Entah apa yang terbuku didalam kalbu
Entah apa arti linangan airmata dipipi
Sukar untuk ditebak bila mulut selalu bisu hingga tak bisa dirungkai begitu saja
Rahasia yang selalu terpendam ituSetiap hati hanya bisa menduga
Tampa mampu merasa sebenar-benar perasaan sakit ini
Pengorbanan yang dilakukan untuk mendekapmu dalam rindu yang tak bertepi hanya bisa ditanggung hati yang sepi dan lemah ini....Apakah sudah terlambat? Apakah memang tak lagi ada harapan untuk bertahan demi sebuah kebahagiaan? Pemuda itu hanya memandang awan yang berarak indah dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Merasakan sedikit damai. Hanya sedikit. Karna memang sudah tidak ada harapan lagi untuk meraih mimpi terakhirnya. Mimpi yang selalu ingin diwujudkannya saat dirinya mulai mengenal indahnya dunia. Merasakan hangatnya kasih sayang. Ia hanya bisa pasrah dan berharap bila memang semua harus berakhir, maka akhirilah dengan indah. Tapi mungkinkah semua itu bisa terlaksana?
"Kau melamun lagi, Emu?" suara tegas itu menyadarkan pemuda itu Emu, dari lamunannya. Atau lebih tepatnya sebuah harapan yang mungkin hanyalah semu belaka. Ia menoleh, menatap sendu sang kakak yang mengganti infusnya.
"Ada yang kau inginkan sayang?" tanya Taiga lagi karna tak mendapat jawaban dari adiknya ini. Beberapa hari ini tubuh sang adik kembali lemah pasca drop kemarin.
Emu hanya menggeleng. Hatinya begitu sedih hingga tampa sadar airmata meleleh begitu saja dari matanya yang terpejam itu. Membuat Taiga agak terkesiap melihatnya.
"Kau kenapa Emu? Apakah ada yang sakit?" kata Taiga agak panik. Dengan tangan gemetar ia mengusap lelehan airmata dipipi pucat adiknya itu.
"Nisan...seharusnya aku memang tidak hadir dikeluarga ini. Aku membuat kesalahan besar hingga membuat semua orang-orang yang kusayang terluka. Aku...anak yang sangat merepotkan dan tidak tau terima kasih. Aku harusnya -"
"Kau bicara apa, otouto? Aku justru bersyukur kau hadir dikeluarga ini. Kau sama sekali merepotkan kami. Kami justru bersyukur karna kehadiranmu diantara keluarga kita membuat keluarga ini jadi lengkap. Kau adalah perpaduan yang unik dalam keluarga ini. Jadi jangan berpikir lagi bahwa kau menyusahkan. Kau adalah adikku dan salah satu bagian dalam keluarga ini." Taiga mengelus kening adiknya yang basah keringat itu.
"Kau harus kuat dan bertahan, Emu! Kau tidak boleh menyerah. Aku dan keluarga ini akan berusaha semaksimal mungkin membuat kau tetap bisq bertahan bersama kami. Kamisama...tolong berikan kekuatan untuk adikku ini!" doa Taiga dalam hatinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly paper (End)
FanfictionEmu : "Aku tidak mengerti, seberapa banyakpun perbedaan diantara kita, sebanyak apapun luka dan cobaan yang mengelilingi langkah kita, aku tetap tak bisa jauh darimu dan selalu ingin berada didekatmu." parad : "Akupun ingin kau tau, meski sayapku ak...