Tak kala waktu telah bicara, hati tak lagi bisa menahan walau perih namun serasa tak berdaya hingga hanya kerelaanlah yang bisa diucap tuk sekeping hati yang terluka dan keengganan berpisah yang semakin kental.
Namun kupercaya kau akan kembali pulang sejauh apapun langkahmu pergi...sayonara!!...........................................................
Hiro masih terdiam ditempat tidur itu. Berbaring, menatap kosong plafon putih diatasnya. Sesekali manik matanya terpejam, tubuhnya menggeliat mencoba mencari kehangatan yang tersisa disana. Berlama-lama menghirup wangi Emu yang perlahan memudar.
Lama..... Bebrapa menit telah berlalu. Dia bahkan sudah tidak peduli jam berapa sekarang, tidak peduli jika waktu harus terus berjalan dan dia harus melanjutkan hidup. Tubuhnya perlahan bangkit, keluar dari kamar setelah memakai bajunya.
Crekk! Tap! Tap! Tap!
"Hiro Nisan!!" suara Nico yang tiba-tiba muncul didepannya tidak digubrisnya.
"Aku mencarimu kemana-mana~dan kau ternyata disini? Ugh-kita harus pergi sekarang-atau kita akan terlambat mengantar keberangkatan Emu. Appa, Okasan dan Otousan serta Amuchi dan Parad sudah pergi duluan. Kita men~HIRO!!" Taiga membentak ketika sadar Hiro sama sekali tidak meresponnya. Masih diam membisu ditempatnya. Taiga dan Nico menatapnya kesal.
"Nisan tidak pergi?" tanya Nico
Hening. Hiro masih belum membuka mulutnya.
"Kau mencintai adikku, bukan?" bentak Taiga. Hiro tertegun sesaat tapi ia kembali diam. Taiga kesal dengan tingkah dokter muda itu. Tapi ia menahan dirinya apalagi saat ia bertemu pandang dengan dokter muda itu~terlihat begitu menyedihkan.
"Hiro Ni....." Nico juga melihat itu tak percaya. Wajah Hiro tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Campur aduk. Dia terlihat....sedih? Kecewa? Marah? Taiga maupun Nico tidak bisa menemukan kata yang tepat.
Hancur....
Bukan berarti ketampanan seorang Hiro Kagami menghilang. Hanya saja....bak alasan-hidupnya sudah terenggut darinya, Hiro terlihat hancur. Seolah jika mereka menyentuhnya sedikit saja, dia bisa rusak berkeping-keping.
"Kau menyukainya-kau mencintai adikku!" lirih Taiga. Hiro menatap nanar mereka berdua.
"Kau mencintainya~KAU MENCINTAINYA BUKAN?! KENAPA NICHAN TIDAK PERGI MENEMUINYA?!!" tiba-tiba saja Nico membentak. Ia kesal melihat kakaknya tudak karuan begini-diam mematung bukan malah mengejarnya sebelum pergi.
"Jangan pergi!"
"Huh?!"
"Jangan pergi!" Hiro tersenyum lemah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly paper (End)
FanficEmu : "Aku tidak mengerti, seberapa banyakpun perbedaan diantara kita, sebanyak apapun luka dan cobaan yang mengelilingi langkah kita, aku tetap tak bisa jauh darimu dan selalu ingin berada didekatmu." parad : "Akupun ingin kau tau, meski sayapku ak...