Part 14

1.2K 138 34
                                    

Happy Reading
...

Langit masuk ke ruang baca milik Humairah dengan membawa nampan berisi sop ayam dan segelas susu kurma.

"Mas ngapain ke sini?" tanya Humiarah.

"Ngantar ini. Saya baru selesai memasak makanan kesukaan kamu, sop ayam, dan juga susu kurma."

Langit berjalan mendekat, meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja.

"Kamu yang masak Mas?" tanya Humairah seperti tidak percaya.

"Iya, saya minta resepnya sama Ummi. Kata Ummi kamu sangat menyukai makanan ini, makanya saya bela-belain untuk mempelajari resepnya."

"Mau saya suapi?" tawarkan Langit.

"Itu makanannya aman kan untuk dimakan Mas?"

"Aman Humairah, kamu gak bakal sakit perut kok abis makan masakan saya, gini-gini saya itu punya bakat dalam hal masak-memasak."

"Yaudah, aku makan sendiri aja gak usah disuapin segala."

Humairah mendorong kursi rodanya untuk mendekat ke meja.

Humairah lalu mulai mencicipi sop ayam buatan Langit itu.

"Gimana?" tanya Langit.

"Enak," jawab Humairah singkat.

"Beneran enak?"

"Iya, kuahnya enak banget." Humairah memberikan penilaian dengan jujur.

"Syukurlah, kalau gitu makan yang banyak. Nanti kalau kamu mau dimasakkan lagi, tinggal bilang aja."

"Sebelum kecelakaan itu, Apa Mas juga sering masakin untuk aku?"

Pertanyaan Humairah itu cukup menohok untuk Langit, karena sebenarnya tidak banyak kesan baik yang bisa ia ceritakan kepada Humiarah tentang hubungan mereka. Gimana mau masakin untuk Humairah, kalau memakan masakan Humairah saja awal-awalnya Langit tidak mau, baru akhir-akhir ini saja Langit tidak menolak lagi untuk memakan hidangan yang selalu disiapkan Humairah setiap harinya.

"Kok diam Mas? Gak pernah ya?"

"Iya gak pernah Humairah," jawab Langit dengan jujur.

"Begitu ya Mas. Aku jadi kepengen cepat-cepat mengingat semuanya, mengingat apa saja yang sudah kita lalui berdua. Aku sebenarnya penasaran, apa Mas memang sudah semanis ini sejak dulu? atau justru Mas berubah menjadi semanis ini setelah aku mengalami kecelakaan?"

Lagi-lagi Langit merasa tertohok dengan pertanyaan Humairah itu.

"Iya, semoga kamu lekas bisa mengingat semuanya lagi." Langit mengusap puncuk kepala Humairah.

"Tapi satu hal yang harus kamu ketahui Humairah, apapun nanti yang kembali kamu ingat. Terlepas dengan apapun yang sudah kita alami bersama, satu hal yang harus kamu pahami dan kamu mengerti, saya adalah suami yang mencintai kamu tanpa batas. Usai menikah dengan kamu, saya akui saya tidak langsung bisa menyelami hati kamu dengan cepat. Tetapi setelah saya berhasil menyelami hati kamu hingga ke dasar, saya telah berjanji kepada diri saya sendiri kalau saya tidak akan menepi menuju daratan yang akan memisahkan kita, saya juga tidak berniat ataupun ingin mencoba menyelami hati yang lain selain hati kamu, Humairah. Kamu bisa pegang kata-kata saya ini."

Humairah dan Langit beradu pandang, mereka saling bertatap-tatapan dalam beberapa menit yang terasa panjang bagi keduanya.

"Ayo lanjut lagi makannya, Humairah. Keburu dingin nanti sopnya." Langit tersenyum hangat.

"Kalau begitu, dampingilah aku dengan sabar Mas untuk mendapatkan ingatan itu lagi."

"Pasti, dan kita akan melaluinya bersama."
...

Ada Cinta Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang