaskan gimana perasaanku waktu itu. Mungkin saking bahagianya, aku rela saja disuruh terjun dari rooftop apartemenku.
Nggak, ding. Bercanda.
Yah, aku tahu aku nggak lucu, tolong jangan dihujat.
Mbak Raya, editor senior yang menjadi atasanku ketika magang, langsung memintaku menjadi editor juniornya begitu aku lulus. Bekerja dengan Mbak Raya sungguh menyenangkan. Aku menyerap banyak ilmu darinya sambil menekuni dunia kepenulisan sekaligus editorial.
Apa sudah kukatakan kalau aku adalah tipe orang yang sangat passionate saat melakukan hal yang kusukai? Aku sangat total, nggak pernah mau setengah-setengah. Mungkin karena itulah kemampuanku meningkat pesat hingga hanya dalam dua tahun, aku menggantikan posisi Mbak Raya saat dia memutuskan resign.
Katakanlah, waktu itu aku tergolong sukses dalam karir untuk ukuran perempuan dua puluh tiga tahun.
Di puncak karirku, aku bertemu Aghastya Wiranata, lelaki dua puluh sembilan tahun yang berprofesi sebagai PNS di Dinas Pekerjaan Umum dan memiliki usaha properti. Agha, yang selalu kelihatan tampan dalam balutan seragam kuning khaki itu, rupanya juragan kost-kostan yang punya hampir 80 pintu.
Aku dan Agha berpacaran satu tahun sebelum dia melamarku. Tentu saja bukan hanya fisik dan materi yang kulihat darinya. Agha baik, nggak pernah kasar dan yang terpenting dia sangat pengertian. Dia nggak pernah protes kalau aku tiba-tiba lembur demi menyelesaikan final editing sehingga harus menjemputku pulang malam-malam. Agha juga nggak pernah melarangku untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaanku. Singkatnya, Agha setuju dengan satu-satunya syarat pra-nikah yang kuajukan, yaitu dia akan tetap membiarkan aku berkarir meski suatu saat kami sudah memiliki anak.
"Kim, Mama titip pesen besok temenin Mama arisan."
Aku mengerjap. Kulihat Kailand sudah menyandarkan tubuhnya di pintu sambil menggigit apel. Sementara tangan kirinya dimasukkan ke saku jeans belelnya. Cih, sok keren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Travelove Streaming
RomantikAku pernah sangat mencintai karirku. Pergi pagi pulang malam, lembur, sering membawa pekerjaan ke rumah hingga diopname selama seminggu pun nggak pernah membuatku jera. Kalau hal-hal menyangkut diriku saja nggak pernah kuambil pusing, kenapa aku har...
