Seorang gadis menatap dirinya dipantulan cermin.
Mata tajam yang dipertegas oleh eyeliner hitam. Juga bibir tipis kemerahan yang hari ini dipoles lip Matt berwarna nude.
Ia tersenyum puas melihat tampilannya. "Perfect."
Setelah selesai dengan urusannya. Ia bergegas turun menuju dapur untuk sarapan bersama.
"Cie yang mau wisuda, semangat amat." Ucap Rani yang melihat anak gadisnya sudah terlihat rapih mengenakan kebaya.
"Iya dong Bun." Jawab Mega tak kalah bersemangat.
"Oh iya Bun, hari ini bunda kan yang anter aku ke sekolah. Bukan pa Mamat?." Tanya Mega.
"Bukan bunda sayang, bunda ada urusan di kantor sebentar."
Wajah Mega kembali muram. Di hari yang bahagia nya ini bunda nya masih saja sibuk.
Rani yang melihat perubahan wajah pada putrinya itu tersenyum lembut.
"Terus yang nganter aku siapa dong? Masa sama pa Mamat lagi sih?! Hari ini aku wisuda loh Bun!! Masa bunda ga bisa libur sebentar dulu sih!!." Rengek Mega seperti biasa.
"Bunda pasti Dateng sayang, tapi aga telat. Ga apa apa kan?."
Mendengar jawaban bundanya mata Mega berbinar binar senang.
Mega mengangguk semangat saat bunda nya akan datang nanti di acara wisudanya.
Ga papa telat, yang penting bunda dateng.
"Terus kamu nanti ke sekolahnya sama Harish ya? 5 menit lagi kira kira dia sampe." Lanjut Rani.
"Ko sama pak Harish sih Bun!!."
"Lho kenapa emang? Dia kan calon suami kamu."
"Calon suami apaan, di lamar aja belom." Gerutu Mega pelan. Tapi masih bisa di dengar oleh Rani.
"Ohhh jadi kamu pengen buru buru dilamar?."
Mega yang terkejut ternyata Rani mendengar ucapan nya gelagapan sendiri.
"Duhh, bukan begitu Bun."
Melihat Mega yang salah tingkah seperti itu membuat Rani tertawa terbahak-bahak.
"Bun ihhhh!."
"Hahaha, iya iya maafin bunda. Lagian kamu kalau nyeletuk bisa aja."
"Permisi. Non anu den Harish sudah datang." BI Ijah datang memberi tahu.
"Suruh langsung masuk aja bi." Perintah Rani.
"Baik nyonya."
Duh, ko gue jadi deg degan gini sih. Keluh Mega dalam hati.
"Pagi Bun, Ega?."
Harish datang menghampiri Mega dan juga Rani yang berada di dapur.
Harish terpana melihat tampilan Mega saat ini. Cantik.
"Pak." Panggil Mega sambil melambai lambaikan tangannya di depan wajah Harish.
"Pak Harish!!" Sekali lagi Mega melakukan hal yang sama.
Tapi Harish masih menatap Mega lekat dari atas sampai bawah bahkan tanpa berkedip.
Pipi Mega merona ditatap oleh tatapan Harish yang seperti itu. Membuat dada Mega bergemuruh hebat.
"Harish. Dari tadi di panggil Mega tuh." Ucap Rani menyadarkan Harish.
"Eh iya." Harish menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Udah siap? Ayo." Kali ini tatapannya beralih ke Mega yang masih menatap kearahnya.
Mega yang terkejut mendapat panggilan mendadak hanya mengangguk patuh.
Lantas mereka berdua bersalaman dengan rani.
Sebelum pergi Harish menanyakan keberadaan om Susilo atau ayah Mega.
Rani hanya menjawab bahwa Susilo sedang dinas di luar kota jadi tidak bisa melihat Mega di wisuda.
Ayah nya Mega hanya meminta tolong kepada Harish agar saat nanti mega naik ke panggung tolong segera Vidio call beliau.
"Bun, Ega berangkat dulu. Jangan lupa Dateng lho Bun!." Sudah 10 X Mega mengucapkan hal yang sama kepada bunda nya.
"Iya Ega iyaa." Jawab bunda nya jengah dengan Mega.
Acara memang diadakan jam 10 pagi. Jadi wajar Mega masih bersantai santai saat ini.
***
Hanya memerlukan 20 menit untuk sampai ke sekolah Mega. Di tambah hari sudah cukup siang jadi jalanan sedikit lenggang.
Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dewan guru. Mega segera keluar dari mobil dan berjalan tergesa gesa untuk segera meninggalkan Harish.
Padahal Mega sedang memakai sepatu berhak tinggi. Tapi demi segera meninggalkan Alex Harish jadi berjalan terburu buru.
Harish yang melihat itu hanya memperhatikan Mega dari jauh Sampai tiba tiba.
"Awww." Keluh Mega, kakinya terkilir karena terlalu cepat berjalan.
Melihat itu Harish bergegas menghampiri Mega yang saat ini tengah terduduk memegangi tumit mata kakinya.
"Makanya jangan ceroboh." Kesal Harish sambil menggendong Mega ala bridal style untuk di bawa ke ruangannya.
Untung saat ini koridor terlihat lenggang, sepertinya seluruh siswa dan tamu undangan sudah berkumpul di aula.
Mendapat perlakuan yang tiba tiba, otomatis membuat Mega menggelayut kan tangan nya pada leher Harish.
"Jangan ceroboh lagi ya, saya ga mau anak kita nanti ceroboh kaya kamu."
"Pakkkk." Ucap Mega memukul dada bidang Harish pelan.
***
TBC
_________________________________
Follow Ig : ope.pey
KAMU SEDANG MEMBACA
✓THE HEAD MASTER
Romance"Dasar kepala sekolah gila, sinting, ga waras." Gerutu Mega pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Harish. "Kamu ngatain saya?."
