ME AFTER YOU

2.7K 285 5
                                        

I was so happy after meeting you

I was able to love you so much

Because you embraced and understood

My young and immature mind warmly

(Paul Kim – Me After You)


Maria POV

No Way! He look like Hu An. How?

"Maria, kenapa kau menangis? Ada yang sakit?" tanya Paul. Aku sendiri bahkan tak sadar air mataku menetes.

"Ah maaf, saya Maria, Maria Flora," ucapku memperkenalkan diri ke CEO dari Perusahaan Aditama itu.

"Christian Aditama," ucapnya sambil menerima uluran tanganku.

Ketika tangan kami berdua bertemu, hatiku semakin berdegup tak karuan. Rasanya sama, begitu familiar, begitu hangat.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau sangat familiar untukku," tanyanya.

Tunggu, dia tak ingat padaku? Tapi kenapa dia merasa familiar?

"Kurasa kalian belum pernah bertemu sebelumnya." Paul berpendapat.

"Ada apa kalian kemari? Seingatku Jo sudah mengirimkan bunga ke Perusahaan Aditama tadi pagi," tanyaku.

"Ah, ini. Bosku baru saja tiba dari Amerika. Ingin bertemu denganmu," jelas Paul.

"Aku sungguh menyesal hal itu terjadi padamu," ucap Cristian. Aku tersenyum.

"Itu kecelakaan, aku tak apa-apa sekarang. Terima kasih sudah membantu pengobatanku, Tuan Christian," ucapku.

"Tian," katanya.

"Huh?" tanyaku bingung.

"Panggil saja aku Tian, Christian terlalu panjang," jelasnya.

Tian.

Dadaku sesak mengucapkan nama itu. Apa yang kau pikirkan Maria? Dia bukan Hu An!
Aku mengutuk diri sendiri.

"Kalian ngobrollah di sini, akan kubuatkan minuman," ucap Rose.

Kami pun duduk di sofa, tentu saja aku tetap dengan kursi rodaku.

"Kau semakin handal memakai itu," komen Paul.

"Tentu saja, aku kuat dan mandiri," jawabku.

Kulirik Tian, mukanya sungguh masam. Dia marah? Atau kecewa karena aku cacat? Ah, apa yang aku pikirkan?

"Bagaimana dengan kuliahmu, kudengar kau mahasiswi?" tanya Tian. Aku tersenyum.

"Aku berhenti," jawabku singkat.

"Kenapa?" tanyanya sedikit terkejut.

"Aku tertinggal dua bulan dan dengan kondisiku sekarang aku akan susah menyusul," jelasku.

"Kau harus menggapai mimpimu." kali ini Paul yang berbicara.

"Menggapai mimpi bukan hanya bisa diraih di universitas. Aku suka di sini, tenang tanpa tekanan tugas," jawabku.

Paul terkekeh, tapi Tian sama sekali tak tersenyum.

Criiing—bunyi pintu toko terbuka.

"Mamaaaaaaaa!" teriak Evan.

"Di sini Nak!" Aku balas dengan teriakan juga karena ruang tamu ini tak terlihat dari depan.

Tap tap tap

Bunyi kaki Evan berlari.

"Ketemu!" ucapnya memelukku dari belakang kursi roda.

"Uh, bau acem," godaku.

Evan terkekeh. "Aku tadi lari-lari," jawabnya. Tak lama kemudian kulihat Jo masuk dengan tentengan pesananku.

"Oh ada tamu, sebentar aku letakkan ini dulu," kata Jo.

"Letakkan di kamar Jo dan pudingnya bisakah kau potong dan sajikan untuk kami," pintaku.

"Baik Putri." Itu adalah jawaban kesal Jo kalau aku memerintahnya.

"Dan kau anak tampan, ganti baju, cuci tangan setelah itu baru menyapa Paman Paul dan bosnya!" perintahku pada Evan.

"Siap!" teriak Evan sambil hormat.

"Kalian harmonis," komen Paul.

Aku terkekeh, tapi tidak dengan Tian, wajahnya semakin masam. Kenapa dengan orang ini?

Tian POV

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau sangat familiar untukku." Itu adalah kalimat yang aku ucapkan.

Dia sungguh terasa sangat familiar. Aku mengamatinya, aku suka suaranya, sikapnya, senyumnya, tawanya.

Cukup sedih ketika dia bilang tak ingin melanjutkan kuliah. Kecewa karena semangat untuk menuntut ilmunya sudah tak ada, tapi aku tak bisa menghakimi keputusannya, kalau menurutnya itu yang terbaik, ya mungkin memang yang terbaik.

Tak lama kemudian ada teriakan anak kecil memanggil 'mama'. Aku kira dia anak dari Rose. Tapi ....

"Di sini Nak!" teriak Maria menjawab anak tadi.

Tunggu, Dia sudah punya anak? Dia sudah menikah?

Belum sembuh dari syok sebelumnya, aku terkejut karena anak tadi berumur sekitar lima tahun. Paul bilang usia Maria 21 tahun, dia punya anak di usia 16 tahun? Tapi dia kuliah? Aku sungguh tak mengerti. Lalu ada lelaki yang menenteng sesuatu. Dia seumuran denganku ... ah tidak, mungkin lebih tua dariku. Dia suami Maria? Apa Maria dipaksa menikah? Jarak umur mereka terlalu jauh!

"Kalian harmonis," komen Paul yang dijawab tawa oleh Maria. Cukup, aku tak ingin di sini!

"Kita kembali ke kantor!" perintahku ke Paul.

"Eh, sekarang?" tanyanya.

Aku tak menjawab. Aku langsung berdiri dan berjalan keluar toko.

Kudengar Paul menjelaskan sesuatu pada Maria. Aku tak peduli, aku kesal. Sungguh kesal.

Ada apa denganku?

-Selamat Membaca-
#EditedVersion

Fat Concubine [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang