"Mega? Bagaimana, kamu menerima lamaran ini?." Tanya Susilo - ayah Harish kepada Mega.
Mega diam, ia menghela nafasnya sebentar lalu meyakinkan diri bahwa keputusan nya ini sudah benar.
"Ega terserah bunda sama ayah, karena kebahagiaan ayah Bunda kebahagiaan Ega juga." Tutur Mega pelan nyaris tak terdengar.
Rani tersenyum bangga kepada putri semata wayangnya.
Sementara ayahnya mengangguk mantap, menandakan bahwa Mega menerima lamaran ini.
Mega tersenyum melihat kelegaan yang kentara saat melihat kedua orang tua nya.
Tidak lama setelah itu, arah pembicaraan melesat menjadi kapan pernikahan di langsungkan.
"Ega terserah bunda sama ayah aja, karena Ega yakin bunda sama ayah tau yang terbaik buat Ega." Mega tersenyum di akhir kalimatnya. Jujur saat ini dada nya bergemuruh hebat.
Mega menggeliat tak nyaman saat menyadari tatapan Harish tak lepas darinya.
Tiba tiba saja Harish berdiri menghampiri bunda yang sedang mengobrol dengan mamahnya.
Ia membisikan sesuatu ke telinga ibunya lantas berjalan mendekat kearah rani.
Mega masih mempertahankan setiap gerak gerik yang dilakukan Harish, ia penasaran apa yang hendak Harish lakukan.
Cukup lama Harish berbicara dengan Rani, dan ditutupi oleh Rani yang mengangguk senang.
Harish segera menyalami punggung tangan Rani dan ibunya. Lantas segera menarik tangan Mega agar berdiri dan ikut dengannya. Mengabaikan dua sejoli yang sedang sibuk berdiskusi membicarakan tanggal yang pas.
Saat ini Mega sudah duduk manis di dalam mobil Harish, jujur saat ini Mega sangat lelah. Bagaimana tidak lelah?
Barusan pagi tadi ia di wisuda, sorenya Harish langsung mengajaknya membeli pakaian. dan malam nya?
kalian know what lah.
Rasanya tubuh Mega saat ini remuk seremuk remuknya.
Ia menatap sebentar ke arah Harish yang masih sibuk menyetir dan sepertinya tanpa ada niat mengajaknya berbicara.
Mega mencit sebentar, ia bingung hendak memulainya duluan atau tidak. Tapi rasa mengantuk nya lebih besar menguasainya.
"Jangan tidur, jangan tidur,jang.." semakin lama suara Mega semakin kecil, tubuh dan hatinya tidak bisa bekerja sama.
Akhirnya Mega tertidur dengan wajah menghadap ke jendela.
Di sisi lain, Harish keheranan karena tidak biasanya Mega diam seperti ini.
"Tumben anteng," kekeh Harish sambil melirik ke arah Mega.
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Mega sudah tertidur sejak 20 menit yang lalu.
Harish yang merasa di abaikan memberhentikan mobilnya di tepian jalan. Tapi Mega masih tetap pada posisi nya, mengahadap ke luar jendela.
Harish mendekatkan wajahnya pada wajah Mega. Ia tersenyum geli melihat Mega yang tertidur dengan damai.
Tangan Harish tergerak menyingkirkan anak rambut Mega yang menghalangi wajah damai gadisnya.
Dengan sangat perlahan ia mengecup puncak kepala Mega lembut.
Mega yang merasa ada pergerakan di wajahnya melenguh pelan.
"Uggh."
Harish menelan ludahnya, ada yang bergerak dibawah sana. Padahal hanya melihatnya tertidur damai seperti ini saja sudah mampu membuat gairah nya memuncak.
Harish mengusap wajah nya kasar.
"Ini tidak bisa dibiarkan,"
Dengan cepat Harish menjalankan mobilnya setelah kembali pada posisi semula.
Niatnya ingin mengajak Mega makan malam gagal. Karena Mega terlihat kelelahan.
Tapi tak apa, setidaknya ia sudah bisa membuat gadisnya nyaman kali ini.
***
TBC
______________________________________
Maaf kali ini pendek,
Happy reading
KAMU SEDANG MEMBACA
✓THE HEAD MASTER
Romance"Dasar kepala sekolah gila, sinting, ga waras." Gerutu Mega pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Harish. "Kamu ngatain saya?."
