rela

233 29 8
                                    

Sebentuk senyuman memang seindah mawar. Namun durinya mampu melukai hati yang banyak berharap.
Seindah mawar masih tetap berduri tapi seindah senyum tak bisa sembunyikan luka.
Seperti itulah kehidupan, luka dan cinta akan selalu seiring sejalan tapi senyuman selalu bisa menyembunyikan semua kepahitan dan luka walau harus rela menahan sesak dan perih demi menyembunyikan sebuah kebenaran yang entah kapan akan terungkap.

"Aku tak bisa menyalahkan perbuatan anak itu. Mereka sudah bersama sejak kecil. Salahku juga yang tak slalu ada ketika putraku membutuhkan aku. Hanya Hiro yang selalu ada untuknya dan selalu siap siaga dalam kondisi apapun. Hiro bahkan rela mengorbankan masa remajanya hanya demi menjaga dan melindungi Emu. Sementara aku tak pernah bisa slalu ada disampingnya karna kesibukanku. Dan ternyata kedekatan itu membuahkan cinta diantara mereka berdua yang sama sekali tak kusadari." Gai terlihat amat menyesali kelalaiannya dalam mengawasi Emu.

"Seandainya saja aku punya sedikit waktu untuk memperhatikan Emu mungkin hal itu tidak akan terjadi. Aku terlalu mempercayai Hiro hingga akhirnya berakibat seperti ini." Gai menarik nafas. Penyesalan seakan tak lepas dari dirinya.

"Sudahlah Gai, semuannya sudah terjadi. Kita tidak lagi menyalahkan mereka. Yang perlu lakukan sekarang adalah Emu! Bagaimana membuat Emu kembali normal semula. Itu yang penting. Kita semua tentu tidak ingin kalau Emu terus terjebak dalam cinta yang tidak sehat itu kan?" Kuroto memandang keluarganya satu persatu.

"Apa kalian ada usul?"

"Hanya Asuna neesan! Emu niisan hanya bisa dekat dan manja dengan Asuna nee. Mungkin saja Asuna neesan bisa membantu untuk menyembuhkkan Emu niisan." Amuchi mencoba untuk memberi usul yang ia tahu pasti usulnya itu akan melukai hati kakak keempatnya. Tapi Amuchi tak punya usul laen karna cuma itu yang dia pandang pantas saat ini.

Serentak semua mata memandang kearah Parad yang menundukkan kepalanya. Perkataan adik bungsunya itu memang sedikit banyak telah menggores hatinya.

"Maukah kau, nak?" Kuroto menatap putra keempatnnya itu penuh harap.

"Ini sudah hampir dua minggu. Sekolah sudah berlansung senin lalu. Emu niisan selalu menolak untuk makan. Dan tubuhnya yang memang lemah itu jadi semakin lemah saja. Mau sampai kapan kita membiarkannya seperti itu? Apa kalian memang ingin membiarkannya mati sia-sia? Kalian memang tak punya hati..hiks!" Isakan  Amuchi membuat mereka semua menghela nafas lelah.Bagaimanapun juga mereka tak mau kehilangan Emu begitu saja, meski Hiro sudah memutuskan menuruti kemauan ayahnya untuk kembali ke Korea terlebih dulu demi menghindari masalah yang lebih besar lagi nantinya. Tapi Emu, sifat keras kepala anak itu membuat mereka semua tak berdaya. Emu lebih suka menyiksa dirinya bila keinginan tidak terpenuhi. Anak itu, jiwanya betul-betul sakit. Sakit lahir dan batinnya.

Butterfly paper (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang