Setelah kehilangan Agha dan mundur dari karirku, aku menarik diri dari segala hal. Aku tahu kalau aku nggak seharusnya begitu, tapi rasa bersalah terus-terusan menghantuiku. Kilasan-kilasan masa lalu, terutama gimana buruknya kelakuanku dulu pada Agha, membuatku semakin merasa kalau aku pantas mendapatkan semua ini. Hidup dalam rasa bersalah, penyesalan dan nggak pantas untuk bahagia.
Aku juga tahu orang-orang terdekatku selalu berusaha membuatku kembali ceria, bersemangat, seperti Kim yang dulu. Mama, Bang Kailand dan Bang Krisna juga nggak pernah menyalahkanku, malah mereka yang paling semangat membangun komunikasi denganku agar aku nggak merasa sendiri. Kalau melihat gimana kerasnya usaha mereka, aku ingin sekali memenuhi harapan mereka.
Tapi, aku tetap nggak bisa karena rasa bersalahku lebih dominan. Aku sudah ingin mendengarkan saran Bang Krisna, yaitu pergi ke psikiater untuk mendapat terapi psikis. Tapi kembali lagi, aku merasa aku nggak pantas buat itu.
Apa yang terjadi dalam hidupku, adalah hukuman dari apa yang sudah kuperbuat pada Agha. Dan aku harus menerima hukumanku.
"Kim, Abang dapet WA dari Widya kalo udah ada penyewa baru buat kamar kos yang di Kemayoran. Besok mau cek kamarnya."
Aku yang lagi menyuap es krim, lantas menoleh pada Bang Krisna. Bang Krisna adalah abangku yang nomer dua, setelah Kailand. Walau lebih muda, Krisna jauh lebih dewasa dan tenang dari pada Kailand, jadi aku lebih segan dan memanggilnya dengan panggilan 'Bang'. Sementara Kailand? Si sulung itu nggak pernah mau dipanggil 'Bang' seperti Krisna. Takut dikira abang siomay, abang becak, abang tukang bakso, katanya. Hah, sok keren memang.
"Oh, yang bulan kemarin disewa sama karyawan Ji Ekspo itu, bukan?" aku kembali menyendok es krim vanilla favoritku.
"Iya. Kamu mau Abang temenin besok?"
Selain rasa bersalah dan penyesalan, Agha punya banyak hal lain yang dia tinggalkan untukku. Salah satunya, harta. Mobil yang dia belikan sebagai hadiah ulang tahunku dan dulu biasa kupakai kerja, aku berikan pada Bang Krisna. Aku nggak mau menjual mobil itu, tapi juga nggak sanggup menggunakannya lagi. Jadi aku meminta Bang Krisna untuk memakai dan merawatnya.
Aku rasa aku sudah pernah bilang kalau Agha adalah juragan kost-kostan. Agha punya 78 kamar kost-kostan, di berbagai tempat. Ada yang di Kemayoran, Kebon Jeruk, Tomang, Slipi dan Cakung.
Sebenarnya semua itu bukan murni milik Agha, tapi milik orangtuanya. Setelah orangtuanya berpulang saat Agha masih kuliah, otomatis semua peninggalan mereka Agha yang harus mengurusnya, sebab Agha adalah anak tunggal. Dan sejak Agha menyusul orangtuanya dua tahun lalu, maka akulah yang harus mengurusnya.
Bukan hal mudah mengurus peninggalan suami di saat aku sangat tidak siap. Aku masih merasa down, tapi aku nggak bisa melepaskan tanggung jawabku. Mungkin karena melihat kesulitanku ini, Bang Krisna bersedia membantu. Bang Krisna bukan hanya mengurus mobil, tapi juga membantuku mengurus semua peninggalan Agha. Mulai dari memilih satu orang admin yang mengurus kostan di masing-masing tempat, menyeleksi calon penyewa hingga mengurus laporan keuangan.
Jangan pikir aku senang dengan materi berlimpah yang ditinggalkan Agha, sebab sebaliknya, rasa bersalahku semakin bertambah. Lagi pula, buat apa materi berlimpah tapi suamiku sudah nggak ada? Di mataku semua terasa semu, aku hanya bertahan hidup karena Agha memberiku tanggung jawab yang besar.
"Kim?" Rupanya Bang Krisna menunggu jawabanku.
"Nggak usah, Bang. Kim bisa sendiri, Abang kerja, kan?"
"Iya. Tapi pas makan siang Abang bisa temenin kamu."
Aku menggeleng, "Nggak usah, Bang. Nggak apa-apa. Bilang aja sama Widya, besok Kim ke sana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Travelove Streaming
RomanceAku pernah sangat mencintai karirku. Pergi pagi pulang malam, lembur, sering membawa pekerjaan ke rumah hingga diopname selama seminggu pun nggak pernah membuatku jera. Kalau hal-hal menyangkut diriku saja nggak pernah kuambil pusing, kenapa aku har...
