DAFFODIL

2.8K 273 7
                                        

Aku baru saja kembali dari Amerika. Perkenalkan namaku Christian Aditama, Direktur Utama Perusahaan Aditama.

Baru-baru ini aku sedang bertugas di luar negeri, karena aku ingin bekerja sama dengan perusahaan di Amerika.

Perusahaanku bergerak di bidang arsitektur. Beberapa bulan lalu aku mendapatkan kabar dari Paul bahwa truk yang mengangkut furniture untuk perumahan elite yang kami bangun menabrak seorang mahasiswi hingga tak sadarkan diri. Entah siapa yang salah, tapi aku harus bertanggung jawab karena ini menyangkut nyawa manusia.

Tuuuuut ... tuuuuut ....

Ponselku berdering, kulihat nama Paul di sana.

"Halo," sapaku.

"Bos, kapan kau kembali?" tanyanya.

"Kau tak pernah sopan padaku, terkadang aku menyesal mengangkatmu menjadi wakil direktur," ucapku kesal.

"Hahahhaa, asal kau tahu Bos, wakilmu ini sudah membereskan semua masalah yang kau tinggalkan di sini," jawabnya.

"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanyaku.

"Kau belum bertemu dengannya, tapi kau langsung tertarik padanya?" goda Paul. Aku diam tak menjawab.

"Bos, jangan ngambek hahaha, dia sudah sadar setelah dua bulan koma. Sudah beraktifitas, tapi sayangnya ...." Paul menggantung ucapannya.

"Sayangnya apa?" tanyaku.

"Dia cacat, harus memakai kursi roda," lanjutnya.

"Bagaimana dengan kuliahnya?" tanyaku lagi.

"Dia berhenti, sekarang dia bekerja di toko bunga milik nenek si anak kecil yang dia selamatkan," jelas Paul.

Aku terdiam, merasa kasihan pada gadis itu.

"Ah iya, ngomong-ngomong soal bunga, aku menemukannya," lanjut Paul.

"Benarkah? Di mana?" tanyaku antusias.

"Ya di toko bunga itu, dia siap menghiasi ruanganmu tiap bulan dan juga aku mengajukan kontrak dengan toko bunga itu agar menjadi partner tetap perusahaan kita," ucap Paul.

"Baru kali ini kau bekerja dengan benar," pujiku.

"Aku tak tahu harus senang atau sedih kau memujiku demikian" jawabnya. Kami pun tertawa.

"Kau sudah di bandara?" tanya Paul.

"Iya, ini di ruang tunggu, sepertinya delay pesawatku," jawabku.

"Kabari aku terus, akan kujemput dirimu."

"Oke."

Paul adalah teman SMA dan kuliahku, dia selalu mengikutiku, dia bilang dia tak punya tujuan hidup. Makanya setelah aku bilang tujuan hidupku mendirikan perusahaan ini, dia tak segan-segan bergabung.

"Mau kufotokan bunganya?" ucap Paul tiba-tiba.

"Hmm," jawabku.

"Panggilan kepada para penumpang American Air tujuan Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia. Dimohon segera naik ke pesawat." Panggilan maskapai.

"Aku harus pergi," pamitku.

"Hati-hati, Bos." Dengan kalimat itu Paul menutup telepon.

Aku harus menempuh perjalanan lebih dari setengah hari di pesawat.
Aku pastikan aku akan tidur, aku sangat lelah.

Ting

Gambar diterima

From: Paul

Fat Concubine [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang