Harry pov
Aku tersenyum menatap wajah polos dan kelelahan itu di ponselku. Foto Sheryl yang diam diam kuambil tadi malam setelah percintaan kami yang begitu panas. Membuatnya bertekuk lutut hanya memerlukan penis yang besar, tidak begitu sulit. Aku memindahkan foto itu ke komputerku dan menjadikannya sebagai wallpaper utama. Ini membuatku terus mengingat wajah puas Sheryl tadi malam dan berhasil membuatku mengeras bahkan hanya memandang foto bugilnya saja.
Sheryl. Nama itu menghantuiku bahkan baru tadi malam kami bertemu. Aku patut bersyukur atas hutang Zayn yang begitu banyak hingga ia mau menjadikan adiknya sebagai jaminan. Tidak resmi, karena aku yang memintanya paksa. Aku begitu penasaran dengan rasa perawan kecil manis itu dan sebelumnya aku juga belum pernah bercinta dengan perawan. Ia perawan pertamaku dan beruntungnya bajingan seperti ku adalah aku laki laki pertamanya.
Terlalu serius aku memandangi foto Sheryl di ponselku hingga tidak sadar istriku tengah menelfonku. Aku berdecak sebal me-riject panggilannya namun beberapa detik setelahnya pintu kantorku terbuka lebar memunculkan Hannah dengan wajah sebalnya. "Sayang kenapa kau tidak mengangkat telfonku?"
Hannah datang buru buru mendekatiku namun aku menghentikannya dengan tegas. "Aku sedang sibuk. Sekarang pergi lah, Hannah."
"Sibuk ya?" Hannah tersenyum kecut menatapku. Ia memang wanita yang baik. Dia berhasil menjadi istri yang hampir sempurna jika ia bisa memiliki anak. Sayangnya ia tidak bisa. Pernikahan kami karena perjodohan dan aku hanya akan bahagia jika aku memiliki keturunan. Tidak peduli dengan siapapun aku memiliki keturunan, asal itu darah daging ku sendiri maka aku akan membahagiakan siapapun itu kelak. Aku hanya membutuhkan keturunan tapi Hannah tidak bisa memberikannya padaku. Itu alasan kenapa aku begitu membenci Hannah.
Tok tok
"Tuan Styles, maaf mengganggu waktu kalian tapi rapat akan dimulai tiga menit lagi." Jennifer sekretarisku masuk mengetuk pintu dan menatap kami berdua. Aku mengangguk mengerti membiarkan ia undur diri dan kembali berurusan dengan Hannah.
"Kau mendengarnya?" Tanyaku pada Hannah. Dengan santai aku merapikan dokumen yang akan aku presentasikan kali ini di depan client, meninggalkan Hannah yang mematung menatapku. "Pergilah Hannah. Aku tidak punya banyak waktu untukmu."
"Kau semalam tidak pulang ke rumah, kemana kau? Apa kau lembur? Dimana kau tidur? Aku mengkhawatirkan mu."
Mataku menatap tubuh Hannah, ekspresinya yang sudah berkaca-kaca menatapku. Aku berjalan mendekatinya dan memberikan tissue yang sudah ku tarik beberapa lembar. "Aku tidak menyukai air mata, Hannah. Kau tau persis itu. Jangan membuang tangisanmu untukku, dan ya. Aku lembur, aku menginap dimana pun itu kehendak ku. Jangan mengurusiku lagi."
"Tapi kau adalah suamiku. Kita sudah terikat dalam agama. Bagaimana bisa aku menghiraukanmu seperti kau menghiraukanku?" Bisiknya mulai menangis. Oh come on!
"Aku mengatakan ini padamu ribuan kali! Kau adalah wanita yang baik, tapi aku tetap menginginkan anak untuk masa tua ku Hannah! Dan aku tidak bisa mendapatkannya dari 'istriku' sendiri! Apa yang harus aku harapkan padamu? Jika aku bisa mendapatkan orang yang lebih baik darimu, maka bersiaplah kau menjadi janda di tahun ini."
Aku berlalu meninggalkan Hannah yang terkejut atas ucapanku. Dia meneriakiku, memanggil namaku berulang kali namun yang aku lakukan hanya berlalu meninggalkan dirinya meraung di dalam kantorku. Biarkan dia menerima apa yang sudah seharusnya ia terima. Aku tidak peduli jika ia mengadukannya pada ayah atau ibunya. Aku tidak peduli jika dia mengadukannya pada ayah dan ibuku, karena sejatinya ayah dan ibuku juga sama menginginkan cucu. Sedangkan wanita pilihan mereka tidak bisa memberikannya. Well, bukan salahku bukan?
