"Bun,ega masih SMA,belom lulus lagi.Bunda apaan sih mau jodoh jodohin Ega gitu.ega ga mau!!." Mega berusaha menahan emosi dan juga air mata nya yang hampir tumpah.
"Mega,Bunda sama papah ngelakuin ini buat kebaikan kamu juga." bujuk bunda lembut sambil mengelus kepala mega.
"Ega mau kuliah bun,ega mau kerja dulu,ega mau buat bunda sama papah bahagia dulu." bujuk Mega sekali lagi.
"Bunda sama papah udah bahagia ko kalau kamu mau Nerima perjodohan ini,lagian kalau untuk masalah kuliah, kamu kan bisa abis nikah.."
"Calon suami kamu juga udah setuju kalau kamu kuliah sesudah nikah." Lanjut bunda.
"Calon suami?." Tanya Mega sekali lagi,berusaha meyakinkan pendengaran nya yang sepertinya mulai kurang berfungsi.
"Iya,calon suami." Jawab bunda mega meyakinkan.
"Tapi bun-"
"Mega!sejak kapan papah mengajarkan kamu membantah orang tua seperti ini?!." Sela papahnya yang sedari tadi hanya diam.
"Buuuunn." rengek Mega kepada rani-bunda Mega.
Sepulang sekolah sore tadi, Mega menghadap kedua orang tua nya.sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan dan benar.
Mega terdiam,seperkian detik selanjutnya mega berlari masuk ke kamarnya tanpa memedulikan panggilan Rani yang meneriakinya.
Mega menangis,mega meratapi nasibnya.kenapa rasanya hidup ia sangat tidak adil? Kenapa di jaman yang sudah modern seperti ini dia harus di jodohkan? Bahkan mega belum lulus SMA. Pikirnya.
***
Mega terbangun keesokan harinya.dia termenung sebentar sebelum beranjak ke kamar mandi.rasanya malas sekali melakukan aktifitas apapun.
Mega mengingat kembali omongan orang tuanya bahwa dia akan di jodohkan,dadanya terasa sesak ketika mengingat hal itu.di usianya yang terbilang muda bahkan belum genap 20 tahun ia sudah terlibat dengan perjodohan.
Tanpa sadar air matanya turun,sekali lagi ia berkata dalam hati kenapa hidupnya tidak adil,kenapa hidupnya harus dikekang seperti ini?
Ia menggeram rendah,ah sial.kalau dia masih mau melamun seperti ini,bisa bisa ia terlambat datang ke sekolah.
Mega berjalan ke kamar mandi dengan gontai.tetapi, ketika dia baru saja melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi ponselnya berdering nyaring.
Unknown Number? Tanya mega dalam hati.tapi tetap mengangkatnya.
Siapa tau penting,pikirnya.
"Halo." Mega mengawali.
"Jangan sampai terlambat datang ke sekolah Mega Aprilia."
Tut Tut Tut.
Panggilan di matikan secara sepihak.
Mega mengangkat bahunya acuh,"bodo ah,ga penting juga" dan selanjutnya Mega melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
***
Sesampainya di kelas,Mega melipat kedua tangan nya di atas meja lalu membenamkan wajahnya.aurel hanya menatap Mega bingung.tidak biasanya Mega terlihat tidak bersemangat seperti ini.
"Meg,Lo kenapa sih?" Tanya aurel,
"Hay guys!." Sapa Nana heboh.
"Eh Mega kenapa?!." Tanya Nana tiba tiba,masih seheboh tadi.
"Hmm"
"Lo kenapa? Kay- YA AMPUN MEGA MATA LO-Mmppht"
Sontak,Mega langsung membekap mulut sahabatnya itu ketika suaranya melebihi berisiknya suara klakson supir angkot.
"Mata Lo kenapa?ko bisa merah gitu?." Ulang Aurel sambil berbisik setelah Mega melepaskan tangan nya dari mulut nana.
"Ga papa,cuma lagi sakit mata aja." Mega menjawab seadanya.
"Sakit mata apa nya?gue yakin,Lo abis nangis ya?."
"Apaann sih,sok tau!." Cibir Mega.
Lalu hening.
"Eh,rel.lo udah ngerjain tugas dari Bu Sinta belum?." Tanya mega lagi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mega,ga usah ngalihin pembicaraan.gue kenal Lo dari kita kecil.jadi Lo ga usah pura pura kuat,gue tau Lo lagi ada masalah kan?cerita sama gue,gue siap jadi tong sampah Lo kapan pun Lo mau." tawar Aurel tersenyum dan di angguki oleh Nana.
"Emang Lo sahabat terbaik gue rel,na gue jadi makin sayang,makin cinta sama kalian."
"Ewhhh."
"Idih,Najis sumpah."
Ucap Aurel dan Nana berbarengan.
Mega hanya terkekeh.ia berpikir sebelum menceritakan tentang perjodohannya.masalah nya ia malu,malu sekali rasanya jika ada yang tau tentang perjodohannya ini.
Tapi mereka berdua sahabat nya.
"Ega dijodohin." Akhirnya Mega memberitahu sebab ia menangis sampai mata bengkak seperti ini.
Aurel dan nana yang sudah lama mengenal Mega,hanya menghela nafas ketika Mega mulai menyebut dirinya dengan 'ega' karna mereka tau, jika Mega sudah menyebut dirinya seperti itu berarti memang ada masalah yang sangat serius.
"Yah terus kenapa kalau Lo dijodohin?."
"Ega ga mau,Ega takut." ucap mega langsung,matanya mulai berkaca-kaca jika mengingat hal itu.
"Syuttt,ga ah.mega yang gue kenal itu Mega yang kuat,Mega yang selalu senyum walaupun ada masalah ,bukan Mega yang cengek kaya gini," ucap Aurel,tangan nya terulur mengusap pundak mega bermaksud memberi energi kepada gadis itu.
"Emang siapa yang mau dijodohin sama Lo?."
Mega menggelengkan kepalanya.ia belum tau siapa lelaki uang akan dijodohkan oleh bunda dan papanya.
Aurel mengangguk mengerti, tapi tangisan Ega malah semakin sesenggukan.
Walaupun tidak ada suaranya tapi Aurel yakin itu tangis yang sakit.
"Syut, jangan nangis lagi yah,bentar lagi ada guru.kalau ga salah pelajaran kepsek baru loh,ga malu apa muka jelek kaya gini?." Lanjut Aurel sambil terkekeh.
Nana yang melihat itu hanya tersenyum.
Lantas kembali ke kursinya tanpa mengucapkan apa apa lagi.
"Selamat pagi anak-anak." Ucap seseorang sambil memasuki kelas.
"Tuh kan panjang umur,udah yah jangan nangis lagi,"
***
TBC
____________________________________
Hehe,aku update:)
Ig; ope.pey
KAMU SEDANG MEMBACA
✓THE HEAD MASTER
Roman d'amour"Dasar kepala sekolah gila, sinting, ga waras." Gerutu Mega pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Harish. "Kamu ngatain saya?."
