BAB 9 - Kim: Rencana Hidup

365 51 4
                                        

Sulit bagiku mencerna kebetulan yang ada saat ini. Bagaimana bisa Ran Dirga adalah kakak dari pria yang bertemu denganku di acara arisan Mama beberapa minggu lalu? Aku juga makin speechless saat mengetahui bahwa Bang Krisna ternyata cukup mengenal Ran. Maksudku, oke aku paham profesi Bang Krisna dan Ran bisa saja bersinggungan. Tapi kenapa mereka kelihatan sangat akrab untuk ukuran profesional?

Kata orang, nggak ada kebetulan di dunia ini. Semua hal punya alasan dan takdir masing-masing. Dan aku percaya itu. Tapi, masa sih dunia betul-betul sesempit ini hingga takdir mempertemukanku pada Ran dan Rei, serta Bang Krisna yang sudah mengenal Ran?

"Kim?"

Teguran seseorang lantas membuyarkan pikiranku. Aku mendongak, lalu mendapati Mbak Raya menatapku dengan senyuman lebar.

"Ya ampun, beneran Kim ternyata!"

Mbak Raya seketika memelukku erat lalu melakukan cipika-cipiki khas wanita kekinian. Ya ampun, sudah berapa lama aku nggak melakukannya?

"Mbak Raya apa kabar?" tanyaku begitu Mbak Raya melepaskan pelukannya.

"Baik, dong. Lo gimana kabarnya? Udah lama banget nggak ketemu."

"Baik juga, Mbak. Iya, udah lama banget, ya."

"Tadi gue pikir gue salah orang, ternyata beneran lo. Abis lo beda banget, Kim. Kenapa nggak dari dulu aja penampilan lo kayak gini coba? Lebih fresh, tahu."

Sejak aku memutuskan mengubah penampilanku, terutama rambut, aku tahu kalau akan mendapati reaksi serupa. Jadi aku nggak begitu heran kalau Mbak Raya hampir saja nggak mengenaliku.

"Baru kepikiran, Mbak."

Aku lantas tersadar kalau aku nggak hanya sendirian di sini, begitu tatapanku bertemu dengan tatapan tajam Ran. Buru-buru aku mengenalkan Mbak Raya pada Bang Krisna, yang dilanjutkan dengan Rei, Ran dan Ardi.

"Wah, nggak nyangka gue bisa ketemu Ran Dirga di sini."

Bahkan Mbak Raya pun tahu sama Ran? Setelah kupikirkan lagi, wajar saja tempo hari Ran kaget saat tahu aku nggak mengenalnya. Ternyata dia memang sepopuler itu.

Kulihat Ran hanya tersenyum ramah pada Mbak Raya. "Tenang aja, gue masih inget balik, kok. Kalo di gunung melulu ntar orang-orang pada nyangka gue udah ditilep harimau."

Sontak semua orang terkekeh dengan guyonan Ran, termasuk aku.

"Halah, yang ada lo berpotensi nilep harimau terus kulitnya lo jadiin bahan endorse." celetuk Rei santai, yang kembali menuai kekehan orang-orang di sini.

Ran menyeringai, "Maaf, ya, saudara-saudara. Adek gue kalo lagi kurang obat emang gini, doyan fitnahin orang."

"Nah, nah. Tukang fitnah malah fitnahin orang."

Aku cuma bisa terkekeh kecil melihat kelakuan dua bersaudara itu. Kalau dipikir-pikir, kelakuan mereka mirip Kailand dan Tissa. Mereka nggak sungkan menunjukkan peperangan di depan banyak orang. Bedanya, Kailand dan Tissa lebih dominan ke aura permusuhan sepanjang masa, sedangkan Ran dan Rei kesannya lebih hangat dan akrab.

"Kalian kalo di rumah pasti begini juga, ya?" tanya Bang Krisna.

"Nggak udah ditanya, Bang. Bisa bikin puyeng saking rusuhnya." Sahut Ardi.

Rei berdecak, "Eh, kutu. Kayak lo nggak pernah ngerusuhin gue aja."

Ya ampun, aku nggak bisa bayangin gimana rusuhnya kalau tiga cowok ini ketemu Kailand dan Tissa. Aku pasti jadi yang pertama menyingkir dari mereka.

Tiba-tiba kurasakan Mbak Raya menepuk pundakku ringan. "Kim, gue balik ke laki gue dulu, ya. Nomer lo nggak berubah, kan?"

"Iya, Mbak. Salam ya buat Bang Sahid."

Travelove StreamingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang