Emu Pulang

689 47 114
                                    

Hari masih pagi matahari belum menampakan sinarnya tapi sang nyonya rumah yang cantik itu sudah berkutat dengan dapurnya. Pekerjaan rutinnya sehari hari yang selalu dijalaninya dengan senang hati.

"Ohayou mama..." seorang pemuda muncul dipintu dapur.

'Ohayou sayang..." wanita cantik itu yang dipanggil anak anaknya mama karna dia sendiri yang memintanya sebab dia memang bukan asli jepang. Jadi tak begitu nyaman dengan panggilan itu.  Wanita itu tak menoleh sedikitpun. Asik dengan kesibukannya.

"Ma...papa menanggi mama tuh!" lanjut anak itu yang kini menghampiri mamanya yang sibuk menata piring dimeja makan.

"Ia, sebentar..." nyonya iwanaga ia biasa disapa mengikuti marga suaminya itu mengatur nampan yang akan dibawanya menemui suaminya.

"Taiga...kau bisa bantu mama kan? Semua sudah mama siapkan tinggal buatkan susu untuk adik adikmu. Bisakan? Kau tau papamu kalau sakit. Dia akan rewel dan gak akan biarin mama turun lagi bila sudah didekatnya."

"Siap ma..." taiga mengancungkan jempol. "Mama urus papa aja urusan sarapan serahkan pada taiga. Jangan lupa obat papa ma! Kalau masih belum berkurang juga kita terpaksa harus menyeret papa kerumah sakit mau tidak mau.." saran taiga. Anak kedua keluarga iwanaga ini meski seorang dokter yang punya jadwal padat tapi ia tak pernah mengabaikan  keluarganya. Baginya. Keluarga tetap momor satu.

Nyonya iwanaga menghela nafas panjang. "Kau tau bagaimana papa kalian itu! Dia lebih baik memberikan uangnya tuk keperluan dapur dan kebutuhan kedua adikmu daripada harus diberikan cuma cuma kerumah sakit. Mubazir katanya."

"Iya, mama benar! Tapi ini demi kesehatan papa juga.  Kesehatan papa adalah kebahagiaan bagi kita semua. Dan aku akan berusaha untuk itu..."

"Taiga..." nyonya iwanaga sekali lagi menghela nafas memperharikan putri bungsunya yang sudah berdiri disana mendengar pembicaraan mereka.

Amuchi pov.
"Papa sakit? Emang sudah biasa sih! Tapi sifat papa yang keras kepala itu yang bikin susah." aku menghela nafas memikirkannya. Ketika mataku bersirobok dengan mama cepat ku sapa dia.

"Ohayou mama, ohayou  taiga-ni..."

"Ohayou sayang..." serentak mama dan kak taiga menjawab.

"Kamu sudah siap sepagi ini sayang?" mama bertanya melirik seragamku yang sudah rapi.

"Ada piket kelas pagi ini ma..." aku menjawab seadanya.

"Oh..." mama manggut manggut. "Ya sudah mama kekamar dulu..." mama mengelus rambutku dan mengambil nampan yang tadi sudah disiapkannya berlalu menuju kamar papa dilantai atas. Ya rumah minimalis kami memiliki dua lantai. Dan kamar tidur mama papa, kamar ku dan kamar kak parad ada dilantai atas. Sementara kamar kak ryu dan kak taiga ada dilantai bawah.

Aku segera menduduki kursi makan yang didepanku sudah duduk manis kedua kakak ku yang lain. Kemudian mengambil jatah sarapan masing masing dan memakannya tampa suara. Suasana terlihat hening sampai terdengar bunyi ponsel kak taiga yang bergetar pertanda ada panggilan  masuk.

PIP...PIP...PIP

Kak taiga segera mengambil ponsel itu dan menekan tombol jawab.

"Moshi moshi...."

"Taiga nii, ini aku emu! Aku ada didepan rumah sekarang. Bisa bukakan pintunya nggak? Dingin banget nih..." terdengar suara memelas seberang.

Butterfly paper (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang