Kondisi bunda nuca sudah membaik dan hari ini ia boleh pulang. Nuca dengan mobilnya sudah siap mengantarnya pulang.
Tiara : " pak nuca... kami naik taxi aja , nggak enak dilihat sama yang lain, masa bos antar pasien pulang.."
Nuca : " ya justru itu biar jadi contoh kan "
Tiara tak dapat mengelak lagi dan membawa bundanya bersama nuca.
Sesampainya di rumah, bunda tiara mengucapkan terima kasih kepada nuca dan bersyukur karena tiara memiliki teman - teman yang baik yang peduli tidak hanya dengannya tapi juga dengan keluarganya.
Tiara : " makasih ya pak dah antar kami pulang "
Nuca : " iya sama - sama .. aku pulang ya..assalamualaikum"
Tiara mengangguk dan menjawab salam nuca.
-----------
Sore hari di rumah nuca..
" tan nuca nya ada nggak?". Tanya vino yang datang ke rumah nuca dan di depan rumahnya ia bertemu dengan mamanya.
Mama : " vino... nuca ada di dalam.. masuk aja"
Vin : " makasih tan... aku masuk ya.."
Sampai di kamar nuca, vino langsung masuk dan mengagetkan nuca yang sedang bersama gitarnya.
" hey sob.....yuhu... ternyata masih genjreng - genjreng juga... kirain dah lupa.."
Nuca : " hey... kirain siapa..masih dong.. gue dah buat lagu baru nih nanti ya kalo dah saatnya gue tunjukin ke lu ".
Vino : " gue juga punya kabar bagus... akhirnya tia mau coba buka hatinya buat gue.. tapi dia minta waktu dulu.."
Nuca : " ya semoga aja ya lu bisa cepet nikahin tia "
Vino : " yoi ", " kalo lu sendiri gimana ?"
Nuca : " gimana apanya? Gue nggak tahu sih perasaannya gimana, tapi rencana sih bentar lagi mau bilang dulu ke papa, kalo papa setuju gue mau lamar dia "
Vino : " weee... kenalin dong"
Nuca : " pasti lah..."
Keduanya larut dalam obrolan setelah sekian hari tidak bertemu.
----------
Di rumah sakit..
Tiara duduk di depan lap top nya, membuat laporan untuk evaluasi bulan ini.
Wajahnya sangat serius, ia tak ingin ada laporan yang salah sehingga harus mengulanginya.
Konsentrasinya membuatnya lupa waktu hingga seseorang memanggilnya.
" hey..." sapa nuca di depan pintu.
Tiara kaget karena nuca hanya terlihat kepalanya saja.
Tiara : " eh bapak... mau apa? "
Nuca : " mau lihat kamu..... mutiara...."
Ucapan nuca membuat tiara salah tingkah.
Tiara : " bapak nih bercanda..."
Tanpa disuruh nuca langsung duduk di kursi depan tiara yang masih memegang lap topnya. Nuca menatap tiara dan :
" aku mau menagih janji kamu"
Tiara : " janji apa pak?"
Nuca : " katanya kita mau pergi ke klinik dr galih "
Tiara : " kita ya pak?"
Nuca : " ya iya kita...kita pergi besok siang ya... "
Tiara : " sama dr galih ?"
Nuca : " nggak usah ... kita aja"
" oya tadi aku kesini mau ngasih ini .. kebetulan kemarin adik aku minta anter belanja trus aku lihat ini dan aku kepikiran kamu.. aku rasa kamu akan bagus memakainya..."
Nuca menyodorkan kerudung yang masih terbungkus dalam kardus.
Tiara terdiam menatap nuca yang ternyata perhatian dengannya. Tetapi ia merasa dirinya tidak layak menerimanya.
Tiara :" paak.."
Nuca : " hey terima ya... kalo kamu tolak aku nggak tahu mau ngasih ke siapa.... temen aku nggak ada yang pake hijab. Dan aku juga beli memang buat kamu jadi terima ya... besok kamu pakai", ok.....aku keluar ya... assalamualaikum".
Tiara : " paaaak.... ". Ucap tiara yang melihat nuca pergi begitu saja....
"wa.. waalaikumussalam". Lanjut tiara
Tiara bingung dengan perhatian nuca, dari awal bertemu nuca selalu nenunjukkan sikap manisnya yang biasa tapi menjadi tidak biasa untuk tiara. Hari sebelumnya tiara sempat berfikir untuk menerima lamaran dr galih, tapi hari ini ia menjadi bingung karena sikap nuca. ia berfikir bagaimana jika nuca juga menginginkannya jika tiara terlanjur menerima dr galih. Atau bagaimana jika ia tolak dr galih dan nuca yang ditunggu ternyata juga tidak datang melamarnya.
" ya Allah berilah petunjukmu " doa tiara
Masih dalam kebimbangan, suara chat dr galih masuk ke hp tiara.
Hai, aku rasa sudah cukup waktu untuk memutuskan.. aku tunggu jawabanmu besok dokter tiara.
Tiara menghela nafas panjang dan memutuskan untuk pulang lebih cepat hari ini.
-------------
Di rumah nuca.
Nuca yang tengah duduk bersama keluarganya mencoba menyampaikan maksud hatinya.
Nuca : " paaa... maaa... nuca dah cukup besar dan nuca rasa sudah saatnya nuca hidup pisah dengan papa mama... nuca boleh minta restu nggak?"
Papa : " nuca nuca... memang kamu dah punya pilihan?"
Nuca : " udah pa... cewek yang waktu itu masakin bubur buat nuca "
Papa : " dr tiara?"
Nuca : " iya pa "
Papa : " pantesan... ", " kalo papa sih oke - oke aja "
Mama : " mama harus lihat dulu lah... memang kamu dah bilang kalo kamu suka gadis itu"
Nuca : " belum sih ma... aku maunya langsung lamar dia aja."
Mama : " kalo dia sudah punya calon gimana ?"
Nuca : " kayaknya belum ada sih"
Papa : " kalo kamu dah cocok, kamu cepet - cepet lamar aja daripada keburu diambil orang"
Nuca : " jadi papa restui?,sambil menatap papa mamanya.
" makasih ya pa... ma.. doain nuca..."
Nuca yang kegirangan tak ingin berlama - lama . Ia harus segera sampaikan hal itu ke tiara.
----------
Sementara di rumah tiara,
Tiara menyampaikan apa yang menjadi kebimbangannya kepada bundanya. Saran bunda supaya tiara mengambil langkah yang sudah jelas saja. Yaitu menerima dr galih.
Memang tiara mengakui jika dengan dr galih ia hanya mengagumi kebaikannya. Karena kebaikannya ia lakukan terhadap siapapun baik tiara maupun yang lain. Adapun dengan nuca ia tidak sekagum itu, akan tetapi ia merasa nyaman dan selalu dibuatnya bahagia.
----------
Keesokan harinya menjadi hari yang indah untuk nuca. Nuca tidak masuk kerja hari itu. Ia mengajak adiknya ke toko perhiasan untuk membeli sebuah cincin .
Tidak dengan tiara ... hari itu menjadi hari yang seakan - akan ia menghindarinya. Ia masih belum menemukan jawaban apa yang terbaik baginya.
Siang hari di kantornya ia kembali menerima chat dari dr galih yang meminta untuk bertemu dengan tiara sepulang kerja pada sore hari.
" apa iya sih sepusing ini untuk memutuskan " gumam tiara.
Ia mondar mandir di depan meja kerjanya.
" assalamualaikum mutiara..." sapa nuca yang sudah ada di belakangnya.
Tiara : " waalaikumsalam ", " dah dari tadi ya pak?"
Nuca : " baru aja...kamu kenapa kayak orang bingung?"
Sikap tiara menjadikan nuca ragu untuk melamarnya hari ini. Nuca merasa jangan - jangan tiara sudah mengetahui rencananya dan ia bakal menolaknya.
Nuca : " kamu baik - baik saja kan? , kita jadi pergi nggak?
Tiara : " eh iya pak... maaf ya... aku nggak papa kok... iya jadi"
Nuca : " kerudung yang aku kasih ... kamu nggak suka??"
Tiara : " suka kok pak ". Tiara baru ingat kalo dia lupa memakainya. Untungnya masih ia tinggal di kantornya.
Tiara : " iya ini aku pakai "
Lalu tiara mengganti kerudungnya.
Nuca : " cantik " batin nuca.
" kamu nggak merasa terpaksa kan memakai kerudung itu?"
Tiara : " kenapa bapak bertanya seperti itu ??"
Keduanya saling menatap seolah - olah ingin saling menjelaskan sesuatu.
" maaf ya pak... sikapku bikin bapak berpikiran aneh - aneh" dalam hati tiara.
Nuca : " ok aku keluarin mobil dulu, nanti aku tunggu di depan ya"
Tiara mengangguk.
Nuca segera mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Sambil menunggu tiara yang belum keluar, ia memastikan mobilnya dalam kondisinya yang baik, supaya tidak merusak momentnya hari ini.
Tiba tiba dari belakang, seorang perempuan memeluk erat tubuhnya. Nuca pun menjadi kaget dibuatnya.
Tanpa diduga dan tanpa diketahui nuca, tiara sudah sampai di depan parkiran dan melihatnya. Pandangan tiara tidak hanya itu, setelah perempuan itu melepas tangannya dari pinggang nuca, gantian nuca yang mengusap - usap rambut dan mencubit pipinya.
Tiara yang menaruh harapan ke nuca, seketika patah dan tak dapat menahan air matanya. Ia kecewa dengan nuca yang selama ini ia anggap baik dan bisa menjaga diri ternyata bisa menyentuh sembarang perempuan entah itu pacarnya ato bukan tiara tidak mau memikirkannya lagi.
Pandangan tiara berubah menjadi kekecewaan meski ia coba menenangkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUTIARA DARI SURGA
Short StoryTentang seorang laki - laki yang ingin mengejar cita - citanya tetapi tidak sesuai keinginan ayahnya. Apakah ia mampu mewujudkan cita - citanya ataukah mengikuti permintaan ayahnya. Apa yang ia lakukan setelah bertemu dengan seorang wanita yang ia k...
