Mata coklat terang itu terbuka sedikit demi sedikit, kesadarannya belum terkumpul sempurna. Cahaya sinar matahari menyinari kamarnya, ia melirik jam dinding kamarnya.
06.10
"Nghh," ia mulai bangun dan mulai meregang kan otot ototnya.
Ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sekitar sepuluh menit ia sudah keluar dengan baju sekolahnya.
Ia Berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya, ia menatap dirinya didalam kaca itu. Berharap bayangan di kaca itu tersenyum sendiri tanpa ia tersenyum. Nggak nggak becanda, Itu serem!
Setelah selesai ia keluar dari kamar dan turun menuju ruang makan, disana sudah ada sang abang, Levin. Ia sedang memasak, sebenarnya hanya menggoreng telur saja.
Benar, Levin tak bisa memasak. Levin pernah masak nasi goreng sampai hitam. Ckckck, Dira hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Levin yang sedang memasak.
Ia memakai telenan yang dijadikan seperti tameng, sampai ia pernah memakai helm di kepalanya, mirip seperti anak anak jaman now kalo masak. Katanya si ia mengikuti cara di mbah google agar tak terciprat minyak panas.
"Eh bang, sampe kapan tu telenan jadi tameng hah?! Lo kira tu telenan tameng cCapten Amerika apa?!" Sewot Dira.
Levin menoleh sebentar "eh udah bangun tuan putri," ejek Levin.
"Biarin kali Ra, kan selain jadi tempat potong potong sayur, biar ni barang ada kegunaannya yang lain juga. biar berguna bagi nusa dan bangsa," lanjutnya.
"bacotanmu saya nikmati. gue cuma mikir bang gimana kalo Ava tau kelakuan gebetannya segila ini coba?" Sindir Dira.
"Jangan lah Ra, gila lo," protes Levin.
"Gimana ya ekspresi nya,"
"Lo gitu ya. gue ga restuin lo sama Rey mampus," ancam Levin.
"Lah, kok ke Rey si?"
"nih" Levin menaruh telur yang ia masak di piring lalu ia bawa ke meja makan.
"Iya, btw lo kemana si bang? Gue cariin ga ada," tanya Dira sambil melahap makanannnya.
"lo mah kebiasaan nyari di atas doang, gue di taman belakang bego,"
"jadi lo bang yang bawa gue ke atas? Seinget gue, gue tidur di ruang tamu," bingung Dira.
"Kagak, Rey noh gue ketemu pas dia balik dari kamar lo," jelas Levin.
"Wait wait,"
"JADI GUE DIGENDONG REY KE KAMAR GITU?!" lanjut Dira memekik.
Levin menutup telinganya seketika "eh goblok ga usah teriak teriak woy," kesal Levin.
"Hehehe maap," cengir Dira.
"Eh, tunggu gue kan tiduran di ruang tamu tanpa minum obat dulu. Jadi,"ucapan Dira mengantung.
"gue bisa tidur tanpa obat dong?! Tadi juga ga mimpi buruk pas bangun!!" pekik Dira lagi.
Levin hanya mengelus dadanya bersabar "berarti lo kecapekan tuh sampe gitu," ucap Levin.
"mungkin,"
"lain kali jangan sampe kecapekan, liat juga kondisi badan lo," tegas Levin.
"iya bawel, Udah lah bang gue berangkat, assalamualaikum," Dira pun keluar dari rumahnya dan bergegas berangkat ke sekolah dengan motornya.
Selama perjalan Dira masih berfikir, apakah benar dia tertidur karena kecapekan? Atau ada hal lain yang mendukung kondisi itu, jika ada hal apa itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
REYDIRA || TERBIT
Teen FictionBagaimana jadinya jika seorang gadis tomboy yang memiliki masa lalu kelam ini bertemu dengan seorang pria yang dingin seperti es batu? Semakin lama, rahasia serta kejadian masa lalu yang selama ini menyiksa gadis ini terbongkar. Satu satu pe...
