Terlihat beberapa orang sibuk berlalu lalang membawa beberapa properti.
Hari ini semua orang yang berada di sekolah tempat Mega menimba ilmu terlihat ramai.
Ada yang sedang mendekor panggung, Memasang salon dan lain sebagainya.
Mega dan teman teman nya pun sibuk berlatih di atas panggung untuk menerima ijazah nanti.
Di sisi lain, Harish sedari tadi fokus memperhatikan Mega yang sedang sibuk mengatur barisan teman temannya.
Karena memang Harish selaku wali kelas sengaja memilih Mega untuk memimpin latihan.
Sudut bibir Harish terangkat, dia tersenyum geli melihat tingkah Mega yang sangat dewasa dihadapan teman temannya.
Padahal baru saja kemarin merajuk karna rani lebih memilih membelanya dari pada putrinya sendiri.
Otomatis hal itu membuat Harish kalang kabut menghadapai sikap gadis kecil itu.
Sampai saat ini pun sebenarnya gadis itu masih merajuk padanya.
Tapi dihadapan teman teman nya ia bersikap seolah tidak terjadi apa apa antara dia dan Harish.
Cukup lama Harish memperhatikan gerak gerik Mega sampai pada puncak dia harus naik ke panggung untuk memberikan masing masing wisudawan/wisudawati ijazah atau penghargaan.
Harish tersenyum sangat lebar saat Mega mulai menaiki panggung untuk menerima ijazah nya.
Mega hanya menatap Harish datar,
Setelah selesai menerima ijazah yang diberikan oleh Harish Mega mencium punggung tangan Harish sebagai tanda bakti kepada gurunya.
Tangan Harish yang bebas terulur mengelus puncak kepala gadis itu.
Mata Mega melebar seketika saat merasakan elusan di kepalanya.
Dia menatap Harish tajam setelah Mega menepis tangan Harish di kepalanya.
Harish hanya terkekeh geli melihat tatapan tajam Mega.
Setelah mega kembali terlihat wajah Harish yang kembali datar.
Aurel dan Nana yang melihat kejadian itu hanya tersenyum devil saat Mega kembali duduk di dekat mereka.
***
"Tolong panggilkan Mega Aprilia untuk segera keruangan saya." Perintah Harish pada salah satu murid yang lewat dan kebetulan itu nana.
"Baik pak."
Nana segera melenggang pergi dari hadapan kepala sekolahnya itu.
Nana jadi penasaran apa yang akan di lakukan Harish pada mega nanti.
Setelah Nana sudah berada di hadapan Mega yang berada di kantin, gadis itu segera menyuruh Mega untuk keruangan Harish.
"Ih gue males sumpah. Lo aja deh na yang nyamperin ke ruangannya."
"Ih Mega, sama calon suami sendiri harus nurut."
Mega yang mendengar perkataan Nana jadi merinding sendiri.
'calon suami katanya?'
"Gue males sumpah! Mending Lo aja deh yang kesana bilangin kalau gue udah balik duluan." Elak Mega.
"Eehhmm." Terdengar suar bariton yang mengintruksi ucapan Mega.
Mega memang tidak mendengar deheman dari Harish karena sibuk mengoceh.
Padahal Harish tepat di belakang nya.
Nana dan Aurel yang melihat kehadiran Harish di belakang Mega hanya menatap Mega dengan pandangan 'mampus Lo meg'
Mega yang melihat perubahan pada kedua wajah sahabatnya jadi ikut panik.
"kenapa sih?!." Mega bertanya heran pada kedua sahabatnya.
Harish yang merasa diabaikan mengeluarkan deheman untuk yang kedua kalinya.
"Ehm." Kali ini suaranya aga tinggi.
Mega yang sangat mengenali suara itu seketika menjadi tegang.
'duh, dia denger gue ngomong ga ya?'
Mega menoleh perlahan untuk memastikan apakah benar yang didengarnya tadi.
"Eh bapak, bapak ga kerja pak?." Tanya Mega dengan cengirannya.
Tanpa mengindahkan ucapan Mega, Harish segera menarik lengan Mega untuk segera mengikuti nya ke parkiran.
Setelah memastikan Mega duduk dengan benar di kursi penumpang.
Harish segera memutar untuk masuk ke kursi pengemudi dan segera menjalankan mobilnya.
"Pak, acara nya belum selesai!."
"Terus?."
"Saya kan masih ada gladi resik!."
"Ga usah ikut gladi resik,tampilan kamu sudah perfect tadi."
"Tapi ka-"
"Diam atau saya cium?." Potong Harish , dan itu sukses membuat bibir Mega cemberut.
"Saya sudah bilang kan?."
"Apa?." Alis Mega bertaut heran.
"Jangan sok imut, saya gemes bisa bahaya."
"Pak Harish!!!."
Harish tertawa mendengar teriakan Mega. Sepertinya akan menjadi hobi barunya membuat Mega malu seperti tadi.
"Liat tuh, muka kamu merah." Ucap Harish masih sambil menyetir.
Mega segera menutup kedua pipi nya setelah mendengar ucapan Harish.
Harish menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mega.
"Bapak jangan suka geleng kepala terus!." Tegur Mega saat melihat Harish menggelengkan kepalanya.
"Lah,suka suka saya dong. Kepala kepala saya. Kamu keberatan ?."
"YAH, sangat keberatan!!."
Harish menatap Mega bingung.
Mega yang mengerti tatapan bingung Harish langsung menjawab.
"Gelengan kepala bapak tuh, buat saya tersinggung."
"Tersinggung? Maksud kamu?."
"Bapa masih ga ngerti juga?."
Harish menggelengkan kepalanya.
"IQ aja tinggi, masalah kepekaan mah payah." Ejek Mega.
"Bapak tuh seakan mengejek semua kelakuan saya, padahal calon istri sendiri masih aja di ejek!."
Harish menginjak pedal rem mobil nya mendadak mendengar Mega menyebut dirinya calon istri.
"Pak pelan pelan bisa ga sih!!!. Untung di belakang mobil kita ga ada siapa siapa." Omel Mega.
Harish mengabaikan Omelan Mega, dia menatap Mega lekat lalu senyum nya mengembang.
Membuat Mega heran.
Tanpa aba aba Harish memeluk Mega erat. Mega yang tidak mengerti mengapa Harish sebahagia ini. hanya membalas pelukan Harish tanpa mengucapkan satu kata pun.
***
TBC
____________________________________Follow Ig : Ope.pey

KAMU SEDANG MEMBACA
✓THE HEAD MASTER
Romance"Dasar kepala sekolah gila, sinting, ga waras." Gerutu Mega pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Harish. "Kamu ngatain saya?."