Maria Flora adalah gadis 21 tahun yang sedang menempuh pendidikannya di Universitas Ternama di Indonesia
Pada suatu hari dia menyelamatkan anak balita yang hampir tertabrak truk
Namun naas, nyawanya tak tertolong
'Aku sudah mati?' batinnya
Namun ken...
Hari ini, sesuai janjiku pada mama, kami akan datang membahas rencana pernikahan kami.
"Kalau Mama tak keberatan, kami ingin pernikahan dihadiri orang terdekat saja," ucap Maria.
"Aku setuju," jawabku.
"Tapi kami harus mengenalkanmu ke public," ucap papaku.
"Apa itu perlu?" tanyaku.
"Iya, biar semua tahu kau telah menikah," jawab mama.
Maria memandangku, aku tahu dia tak ingin menjadi pusat perhatian, tapi di sisi lain aku juga tak bisa membantah perintah mama.
"Baiklah, kita adakan resepsi, hanya kolega saja, tanpa media," tawarku pada mama
"Sure," jawab mama.
Persiapan dilakukan dengan cepat mengingat Maria tak ingin pernikahan mewah megah, jadi tak ada prewed atau semacamnya. Dia juga bukan orang yang pemilih dan mengatur, bukan juga orang yang pasrah semua pada Wedding Organizer (WO). Dia memberi masukan kira-kira apa yang kurang dan mendengarkan saran-saran dari WO.
"Capek?" tanyaku pada Maria.
"Banget," jawabnya.
"Cukup hari ini, udah selesai juga 'kan persiapannya," ucapku.
"Hmm, maafkan aku," kata Maria.
Aku terdiam, lalu berlutut di depannya. "Untuk apa minta maaf, hmm?" tanyaku sambil mengelus pipinya.
"Maaf karena aku tak suka perhatian orang lain ketika melihat kita menikah, sehingga semuanya jadi tertutup."
"Aku malah mengkhawatirkanmu, kau setuju rencana pesta resepsi, kau yakin tak apa-apa?"
"Aku tak mungkin menolak mama, Tian. Aku juga minta maaf kalau aku menolak adanya foto prewed."
"Jangan permasalahkan itu, yang penting kita sah di mata hukum dan agama," jawabku.
Hari Pernikahan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak kusangka hari ini tiba. Kini aku dan Maria resmi menjadi suami istri.
"Mamaaaaaaa, Papaaaa!" Evan berlari ke arah kami.
"Pelan-pelan, nanti jatuh," kata Maria.
"Baiklah kita ambil foto keluarga, ya!" perintah fotografer.